Oleh Nabila Ika
Pagi itu di sebuah ruangan dengan ukuran 8×3 m sekitar jam tujuh pagi Hilda terbangun dari tidurnya, dia ingat kalau hari ini dia disambang oleh orang tuanya.
Hilda segera mandi dan siap siap. Caca yang melihat hilda rapi pun bertanya-tanya kepada Hilda. “Hilda mau kemanaaa?” ucap Caca. “aku mau disambang ca, kamu engga ta?” jawab Hilda.”Aku disambang hari ahad Hil, kalo gitu aku nyuci dulu yaa.” Terus caca.
Hilda pun segera turun ke kantor pengurus untuk menemui orang tua nya.
Sepuluh menit kemudian Hilda kembali ke kamar lagi dan mengajak caca untuk jalan jalan bersama keluarganya.
Hilda: “Caca aku mau jalan jalan ziarah kamu mau ikut ta?”.
Oca: “wah bole hil, anak anak yang lain gimana?”.
Hilda:” iya ayo man teman, manda ayoo”.
Manda:” ayoo hil aku mandi bentar yaa!”
Marda: “wah mau kemana hil, aku ngga diajak kah?”.
Hilda: “ayo mar kalo mau ikut!”
Marda: “khoir juga ya hill”.
Hilda: “iyaa ayoo khoir”.
Khoir: “tapi aku takut mabuk perjalanan hil”.
Marda: “udah santai, gabakal kok ayo mandi”.
Tiga puluh menit selanjutnya mereka pun segera turun ke kantor pengurus untuk izin.
Dan akhirnya mereka pun keluar dari pondok dan menemui hilda beserta keluarganya di parkiran yayasan.
Saat sampai di parkiran mereka mendapati keluarga hilda, dan mereka segera menyalaminya. Kemudian mereka pun naik mobil dan segera berangkat ke tujuan awal mereka.
Tujuan pertama mereka adalah Sunan Drajat, kemudian dilanjutkan ke Sunan Asmoro Kondi dan menikmati semilir angin di Sunan Maulana Ishaq.
Mereka makan bersama dan bermain air di pinggir laut paciran. Mereka terlihat sangat gembira dan bahagia.
Tak lama kemudian adzan ashar pun terdengar dari Masjid. Mereka kemudian segera solat ashar dan siap-siap untuk balik ke pondok.
Dalam perjalanan pulang Hilda masih belum puas dengan jalan jalan kali ini, kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri.
Di sana kami bersenang senang sambil menunggu waktu sholat maghrib. Mereka bermain gembira dan membeli jajanan sunan untuk dimakan di pondok nantinya.
Setelah itu ayah Hilda pun mengajak kami balik ke pondok karena sudah terlalu malam, dan besok kita masuk sekolah.
Kini Caca sadar kalau cerita ini terjadi pada tahun 2019, yang artinya cerita itu sudah 5 tahun lalu.
Cerita itu hanyalah sebuah bagian dari masa lalu, masa lalu dari kehidupan sebelum ini.
Masa di mana kita bisa bersenang-senang tanpa berpikir banyak tentang kehidupan. Tanpa memedulikan apa yang di luar jangkauan. Kini Caca, Hilda, Khoir, Marda, Manda sudah menjalani hidupnya masing-masing, kehidupan yang baru, teman yang baru, dan pengalaman yang baru.
Kita telah menjalani banyak fase dari masa-masa sekolah menengah. Dari yang awalnya kita berlima belas, berkurang satu persatu sampai tinggal empat orang. Ini hanyalah tentang kita, kita yang telah menjadi sejarah. Angkatan 2018 Sayyidah Maryam.







