Hukum adalah Hukum

Oleh Yahdil Falakhi Alkhikam

Di sebuah kota kecil, berdiri sebuah pengadilan negeri yang sederhana. Gedungnya tidak megah, cat dindingnya mulai pudar, namun di dalamnya hukum tetap dijalankan. Di sana, seorang hakim bernama Pak Damar dikenal sebagai sosok yang tegas, lurus, dan berpegang teguh pada prinsip. Baginya, hukum adalah hukum, tidak bisa dipelintir hanya karena jabatan, uang, atau kedekatan.

Suatu hari, sidang digelar dengan perkara yang menarik perhatian masyarakat. Seorang pemuda bernama Raka duduk di kursi terdakwa. Ia dituduh melakukan pencurian sepeda motor. Bukti dan saksi sudah cukup kuat untuk menjeratnya, tetapi ada satu hal yang membuat suasana semakin rumit: Raka adalah anak dari seorang pejabat tinggi di kota itu.

Sejak awal persidangan, banyak tekanan datang kepada Pak Damar. Ada telepon dari orang-orang berpengaruh yang memintanya “membantu” agar Raka dibebaskan. Bahkan ada yang terang-terangan datang ke rumahnya, membawa bingkisan mahal sebagai bentuk “ucapan terima kasih.” Namun semua itu ditolak mentah-mentah.

“Maaf, hukum bukan untuk diperjualbelikan,” kata Pak Damar dengan tenang.

Hari persidangan terakhir tiba. Ruang sidang penuh sesak. Media, masyarakat, hingga aktivis hukum memenuhi ruangan. Semua menunggu putusan hakim. Raka duduk dengan wajah tegang, sementara ayahnya, pejabat itu, hanya bisa menunduk.

Pak Damar membuka sidang dengan suara lantang. Ia membacakan pertimbangan- pertimbangan hukum dengan teliti. Tidak ada satu pun bukti yang diabaikan. Tidak ada satu pun saksi yang ditutup-tutupi.

“Saudara terdakwa,” kata Pak Damar menatap Raka, “anda memang masih muda, anda anak seorang pejabat, tetapi di mata hukum semua orang sama. Kesalahan tetaplah kesalahan, kejahatan tetaplah kejahatan.”

Ruangan hening. Semua menahan napas.

“Dengan ini, pengadilan menjatuhkan vonis dua tahun penjara kepada terdakwa Raka, karena terbukti melakukan tindak pidana pencurian.”

Beberapa orang langsung berbisik, sebagian mengangguk, sebagian lain terkejut. Raka menunduk, menerima keputusan itu dengan wajah pucat. Ayahnya terlihat meneteskan air mata, entah karena malu atau karena lega bahwa hukum masih bisa berdiri tegak.

Setelah sidang ditutup, beberapa wartawan menghampiri Pak Damar. Salah satu dari mereka bertanya, “Pak Hakim, bukankah Anda khawatir keputusan ini akan membuat Anda bermusuhan dengan orang-orang berkuasa?”

Pak Damar tersenyum tipis. “Kalau hukum hanya berlaku untuk orang kecil, lalu apa arti keadilan? Hukum adalah hukum, dan keadilan harus ditegakkan, meski langit runtuh sekalipun.”

Berita itu segera menyebar. Banyak orang merasa bangga bahwa masih ada hakim yang berani menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Nama Pak Damar menjadi perbincangan, bukan karena ia mencari popularitas, tetapi karena sikapnya yang lurus.

Di rumahnya malam itu, Pak Damar duduk sendiri sambil menyeruput teh hangat. Ia sadar, keputusan itu mungkin akan membuat hidupnya semakin sulit. Tekanan dan ancaman bisa datang kapan saja. Tetapi ia juga tahu, bila ia menggadaikan integritasnya, maka dirinya tidak lebih baik dari orang-orang yang ia hukum.

Di kejauhan, terdengar azan Isya berkumandang. Pak Damar menatap langit malam sambil berbisik, “Keadilan tidak boleh berhenti, hukum tidak boleh tunduk pada kuasa. Selama aku diberi amanah, aku akan tetap tegak.”

Dan di kota kecil itu, masyarakat kembali percaya bahwa hukum bukan sekadar tulisan di atas kertas, melainkan pedang keadilan yang harus dijaga agar tetap tajam.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp