Oleh: Binti Rohmatin Fahimatul Yusro
Gelar, melihat pada wikipedia, merupakan akhiran pada nama yang menandakan suatu penghormatan, jabatan, atau kualifikasi akademis. Kemudian substansi? Adalah suatu watak sebenarnya, dzat, unsur, atau inti. (KBBI). Mungkin banyak yang menginginkan untuk menyandang hal tersebut. Banyak yang berlomba-lomba untuk menerima hal itu. Apakah tidak diperbolehkan? Tentu saja diperbolehkan. Dalam prosesnya, seseorang melakukan pekerjaan mulia yaitu tholabul ‘ilmi. Modal yang ia kerahkan tentulah besar, berupa kecerdasan, kesabaran, dan tentunya waktu yang lama.
Akan tetapi, apakah gelar bisa selalu selaras dengan substansi? Dan, apakah substansi selalu bisa terlambangkan oleh gelar? Boleh dijawab sendiri. Seseorang dengan substansinya selalu membuat progress, kemajuan, tidak berhenti berpikir, tidak berhenti mencoba dan berkreasi mencipta gebrakan-gebrakan baru. Mereka mengerti jika tanda hidup ialah bergerak, yaitu selalu membuat perubahan-perubahan. Mereka tidak akan dikenai istilah “mati dalam kehidupan”.
Adapun seseorang dengan gelar, mereka mungkin dikenal dengan gelarnya. Akan tetapi, apakah gelar dapat menjamin substansi? Lagi-lagi, boleh dijawab sendiri. Seseorang dengan gelar, lazimnya harus mempertahankan substansinya. Lazimnya dalam diri mereka terlihat ‘tanda hidup’. Jika tidak? Bisa dipastikan jika yang tersisa dalam diri orang tersebut hanya gelarnya saja! Dan substansinya? Kembali pada titik awal ataupun nihil, kembali pada titik nol sebelum ia memperjuangkan gelarnya.
Di sini, kita paham jika yang harus kita utamakan ialah substansi kita. Mengenai hal ini, pikiran kitalah yang harus kita optimalkan. Jangan sampai kita berhenti menampilkan ‘tanda hidup’ dalam diri kita. Jadi, jangan pernah membiarkan substansi kita berakhir begitu saja. Ia harus bersifat kontinuita. Kalau kata Pak Nadiem, “Gelar tidak menjamin kompetensi, Kelulusan tidak menjamin kesiapan dalam berkarya, Akreditasi tidak menjamin mutu, Masuk kelas tidak menjamin belajar”.
Jleb ya? Hehe. Tapi benar-benar, The great things always started from inside, Dan, untuk selalu mempertahankan substansi, hal-hal dari dalam diri kita lah yang harus terus menerus kita evaluasi. Di dalamnya, kita perlu kontinuitas, terus menerus, istiqomah. Jika substansi terhenti? Sudah pasti, gelar yang bertengger tidak layak lagi.
