“Gunung yang Besar itu Bergerak? Aneh-aneh aja isi Al-Qur’an”

gunung bergerak

Gunung bergerak – 1400 tahun lalu, Al-Qur’an telah disempurnakan. Setelahnya tidak ada perubahan lafadz sedikitpun. Pada masa itu tidak ada teknologi seperti zaman sekarang, tidak ada satelit yang bisa mengawasi bentuk bumi, tidak ada orang yang bisa memetakan seluruh daratan. Gunung yang dianggap agung dan besar itu ternyata bergerak? siapa yang akan percaya?

Namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتَرَى الْجِبَا لَ تَحْسَبُهَا جَا مِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَا بِ ۗ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْۤ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۗ

 اِنَّهٗ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَفْعَلُوْنَ

Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. An-Naml 27: Ayat 88)

Dari perspektif manusia yang belum sama sekali mengenal teknologi, peta seluruh bumi pun tidak ada, benua Amerika saja mereka tidak tahu (?). Lalu bagaimana Al-Qur’an turun melalui seorang manusia mulia yang tinggal pada zaman itu dengan ayat diatas?

“Ah ga jelas nih” Ucap orang-orang yang tidak beriman zaman itu. Karena memang secara logika manusia zaman tersebut, pernyataan bahwa gunung raksasa yang mereka tahu itu tidak pernah bergerak dan hanya diam ditempatnya, ternyata bergerak sangatlah mustahil.

Namun semua itu berhasil dibuktikan secara pasti (bukan perkiraan) oleh manusia 13 abad kemudian. Teori tentang pergerakan gunung dan lempeng bumi pertama kali dikemukakan pada masyarakat modern oleh seorang ilmuwan asal Jerman bernama Alfred Wegener pada awal abad ke-20. Pada tahun 1912, Wegener menerbitkan buku berjudul “The Origin of Continents and Oceans” yang menjelaskan tentang teori pergeseran benua atau Continental Drift Theory.

Wegener berpendapat bahwa semua benua pada awalnya merupakan satu benua besar yang disebut “Pangaea” dan kemudian terpecah menjadi benua-benua yang terpisah saat ini. Wegener juga menunjukkan bahwa lempeng bumi bergerak dan terus berubah posisinya sepanjang waktu.

Teori pergeseran benua yang dikemukakan oleh Wegener sempat dipertanyakan dan diragukan oleh banyak ilmuwan pada masanya karena kurangnya bukti dan penjelasan yang memadai. Namun, pada tahun 1960-an dan 1970-an, para geolog dan geofisikawan berhasil mengumpulkan bukti-bukti yang kuat tentang pergerakan lempeng bumi dan menjelaskan secara lebih detail tentang proses pergerakan gunung.

Dalam proses pengumpulan bukti tersebut, para ilmuwan menggunakan teknologi modern seperti GPS dan pemetaan satelit, serta melakukan pengeboran dan pengambilan sampel batuan dan sedimentasi di dasar laut dan pegunungan untuk mempelajari struktur bumi. Melalui penelitian dan pengamatan ini, ilmuwan kini dapat menjelaskan secara detail tentang proses pergerakan gunung dan lempeng bumi.

Dan perlu diingat kembali, bahwa Al-Qur’an telah manjawab hal tersebut 13 Abad sebelum perdebatan manusia itu ada, maka pernyataan apalagi yang akan kita keluarkan untuk tidak percaya kepada ayat-ayat Al-Qur’an?

Gunung yang Bergerak: Perspektif Geologi Modern

Bila kita memandang gunung dari kejauhan, ia tampak kokoh, seolah berdiri diam selamanya. Namun, ilmu geologi modern justru menunjukkan hal yang berbeda: gunung sesungguhnya bergerak setiap waktu, meski gerakannya begitu lambat sehingga mata manusia tidak bisa merasakannya. Kebenaran ini terungkap melalui teori tektonik lempeng, yaitu pemahaman bahwa permukaan bumi terdiri dari potongan besar kerak (lempeng) yang mengapung di atas lapisan mantel. Gunung-gunung terbentuk di perbatasan lempeng, khususnya di zona tumbukan, sehingga ketika lempeng bergerak, gunung pun ikut terbawa. Dengan kata lain, gunung tidaklah berdiri sendiri, melainkan bagian dari kendaraan besar bernama lempeng bumi.

Data geologi yang diperoleh dari pengukuran GPS satelit menunjukkan bahwa lempeng tektonik bergerak rata-rata antara 2 hingga 10 sentimeter per tahun. Lempeng yang bergerak lambat, seperti Lempeng Eurasia, bergeser sekitar 0,7–1,4 cm/tahun, sedangkan lempeng yang lebih aktif seperti Lempeng Pasifik bisa melaju hingga 7–10 cm/tahun, bahkan di beberapa zona mencapai lebih dari 15 cm/tahun. Pergeseran ini memang tampak kecil, tetapi dalam skala ribuan hingga jutaan tahun, ia mampu menggeser benua, membuka samudra, dan menciptakan pegunungan raksasa. Contoh paling terkenal adalah Pegunungan Himalaya, hasil tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Data terbaru menunjukkan bahwa Himalaya masih terus bertumbuh dengan ketinggian Gunung Everest meningkat sekitar 4 cm per tahun, meskipun terkadang mengalami penyesuaian akibat gempa bumi besar.

Mengapa lempeng bisa bergerak? Para ilmuwan menjelaskan bahwa ada beberapa gaya utama yang bekerja. Yang paling dominan adalah slab pull, yaitu tarikan dari lempeng samudra yang lebih berat ketika menyusup ke dalam mantel, menarik sisanya seperti kain yang ditarik ke bawah. Selain itu, ada gaya ridge push, yakni dorongan dari material baru yang muncul di punggung tengah samudra dan mendorong lempeng bergerak menjauh. Dahulu, konveksi mantel dianggap sebagai penggerak utama, tetapi riset terbaru menunjukkan bahwa peran utamanya lebih kecil dibanding slab pull. Kombinasi gaya-gaya inilah yang menyebabkan seluruh kerak bumi, beserta gunung-gunung di atasnya, senantiasa bergerak dalam ritme lambat namun pasti.

Dengan demikian, gunung yang kita pandang diam sejatinya sedang ikut “mengembara” bersama lempeng tektonik. Walau kecepatannya hanya sebanding dengan pertumbuhan kuku manusia per tahun, akumulasi gerakan ini luar biasa jika dilihat dalam rentang geologi. Himalaya yang menjulang, Andes yang megah, atau deretan pegunungan di Indonesia semuanya menjadi saksi bahwa bumi ini adalah planet yang dinamis. Sains modern, lewat pengukuran presisi satelit, membuktikan bahwa tidak ada yang benar-benar statis di alam ini. Gunung hanyalah penumpang dalam perjalanan panjang kerak bumi, yang terus bergerak mengikuti hukum alam ciptaan Tuhan.

Oleh: Dzulfahmi

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp