HABITUAL MAHASISWA DALAM PERKULIAHAN

Oleh: Muhammad Hadiyan Ihkam

Satu dari banyak tempat belajar adalah perkuliahan. Memang benar
kecerdasan seseorang tidak bisa diukur melalui seberapa sukses kuliahnya
melainkan banyak hal yang membuat seseorang sukses dalam kehidupannya. Nilai A
dalam perkuliahan belum tentu mampu menghadapi masalah yang dihadapi dalam
masyarakat. Bahkan, misalnya seseorang kuliah jurusan bahasa dan sastra arab
dengan IPK 4 belum tentu dalam masyarakat kelak mampu menuntut umat untuk
menjadi lebih baik atau minimal bisa baca kitablah.
Pada hakekatnya di dunia ini hanya butuh ilmu yang bermanfaat.
Entah itu ilmu dunia seperti fisika, matematika, sosiologi maupun ilmu agama
seperti bahasa arab, fikih, dan hadist. Namun dalam realnya, masyarakat hanya
memandang lulusan pondok pesantren ataupun kampus yang berbasis Islam dianggap
mampu memecahkan masalah dalam kehidupan bermasyarakat khususnya masalah agama.
Seperti inilah beban yang harus ditanggung seorang lulusan terbaik dari
tempatnya belajar.
Dalam kitab-kitab karangan ulama terdahulu sempat membahas mengenai
kewajiban seorang murid kepada gurunya. Yang pertama dan utama adalah etika
sopan santun andhap ashor kepada sang Guru. Setinggi apapun ilmu
seseorang namun tidak memiliki adab yang mulia maka bisa dipastikan orang itu
tidak ada harganya di masyarakat. Contoh yang paling sederhana untuk
menunjukkan sikap andhap ashor  adalah datang kelas terlebih dahulu dan
menunggu guru dengan ikhlas.
Di era sekarang dalam lingkup mahasiswa ada yang namanya kontrak
kuliah. Pasti tau lah apa yang dimaksud kontrak kuliah. Salah satu isinya
adalah mengenai keterlambatan dosen. Secara formalitas iya hal itu binarkan
namun akan berbeda jika kita menyakapi hal itu dengan kacamata syariat.
Bagaimana tidak, mahasiswa boleh meninggalkan kelas jika dosen terlambat 15
menit. Mari kita pikir sejenak dosen mengajarkan ilmu kepada mahasiswanya di
mana ilmu tersebut dibutuhkan ketika menjadi seorang benar-benar mahasiswa.
Apa sih berat mahasiswa hanya menunggu dosen hingga dosen datang.
Toh wifi mudah diakses. Menunggu dosen sangatlah mudah dibandingkan dosen yang
lelah mengajar mahasiswa serta orang tua yang membiayai. Maka dari itu marilah
kita memuliakan dosen dengan sikap terbaik kita.

Pondok Pesantren Darunnun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp