Oleh : Erwin
Film horror adalah film yang telah lama menjadi hiburan yang mencerminkan ketakutan, kepercayaan, dan kegelapan dalam masyarakat. Salah satu elemen yang sering hadir dalam film horror adalah seorang pemuka agama (ustadz) . Mereka biasanya digambarkan sebagai ssosk yang bisa melawan kekuatan jahat, mengobati orang-orang yang kerasukan setan, korban santet maupun roh gentayangan. Namun dalam beberapa dekade terakhir, peran pemuka agama dalam beberapa film horror Indonesia semakin memudar dan bahkan kehilangan eksistensinya.
Saat kecil dulu, menonton film horror semenyeramkan apapun saat ustadznya sudah muncul maka semua bisa dilawan. Perannya selalu ditunggu ketika dalam keadaan genting dan akan muncul bak seorang pahlawan. Bandingakan dengan sekarang misalnya dalam film Pengabdi Setan 1(2017) dan Pengabdi Setan 2 (2022) Ustadz yang muncul dalam Film tersebut tidak lagi digambarkan sebagai sosok yang mampu melawan setan dan malah dibuat meninggal akibat bacokan tanpa perlawanan berarti. Peran pemuka agama justru digantikan oleh kepercayaan spiritual lain seperti anak indigo dalam film Danur (2017) yang mana pemeran utama memiliki spiritual sendiri dan menggeser peran seorang pemuka agama.
Selain pemuka agama, aspek-aspek agama juga sudah tidak berguna dan tidak memiliki eksistensi dalam film horror. Saat kecil dulu ketika si artis sedang ibadah atau zikir, maka setan akan menjauh. Tetapi dalam narasi film-film modern, hal itu sesuatu yang tidak berguna. Kita tentu ingat bagaimana film Kiblat (2024) yang di kritik keras sebab diaggap menistakan agama, dalam promosi, judul film dan trailer yang cenderung melecehkan gerakan sholat. Dalam film tersebut lagi sholat pun sampe di tekuk kebelakang oleh setan, berarti ibadah bukan apa-apa bagi setan. Dalam film lain seperti Makmun(2019), Pengabdi setan 2 (2022), dan Pemandi Jenazah (2024) Pemerannya sholat, setannya ikut jadi makmun. Sehingga sangat jelas ibadah tidak dianggap sesuatu yang berarti untuk melawan setan.
Berubahnya peran agama dalam film horor Indonesia juga bisa dilihat sebagai cerminan dari perubahan kepercayaan dan nilai-nilai dalam masyarakat. Kepercayaan terhadap kekuatan agama dalam menghadapi masalah supranatural mungkin tidak lagi sekuat dulu, seiring dengan meningkatnya pandangan sekuler dan modern dalam masyarakat. Horor dalam film-film terbaru lebih sering digambarkan sebagai sesuatu yang muncul dari dalam diri manusia atau dari masyarakat itu sendiri, bukan semata-mata dari kekuatan gaib yang bisa diatasi dengan ritual keagamaan.
Selain itu, semakin meningkatnya teknologi dan pengetahuan ilmiah mungkin juga berkontribusi terhadap pergeseran ini. Masyarakat kini lebih cenderung mencari penjelasan logis dan ilmiah daripada solusi spiritual, yang akhirnya tercermin dalam cara film horor Indonesia dibangun
Kesimpulannya peran agama yang dulu penting dalam film horor Indonesia kini semakin kehilangan eksistensinya di tengah perkembangan genre horor yang terus berubah. Peran mereka yang dulu sentral kini tergeser oleh karakter-karakter baru yang lebih relevan dengan narasi modern. Perubahan ini mencerminkan dinamika sosial dan kepercayaan yang terus berkembang di Indonesia, di mana film horor tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai cermin dari ketakutan dan harapan masyarakat. Dengan demikian, film horor Indonesia terus beradaptasi dan berkembang, menghadirkan bentuk-bentuk baru dari ketakutan yang lebih kompleks dan multidimensional.
Author
Nama Erwin, Asal Polewali Mandar Alumni Hukum Keluarga Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2019 Gendre tulisan suka membahas hal-hal kekinian atau yang lagi viral
View all posts








satu Respon
Sangat menarik , film² horor cenderung menjadi pembodohan publik dan membentuk mental penakut bagi masyarakat. Semgt nulisnya bg ewinkkk