![]() |
| cc0797d666e42bf1b7464c41964d91ad.jpg (673×976) (pinimg.com) |
Oleh: Syifaul Fajriyah
Tok tok tok…
Bergegas ayah pergi menuju pintu, seakan tau siapa yang akan
datang. Tanpa salam dan hanya panggilan untuk tuan rumah saja yang terdengar
dari balik pintu. Aneh bukan? Katanya muslim tapi hampir tidak pernah aku
melihat aktivitas kemuslimannya. Bahkan mengucap Assalamualaikum saja tidak
pernah sama sekali.
“Mana Nok Adel?” tanya Kakek berparas tampan kepada ayah
“Didalam eyang, silahkan masuk..” Jawab ayah
Sofa yang pagi tadi ku tata dengan rapih menjadi singgahan Eyang
Mada. Dengan wajah yang entah bagaimana aku menggambarkannya. Aneh dan membuat
bulu kuduk merinding. Aku yang semula hanya berdiri tegak diruang dapur,
tiba-tiba harus keluar menyapa tamu karena panggilan Ayah. Membosankan dan
memuakkan itulah ekspresi yang keluar dari wajahku. Berbeda dengan Bunda, walau
ia sangat membeci Kakek Muda ini. Bunda dengan senyumannya pun menyuguhi kopi
hitam kepada Tamu.
“Nok sini duduk samping Eyang..” Tangan yang tanpa
keriput itu menepuk-nepuk kursi di sampingnya..
Mataku seketika menatap Ayah dan Bunda. Mengisyaratkan aku menolak
tawarannya. Namun, mata melotot ayah membuat penolakan itu menjadi persetujuan.
Dengan restu ayah, aku pun menarik badanku yang tak mau beranjak ini ke sofa
yang ada di sebelah Eyang.
Percakapan kami awalnya baik-baik saja seperti pada umumnya.
Menanyai kabar, keadaan, dan ya hal-hal kecil. Hingga muncullah pertanyaan
usia, yang membuat wawancara setelah itu tidak baik-baik saja. Bahkan Bunda
yang awalnya masih bisa tersenyum, mulai menunjukkan wajah aslinya. Tapi ayah
yang mendengar itu malah gembira tiada terkira. Aku yang menjadi topik
perbincangan hanya bisa terdiam, menahan marah dan tangis. Kakek itu
mengatakan, akan menjadikanku Biyung Ancala Jaya pada usia 21 Tahun. Dan
sebelum menginjak usia tersebut, aku dilarang meninggalkan desa ini dan
menyukai orang lain.
Biyung Ancala Jaya adalah jabatan tertinggi di Desa Ancala setalah
Eyang Mada. Mungkin bisa dikiaskan sebagai istri dari ketua sesepuh. Ayah
memang bangga, tetapi Bunda murka. Senyumannya berubah menjadi amarah.
Bagaimana tidak, anak perempuan semata wayangnya harus menjadi istri dari pria
yang umurnya berjarak hampir 10 windu. Selain itu, bunda juga menginginkan aku
untuk bebas mengejar cita-cita.
“Maaf Eyang, bukan bermaksud membantah perkataan ketua sesepuh
desa ini. Tapi, apa eyang tidak memikirkannya dulu sebelum memutuskan? Anak
saya yang berumur 21 tahun harus menikahi pria paruh baya bahkan seperti
buyutnya sendiri. Maaf, tapi ini tidak benar.”
Dengan santainya, Kakek Muda itu hanya membalas dengan senyuman.
Sontak tangan ayah mulai meremas tangan bunda. Dan menggeretnya kedalam
ruangan. Aku yang semula duduk pun berdiri meninggalkan Eyang sendiri. Ayah
berniat mengunci bunda di kamarnya, tapi perkataanku membuatnya mengurungkan
niat. Dengan syarat, jaga perilaku dan ucapan. Keadaan semakin ricuh dan Ketua
Tetuah itu beranjak pulang. Ayah memutuskan untuk tidur di ruangan semedinya,
dengan ditemani sebongkah batu yang ia puja puja. Bunda tidur disampingku
dengan pelukan erat dan air mata yang coba ia sembunyikan. Aku yang masih
terjaga berpura-pura memejamkan mata.
Beberapa bulan berlalu..
Hari ini usiaku sudah menginjak 18 tahun. Masa sekolah menengah
akhir akan segera berlalu. Cerita semalam membuatku pupus semangat untuk
mengejar cita-cita. Menjadi seorang hakim adalah harapanku sejak dulu. Namun
sayang, karena nama inilah segalanya terhambat. Tepukan bunda menghentikan
lamunanku. Perempuan dengan hijab di kepalanya itu mulai duduk disampingku dan
mengajak ku berbicara empat mata. Ia mulai menanyai perihal mimpiku.
“Adel mau jadi hakim kan? Coba cerita sama Bunda, kalau jadi
hakim nanti kamu mau apa?”
Pertanyaan itu menimbulkan jawaban yang menggebu-gebu. Bunda memang
tidak tau bagaimana hakim bekerja. Sebab, bunda tidak pernah sekolah dan hanya
sibuk di ladang atas gunung. Visi dan misiku ketika menjadi seorang hakim mulai
ku lontarkan. Bahkan sempat nama Eyang Mada ku ulang-ulang. Bukan membahas semalam,
hanya ingin membalaskan apa yang telah ia perbuat melalui pandangan hukum.
Bunda adalah pendengar dan pemberi saran yang baik. Setelah panjang lebar
bercerita, Bunda memintaku untuk pergi merantau meraih mimpi.
Bersambung…
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







