![]() |
sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/761389880741005743/
Oleh Alvian
Izzul Fikri
Malas rasanya untuk beranjak dari tempat tidurku yang nyaman ini ketika
sinar matahari mulai menampakkan dirinya lewat celah dari jendela kamarku yang
memaksaku untuk membuka kedua mata ini. Hawa dingin dan hujan gerimis membuat
kemalasanku semakin menjadi-jadi. Tetapi aku harus bangun dan harus memulai
hari senin ini dengan kuliah online, dan aku belum mengerjakan tugas membuat
makalah minggu kemarin, dimana tugas itu harus dikumpulkan sebelum jam 09.00.
Seperti
biasanya kubuka laptopku, buka whatsapp, youtube dan sportify dimana hal ini
adalah merupakan hal wajib yang harus aku lakukan sebelum mengerjakan apapun di atas
laptop. Ku berselancar di whatsapp lalu melihat hal trending di youtube dan
mendengarkan musik dari sportify.
Kumencoba dan
berusaha keras untuk menggerakkan jari-jariku untuk segera menulis tugas
makalah. Tapi alangkah sialnya aku pada hari ini, pisang goreng tingggal satu,
satu cangkir teh sudah habis tapi belum ada 1 huruf pun tertulis di atas
layar laptopku. Aku tak bisa menggerakkan tangan ini untuk mengetik, sudah
sekian lama aku tidak menjamah keyboard laptopku untuk menulis.
1 jam sudah aku
melewatinya dengan mengatakannya sebagai “cari inspirasi” untuk mencoba
memaklumi kelemahanku dalam hal tulis menulis. Walupun sebenarnya dalam 1 jam
itu aku tidak ngapa-ngapain hanya word yang sudah kubuka, tapi aku juga
memegang smartphone ku. Kekuatan smarthphone ternyata lebih kuat dari pada
kekuatan dari laptop.
Sekarang jam
08.00 tepat, aku mulai memaksakan diri untuk menjauhkan smartphoneku dari
jangkauanku, aku taruhnya di atas almariku. Kumulai memandangi laptop sembari
mencoba mengetik-ngetik kembali keybord yang sudah lama tak kujamah.
Pusing, mual
mulai terasa, aku baru teringat kemarin sore aku barusan makan rujak yang
pedas, diselingi dengan gorengan, tanpa menghiraukan kalau aku punya penyakit
mag, dimana ketika lambung ini bersentuhan dengan makanan yang pedas dan
minuman kopi, maka perut ini akan sakit. Aku memutuskan untuk pergi ke kamar
mandi dahulu untuk menuntaskan hajatku.
Setelah kembali
dari kamar mandi, badan terasa lebih ringan dan tubuh tersa lebih bugar. Aku
langsung duduk dan memulai untuk mengetik tugas untuk membuat makalah. Tak
disangka setelah perenungan yang tak begitu lama, di tempat yang hening, sunyi
aku pun mulai bisa mengggerakkan jari-jariku untuk menulis sebuah makalah pada
hari ini. Setengah jam waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Jam
menunjukkan pukul 08.44, aku segera mungkin untuk mengirim tugas makalahku ini.
Suasana hati
menjadi tenang, tak ada ketegangan lagi setelah aku mengumpulkan tugas tepat
waktu, tapi aku sering berpikir tentang hal yang sering terjadi yang aku
lakukan ketika ada tugas yang diberikan. Aku pernah mencoba beberapa kali
dengan memulai mengerjakan tugas itu langsung seketika tugas itu diberikan atau
malam harinya. Tapi tak tahu entah apa yang membuatku susah menggerakkan
jemariku ketika itu.
Pelajaran
Ekonomi di kelas 10 ketika SMA membuatku teringat tentang makna dari skala
prioritas. Skala prioritas, merupakan
hal yang wajib dilakukan oleh setiap orang untuk memudahkan kita dalam
bertindak dan sesuai dengan kebutuhan. Dengan memahami tentang skala prioritas
tentunya akan bisa membuat seseorang untuk memilih keputusan yang baik. Sebuah
pepatah mengatakan jika hidup adalah sebuah pilihan. Sehingga, dapat
disimpulkan bahwa pilihan yang diambil oleh seseorang merupakan sebuah
prioritas dari orang itu sendiri.
Tak berhenti
disitu dengan memahami skala prioritas kita akan mampu untuk fokus terhadap
pekerjaan. Karena, setelah menentukan apa yang harus didahulukan karena merasa
sangat penting, otomatis tidak ada waktu yang terbuang dalam mengerjakannya.
Terutama kepada hal yang harus diprioritaskan terlebih dahulu apalagi pekerjaan
tersebut bersifat darurat.
Semoga aja
dengan memberi pemahaman kepada diri sendiri tentang skala prioritas dalam
diri, ini bisa menjadi cambukan agar bisa menjadi insan yang lebih baik, kataku.







