Hai, Luka!

Hai luka - Prosa Puisi Karya Meisya Eva Natasya

Oleh : Meisya Eva Natasya

Hai, Luka… kau datang tanpa aba-aba, seolah tau kapan hati ini paling rapuh. Kadang aku bertanya, apakah kedatangamu untuk membuatku lebih kuat, atau hanya sekedar menguji kesabaranku yang tinggal sisa? Katanya, kau adalah guru paling jujur bagi jiwa, tapi mengapa setiap pelajaran darimu selalu diiringi air mata? Kau mengetuk dada dengan jemari, membuka luka lama yang kukira telah pulih dan hilang ditelan waktu.

Andai saja kau bisa menunggu. Datanglah nanti, saat aku sudah cukup tenang untuk menatapmu tanpa gemetar, saat tanganku sudah mampu menggenggam tanpa rasa takut akan kehilangan lagi. Sekarang belum waktunya. Langkahku masih goyah, nafasku masih pendek, dan malam masih menatapku tanpa belas kasihan. Aku belum siap menyambutmu dengan dada terbuka.

Tapi jika kau memang tak mau pergi, ajarilah aku cara untuk bisa berdamai denganmu. Ajarilah bagaimana caranya berdiri tanpa harus menolak sakit, bagaimana tetap bisa tersenyum meski di dada masih terasa karat yang belum terhapus. Ajarilah aku menerima bahwa mungkin, kau memang bagian dari perjalanan ini.

Tapi jika kau mulai mengerti, kau tidak benar-benar datang untuk menyakiti. Kau datang untuk mengingatkanku, bahwa manusia tak tumbuh dari tawa, melainkan dari luka yang pelan-pelan berubah menjadi doa. Bahwa dibalik setiap perih ada ruang kecil bagi kekuatan untuk lahir. Dan mungkin, di situlah akhirnya aku akan belajar mencintai hidup, meski masih berdampingan denganmu.

Hai, Luka…

 

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp