Oleh: Zid-li Auliyana Luthfillah
Aku tinggal di pesantren yang berisi kurang dari dua puluh santri, dengan sedikitnya santri disana tidak membuat kami renggang, justru membuat kami erat dengan pertemanan karena kegiatan sehari-hari kami di pesantren selalu bertemu dan bersama.
Sebelum perpulangan berlangsung, Abi dan Umi, selaku pengasuh pesantren membuat program liburan ke pantai bersama santri-santrinya. Aku bersiap-siap mempacking barang mulai dari alat mandi, baju ganti, dan kebutuhan pribadi.
Aku dan teman-teman beserta Abi dan Umi menaiki elf, selama perjalanan berlangsung, aku mengobrol dengan teman sebelahku, Risya.
“Eh, aku nggak sabar banget sih, perpulangan sebentar lagi”, ucap Risya antusias kepadaku.
“Hehehe iya sama, tapi kita nikmati dulu aja liburan ke pantai saat ini”, timpalku.
“Oke, siap”, singkat Risya.
Banyaknya percakapan selama perjalanan, tak terasa tiba-tiba sudah sampai tujuan. Hamparan pasir luas beserta lompatan ombak biru, hilir semilir angin menusuk sejuk kulit, cahaya kuning di ujung langit sudah di depan mata.
“Masyaallah tabarakallah…”, takjub para santri tertegun melihat keindahan alam.
Kami berhamburan menuju pantai, mengangkat kedua tangan dan tersenyum lebar. Membeber tikar tipis di pinggir pantai, untuk tempat kami berkumpul bersama dan menaruh barang. Dengan tidak adanya handphone karena kami anak pesantren, tidak membuat kami menyesal tidak mengabadikan momen yang indah, justru momen yang indah inilah membuat kami kompak merasakan keindahan bersama.
Saling merangkul memanjang kesamping, berdiri memandangi ombak. Ujung rok basah terkena lambaian ombak berkali-kali. Waktu terus berjalan, saling bercerita sambil memakan makanan ringan diatas sehelai tikar tipis.
“Alhamdulillah bisa merasakan nikmat jalan-jalan gini setelah sekian lama di penjara”, canda salah seorang santri.
“Di penjara maksudnya?”, jawab santri lainnya.
“Penjara suci, pesantren maksudnya hahaha”.
“Hahahahahaha”, tawa santri ramai bersamaan.
“Ngomong-ngomong soal pantai, H- berapa nih perpulangan?”, tanya salah seorang santri membuat topik baru.
“Wah, berapa ya, hitungan jari seingatku”, jawab santri lainnya dengan antusias.
“H-5 nih!”, teriakku semangat.
“Hah?! Serius?”, Risya kaget bercampur senang.
“Iya, serius, sekarang aja udah tanggal berapa nih”, tekanku menyakinkan.
“Wahhh senang banget”, ucap Risya dengan wajah berseri-seri.
Obrolan cukup lama, memakan waktu berjam-jam, hingga waktu pulang tiba.
“Ayo anak-anak, silahkan bersiap-siap terlebih dahulu, beres-beres, ganti baju, kita persiapan pulang, setelah itu langsung masuk ke elf ya”, teriak Umi memperingatkan.
“Baik, Umi”, jawab para santri kompak.
Satu persatu para santri berhamburan, ada yang ke kamar mandi, ada pula yang masih di tempat untuk membereskan tikar dan sisa bungkus snack yang berceceran.
Risya masuk ke kamar mandi, bersih diri. Tak lupa ia melepas pembalut dan bergegas membersihkan pembalutnya, “Waduh, nggak ada air ini, airnya habis, gimana ini?”, ucap Risya kebingungan.
Setelah lama menunggu, air tak kunjung mengalir, langsung saja Risya menggulung pembalutnya dan meletakkan ke dalam kantong plastik yang diikatnya. Risya ingin melanjutnya bersih dirinya nanti ketika sudah sampai di pesantren.
Risya keluar kamar mandi dan menghampiri beberapa temannya yang sedang membereskan dan membersihkan tempat tikar yang tadi dibeber, membantu membersihkan tempat tersebut agar cepat selesai dan segera kembali ke pesantren dengan tepat waktu.
Para santri masuk ke elf, begitu juga aku lagi-lagi duduk bersebelahan dengan Risya. Setengah perjalanan berlangsung, Risya baru ingat sesuatu, “Oh iya, aku lupa pembalutku tadi ketinggalan di pantai”.
“Loh, tapi udah kamu bersihkan kan?”, tanyaku kaget.
“Belum, tadi nggak ada air. Makanya aku masukin ke kresek, niatnya mau aku bersihkan nanti waktu sudah sampai di pesantren”, jawab Risya panik.
Aku terdiam beberapa saat, “Ya sudah yang tenang ya, niatmu sudah benar tadi mau membersihkan dan tidak membuang sembarangan”, ucapku menenangkan Risya yang tampak panik.
Risya hanya mengangguk.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga di pesantren. Para santri bergegas keluar dari elf dan menuju kamar masing-masing. Ada yang beberes barang bawaan, ada yang langsung ke kamar mandi, ada pula yang langsung tidur, beristirahat karena saking lelahnya.
‘Tenggg… Tenggg… Tenggg…’ suara bel pesantren berbunyi, menandakan sholat berjamaah akan di mulai. Santri yang tidak berhalangan segera turun menuju aula untuk melaksanakan sholat, begitu pula giliran yang sedang tidak sholat, tetap turun menuju aula ketika sholat sudah selesai untuk melaksanakan dzikir bersama setelah sholat.
“Risya mana? Kok nggak ikut dzikir?”, tanya salah seorang santri yang tidak melihat keberadaan Risya.
“Tadi terakhir aku lihat tidur di kamar, kayanya kecapekan deh”, jawab santri lainnya.
Selepas dzikir, ada jam makan malam, namun Risya juga tak kunjung tampak.
“Risya mana? Ajak makan dong, kasihan belum makan tadi”, tanyaku kepada teman-teman.
“Kamar mandi kali, coba aku cek deh, kebetulan aku juga mau ke kamar mandi”, ucap Nina menawarkan diri.
“Ya sudah, cek sana”, ucapku mempersilahkan.
Nina berjalan tersebut menuju lantai tiga, ke kamar mandi sekaligus mengecek keberadaan Risya. Namun, semua pintu kamar mandi terbuka lebar, menandakan tidak ada seorangpun di dalam kamar mandi.
‘Kresek… kresek…’ suara berisik terdengar dari pojok jemuran lantai tiga.
‘Apa itu?’, gumam Nina penasaran.
Nina mendekat ke sumber suara, melihat gadis berambut sebahu sedang jongkok, “Risya? Itu kamu?”, tanya Nina lirih sambil mengeryitkan dahi.
Gadis tersebut menoleh sambil melotot dan tersenyum lebar.
“AAAAAAAAAAA….”, Nina teriak, kaget dengan sesuatu yang baru saja dilihatnya.
“Eh suara apa itu?”,
“Kaya suara Nina nggah sih?”,
“Eh iya, ada apa ya? Ayo samperin”,
Teriakan Nina membubarkan para santri yang tengah asik makan malam, berbondong-bondong kami menuju lantai tiga, sumber suara Nina berteriak.
“Kamu kenapa”, ucap teman Nina yang memeluk Nina dari belakang.
“Huhuhu… aku takut”, jawab Nina sambil menunjuk gadis tersebut.
Teman Nina menoleh ke arah yang di tunjuk Nina, “Astaghfirullahaladzim”.
Bagaimana tidak kaget, pasalnya gadis tersebut adalah Risya yang sedang bermain kotorannya sendiri dengan jari. Santri-santri yang lainpun juga ikut kaget dengan fenomena yang terjadi, rupanya Risya kesurupan.
“Kenapa ini kok bisa gini? Panggil Umi aja yuk”, ajakku panik kepada teman-teman.
“Iya ayo, sini temanin”, tawar seorang santri.
Aku dan temanku bergegas menuju rumah Abi dan Umi. Tok tok tok… “Assalamualaikum Umi”.
“Waalaikumsalam, ada apa nak kok panik gitu wajahnya?”, tanya Umi heran.
“Itu Umi, Risya kerasukan”, jawabku sedikit terengah-engah.
“Dimana? Antar Umi kesana nak”, pinta Umi.
Kami segera menuju ke pojok lantai tiga bersama Umi.
“Astaghfirullahaladzim”, Umi kaget melihat Risya dan segera menutup mata Risya dengan tangan. “Nak tolong bantu gotong Risya ke kamar mandi”.
Santri yang berada di lokasi membantu menggotong Risya ke kamar mandi, Risya berteriak, marah, meminta ingin dilepaskan dari gendongan teman-teman. Para santri membantu membersihkan tangan Risya yang penuh dengan kotoran. Setelah dibersihkan, Risya dipakaikan mukena dan dibawa menuju Abi untuk sembuhkan dari kerasukan.
…
Keesokan harinya, dari gerak gerik Risya sudah tidak tampak kerasukan, namun anehnya, sikap Risya menjadi pendiam dan individualis, tidak seperti biasanya yang ceria.
“Ris, makan yuk, kamu nggak lapar?”, tanyaku pada Risya khawatir.
Risya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Oh ya sudah, nanti kalo lapar bilang ya, dari kemarin kamu belum makan loh,”, ucapku menekankan kembali.
…
“Arrrghhhh… Pranggg…”, terdengar suara raungan dan pecahan kaca, membuyarkan fokus santri yang sedang berjamaah.
Selesai sholat, para santri berhamburan langsung menuju sumber suara. Nampaknya Risya sedang kerasukan, memecahkan gelas kaca dan dimakan lahap-lahap pecahan kaca tersebut sehingga membuat mulut Risya berlinang darah.
Tidak ada yang berani ke kamar kecuali Abi dan Umi, pintu kamar ditutup dan para santri menunggu diluar sambil mendoakan semoga Risya baik-baik saja.
Jin yang merasuki Risya berhasil di keluarkan, namun efeknya Risya terluka cukup serius dibagian wajah dan pencernaannya. Abi dan Umi menelpon orang tua Risya untuk mengabarkan kondisi anaknya. Risya dibawa pulang oleh ibunya keesokan harinya.
Berkuranglah suasana ramai kala itu, panik, sedih, takut bercampur menjadi satu. Risya yang terkenal dengan sifat periangnya, kini tak tampak lagi.
…
Tiga bulan berlalu, tiba-tiba Risya kembali ke pesantren. Saking lamanya tidak kembali, kami kira Risya boyong dan tidak kembali lagi ke pesantren. Melepas rindu, kami menyambut kedatangan Risya dengan ramah.
“Ya Allah Risya, setelah sekian lama akhirnya kamu kembali juga, aku kangeeennnn banget”,
“Iya ris, aku kira kamu boyong dari pesantren”,
Risya tidak menjawab, hanya membalas dengan senyuman kecil.
“Eh, jangan canggung gitu dong, meskipun kita udah lama nggak ketemu, tetaplah jadi Risya yang periang seperti dulu”, ucapku mengingatkan memori masa lalu yang telah dilewati bersama.
Meskipun Risya tak secerawak dahulu, teman-teman Risya tetap mengayomi Risya dengan baik, menawarkan apapun kebutuhan Risya. Kami berpikir bahwa Risya sedang masa adaptasi kembali karena sudah lama tidak bertemu, sehingga canggung melakukan sesuatu.
Hari demi hari berlalu, perilaku aneh Risya mulai terasa satu persatu oleh temannya. Risya anak yang periang, rapi, bersih, dan rajin. Namun, berkebalikan dengan Risya yang sekarang, Risya lebih individualis, suka menyendiri, bahkan kami tidak pernah melihat Risya mandi, jorok. Lemari Risya berantakan, amburadul.
Suatu ketika, Nina sedang piket menyapu kamar. Nina melihat Risya sedang memasukkan kepalanya ke dalam lemari dengan pintu lemari setengah tertutup.
“Ris, kamu ngapain? Boleh permisi sebentar nggak? Aku mau nyapu dulu”, izin Nina.
Risya tidak menggubris sama sekali perkataan Nina, sampai akhirnya Nina menepuk pundak Risya.
Risya terkaget dan menoleh ke Nina.
“AAAAAAAAA…”, Nina lebih kaget dan berteriak. Bagaimana tidak, mulut Risya berlumuran darah.
“Arrrgghhh…. rawwwrrr”, Risya menggeram keras.
Nina berlari sekencang mungkin menuju teman-teman yang sedang berkumpul di aula, “Teman-teman… hahh… huhh…”, memanggil teman-teman dengan napas terengah-engah.
“Eh kamu kenapa kok panik gitu? Nih, minum dulu, duduk sini”, tawarku pada Nina.
“Itu… Anu…Risya kesurupan”, jawab Nina panik.
“Hah?! Lagi? Ya sudah ayo panggil Abi dan Umi”, ucap kami para santri bersahut-sahutan.
Tok tok tok… “Assalamualaikum Abi, Umi”.
“Waalaikumsalam, ada apa nak?”, jawab Abi sambil membuka pintu.
“Risya kesurupan, Abi”,
“Oh iya, sebentar ya, Abi panggil Umi”, ucap Abi sambil berbalik badan.
Risya digotong ke aula, dengan sekuat tenaga teman-teman Risya menahan Risya yang berusaha menolak di bawa ke aula, memegang tangan Risya sampai ke aula. Risya di netralkan Abi dan Umi, kekuatannya sangat besar dan Risya kemudian pingsan.
Umi menelpon orang tua Risya, menyuruhnya segera ke pesantren, “Assalamualaikum, ibu”.
“Waalaikumsalam Umi, ada apa ya?”, jawab Ibu Risya sekaligus bertanya.
“Ini saya mau memberitahukan keadaan Risya, apakah Ibu bisa kesini?”, tanya Umi.
“Baik Umi, bisa”, jawab Ibu Risya mengiyakan dan beberapa jam kemudian, Ibu Risya datang dan langsung bersalaman kepada Umi.
“Jadi gini bu, sebenarnya apa yang terjadi?”, tanya Umi.
“Kenapa dengan Risya? Sakit lagi ya? Saya bisa bawa pulang sekarang kok, Umi”, jawab Umi khawatir.
Seolah sudah tahu sesuatu, Umi melarang Ibu Risya membawa pulang anaknya, “Jangan bu, kondisi Risya sangat mengkhawatirkan”.
“Nggak usah, Umi, Risya saya bawa pulang saja kalau merepotkan di pesantren”.
“Risya tidak merepotkan kok, bu. Saya hanya bertanya sebenarnya apa yang terjadi dengan Risya?”, Umi tetap bersikukuh bertanya keadaan Risya sebenarnya.
Karena Umi mendesak dengan pertanyaan terus menerus, akhirnya Ibu Risya buka suara juga. “Sebenarnya, Risya sudah meninggal sebulan yang lalu..”.
“Innalilahi wa inna ilaihi rojiun”, ucap kami semua lirih bersahut-sahutan.
“karena saya single parent dan Risya adalah anak satu-satunya, saya stres dan merasa kesepian. Akhirnya saya pergi ke dukun untuk menghidupkan anak saya. Risya harus diberi makanan khusus, setiap dua hari sekali harus diberi darah segar. Namun, uang saya habis jika harus membeli darah hampir setiap hari. Saya konsul ke dukun, dukun tersebut menyuruh saya mengembalikan Risya ke pesantren karena di pesantren banyak pembalut bekas menstruasi, disitulah Risya mendapatkan makanan”, jelas Ibu Risya panjang lebar.
“Astaghfirullahaladzim bu… ini musyrik loh, bu”, ucap Umi mengingatkan.
“Iya saya tau Umi, tapi kalau anak saya nggak ada, saya sama siapa? Suami saya sudah nggah ada dan Risya anak satu-satunya yang saya miliki”, jelas Ibu Risya.
“Iya bu saya paham, tapi ini bukan Risya bu, ini jin”, tegas Umi.
Ibu Risya terdiam, memandangi anaknya yang diam saja dari tadi.
“Bu, agar Risya tenang di alam sana, ikhlaskan saja bu, kasihan juga anaknya”, jelas Umi lembut.
Ibu Risya tetap memandangi anaknya lama, barulah dengan ucapan lirih Ibu Risya menjawab, “Baik, Umi, saya ikhlas mulai detik ini”.
Risya langsung memandang Ibunya, raut wajahnya berubah menjadi nenek-nenek, Risya terjatuh dari duduknya dan dinyatakan positif meninggal.
“Innalilahi wa inna ilaihi rojiun”, isak tangis santri, Umi, dan Ibu Risya bercampur. Kami kehilangan teman seperjuangan yang telah lama bersama kami.
Risya di mandikan dan di makamkan selayaknya umat islam. Kami selalu mendoakan Risya selepas sholat, semoga Risya tenang di alam sana.
Pelajaran yang dapat kita ambil terutama bagi kaum hawa, jangan pernah lupa untuk membersihkan pembalut sampai bersih baru di buang, karena darah tersebut adalah darah kotor dan para jin suka dengan hal tersebut.
Biodata penulis:
Hai, namaku Zid-li Auliyana, sejak kecil aku suka genre horor mulai dari novel, cerpen, film, apapun itu. Aku suka dengan hal mistis meskipun dipandang orang itu tidak masuk akal. Pada dasarnya aku suka menulis cerita tapi tidak pernah selesai huhuhu… aku selalu menulis kerangka-kerang cerita agar suatu saat aku tidak lupa dengan hal yang akan aku tulis.
Dari SMA sampai saat ini aku masih melanjutkan novel yang kubuat dengan judul “KLIMAKS” diambil dari kisah nyata. Entah kapan selesainya doakan saja ya ges, soalnya kerangkanya aja 80 lembar.
Saat ini aku sedang kuliah di UIN MALANG jurusan sastra, yah… sehari-hari berkecimpung dengan sastra. Hal itulah juga yang membuatku berkembang dalam karya-karya sastra seperti halnya membuat cerpen ini.








satu Respon
Ditunggu Novelnya kak😍