Duka Berbalut Tawa

Oleh : Ilman Mahbubillah

Setelah sekian kebahagiaan kita arungi bersama, kukira episode selanjutnya adalah menapaki jalan yang sama menuju selamanya. Kita pernah tertawa karena candaan sederhana di bawah langit yang seolah hanya disediakan untuk kita. Kita juga pernah bertukar cerita hingga larut malam bahkan fajar hampir tiba, seakan waktu sengaja untuk melambat supaya kita bisa sekedar mendengar sembari merencanakan bagaimana hidup selanjutnya.

Namun kenyataan punya cara sendiri untuk menguji keyakinan; sekumpulan rencana tentang bagaimana berbagi rasa dan cara saling menjaga, sirna oleh sedikit kesalahan yang membuat kebersamaan tak bisa lagi diwujudkan. Segala usaha yang kita lakukan setelahnya tak cukup kuat untuk membuat kita tetap berada di tempat yang sama. Kita berakhir pada satu jalan berbeda yang naasnya harus kita tempuh sendirian; bukam bergandengan.

Kukira menjadi saling paham dan memiliki pandangan yang meski tak selalu seragam sudah cukup untuk menahan berbagai kelam; pelipur bagi hati yang pernah mendendam, cahaya bagi cinta yang telah lama bersemayam. Perpisahan yang kau sampaikan tak lebih menjadi sayatan hati; tempat yang dulu tak pernah ingin kau lukai. Perpisahan yang kau sampaikan menjadi penanda awal episose paling menyakitkan berjudul kehilangan.

Apakah salah jika tetap memintamu untuk tetap bersama dan berusaha? Barangkali perpisahan bisa kita batalkan dengan saling percaya, barangkali luka bisa kita obati dengan saling berbesar hati, barangkali duka dapat sirna dengan doa yang kita sematkan pada sang pemilik cinta. Namun, aku takut kau terbebani; menanggung restu yang tak kunjung didapati, menanggung pilu dengan teguh pada ikatan janji. Pada akhirnya yang gagal kulakukan adalah meyakinkanmu untuk tetap di sini.

Kini yang bisa kurangkuh hanya kerelaan; rela terhadap segala ketentuan, rela pada apa yang sudah ditakdirkan. Meskipun aku tahu ada yang lebih digdaya sebagai pembatalnya, namun bagaimana jika hanya aku yang mengharapkannya? Sedang kau, sudah pasrah, bahkan lelah untuk sekedar kembali atau malah ikut bersama menerjangnya. Tapi kembali kutegaskan, aku tidak sepenuhnya menyerah, aku hanya sementara menutupi duka dengan balutan tawa, agar kau tak larut dalam derita; bahwa bahagiaku sudah kau bawa hampir semuanya.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp