Nur Sholikhah
Suara sendok yang beradu dengan cangkir selalu terdengar di setiap pagi. Iya, setiap pagi. Seolah suara itu sudah menjadi alarm bagiku untuk segera melakukan aktivitas rutin, menyapu halaman, menyapu lantai rumah, dan menunggu matahari. Dan siapa lagi yang memasang alarm itu kalau bukan ibu. Ibu dengan gaya khasnya memulai pagi dengan secangkir kopi.
Tapi kopi itu tidak ia habiskan sendiri, ia bagikan campuran gula dan kopi itu kepadaku, adikku dan bapakku. Ya secangkir untuk empat orang. Bapak berkali-kali mengatakan bahwa kopi buatan ibu terlalu manis, menurutku iya juga sih. Ibu terlalu banyak bercengkrama dengan gula dalam secangkir kopinya.
“Ibu ini mesti kalau bikin kopi kemanisan. Gulanya ya mbok jangan dihabiskan dengan cepat,” gerutu bapak. Ibu biasanya tidak menimpali. Jadilah ocehan bapak angin lalu saja. Meskipun berkali-kali bapak mengatakan hal yang sama, tapi tetap saja rasa kopi buatan ibu tidak pernah berubah. Tetap manis dan hangat. Akupun tidak pernah tahu alasan ibu tetap melakukan hal itu. Meskipun sudah berulang kali bapak menegur, aku dan adikku pun terkadang ikut sedikit menggerutu. Tapi kami bertiga tetap menikmati kopi buatan ibu tanpa rasa ragu.
Kami bertiga tetap menghargai kopi buatannya. Terkadang kami sama-sama tertawa di hadapan secangkir air berwarna hitam itu, menertawakan gula dan kopi yang sudah terlanjur menyatu. Aku menggelengkan kepala, mengagumi ibu karena konsisten membuat kopi dengan rasa yang sama. Bapak pasrah, tak lagi banyak berkomentar perihal kuantitas gula.
Ibu, aku tahu dalam secangkir kopi itu kau tuangkan rasa kasih sayang yang tulus, tanpa pamrih, tanpa perlu dipuji.
Gula kuanggap sebagai pelampiasan cintamu yang begitu manis mewarnai hari-hari kami
Bapak, komentarmu pada ibu tak membuat rasa cintamu padanya luntur
Gula dan kopi kuanggap sebagai perpaduan cinta kalian yang senantiasa menjadi pemantik semangat di setiap pagi. Terima kasih atas ajaran cinta yang tak kan pernah kudapatkan di bangku sekolah. Terima kasih atas basuhan kasih sayang dan balutan ketenangan yang sudah kalian usahakan.







