
OLEH : CHAYDIR ILMA
Malam itu, langit di atas kota Arsenia dipenuhi cahaya ungu yang aneh. Bintang-
bintang seakan berlari, jatuh, lalu hilang ditelan kegelapan. Di tengah kota, seorang
pemuda bernama Arka berjalan sambil menenteng sebuah jam pasir tua yang
diwariskan kakeknya. Jam itu unik—pasirnya berkilau seperti pecahan cahaya bulan,
dan tak pernah habis meski dibalik berkali-kali.
Kakeknya pernah berkata, “Arka, jam ini bukan sekadar penunjuk waktu. Ia adalah
kunci. Gunakan hanya ketika kau benar-benar membutuhkannya.”
Arka tak pernah memahami maksud kata-kata itu, sampai malam itu.
Pertemuan Aneh
Saat ia melangkah di jalan yang sepi, tiba-tiba bayangan hitam muncul dari balik
gedung tua. Sosok itu tinggi, berjubah hitam, dengan mata menyala merah. Ia
menatap jam pasir di tangan Arka.
“Benda itu milik kami,” suara makhluk itu serak, seperti besi beradu. “Serahkan, atau
waktu di dunia ini berhenti selamanya.”
Arka mundur selangkah. “Apa maksudmu? Ini hanya jam pasir tua!”
Makhluk itu tertawa, suaranya bergema. “Itu adalah Jam Pasir Sang Penjaga Waktu.
Dengan itu, aku bisa menguasai setiap detik, membekukan siapa pun, dan memutar
ulang dunia sesuai kehendakku!”
Arka gemetar. Namun, entah dari mana datangnya, keberanian muncul dalam
dirinya. Ia menggenggam jam itu lebih erat.
Kekuatan Jam Pasir
Secara refleks, Arka membalik jam pasir tersebut. Ajaib, waktu di sekelilingnya
berhenti. Daun yang terjatuh membeku di udara, lampu lalu lintas terhenti di warna
kuning, bahkan makhluk berjubah hitam itu membeku di tempatnya.
Hanya Arka yang bisa bergerak. Ia terperangah. “Jadi ini maksud kakek…”
Namun pasir jam itu terus menetes, walau lambat. Saat butiran terakhir jatuh, waktu
kembali bergerak. Makhluk itu meraung marah, “Kau sudah mengaktifkannya! Itu
berarti kau calon Penjaga Waktu berikutnya!”
Arka tak mengerti. Tetapi ia sadar, jam ini bukan sekadar benda, melainkan
tanggung jawab besar.
Pengejaran
Makhluk hitam itu tak tinggal diam. Ia menggerakkan tangannya, dan puluhan
bayangan kecil muncul, berlari mengejar Arka. Pemuda itu panik, lari sekuat tenaga
melewati gang-gang sempit kota.
Ia bersembunyi di perpustakaan tua, tempat ia sering membaca sejak kecil. Di sana,
ia membuka catatan kakeknya yang tersimpan di rak rahasia. Tulisan itu berbunyi:
“Penjaga Waktu hanya ada satu setiap generasi. Ia dipilih oleh jam pasir. Tugasnya
menjaga keseimbangan waktu, melawan mereka yang ingin mempercepat atau
memperlambat dunia.”
Arka menutup buku itu dengan napas terengah. “Jadi… aku yang dipilih?”
Pertarungan
Bayangan hitam akhirnya menemukan Arka. Perpustakaan bergetar saat pintunya
dihancurkan. Makhluk itu melangkah masuk, menggeram. “Kau tak layak. Serahkan
jam itu, atau kau akan hilang bersama waktu.”
Arka berdiri dengan tubuh gemetar, namun matanya penuh tekad. Ia memegang jam
pasir, lalu berkata, “Kalau aku benar Penjaga Waktu, aku tak akan menyerah begitu
saja.”
Ia membalik jam itu lagi. Waktu berhenti. Namun kali ini, Arka merasakan sesuatu
berbeda: tubuhnya menyatu dengan aliran pasir. Ia bisa mengendalikan arah gerak
waktu. Ia mencoba memundurkan pasir sedikit—dan seketika makhluk hitam itu
kembali ke posisi semula, beberapa detik sebelum menerobos pintu.
Arka tersenyum tipis. “Jadi aku bisa memutar ulang waktu sesuka hati.”
Pertarungan pun dimulai. Arka memutar dan menghentikan waktu berulang kali
untuk menghindari serangan. Setiap kali makhluk itu maju, Arka membekukan
beberapa detik untuk mengatur langkah. Akhirnya, dengan keberanian yang
terkumpul, ia menjebak makhluk itu dalam lingkaran waktu yang tak berujung.
Makhluk itu meraung keras sebelum akhirnya lenyap, terperangkap dalam arus jam
pasir.
Kesadaran Baru
Hening menyelimuti perpustakaan. Arka menatap jam pasir yang kini berkilau lebih
terang. Ia tahu, hidupnya tak lagi sama. Ia bukan hanya pemuda biasa; ia adalah
Penjaga Waktu yang baru.
Ia mengingat pesan terakhir di catatan kakeknya: “Penjaga Waktu tidak pernah
dipilih karena kekuatan, melainkan karena hati. Gunakanlah setiap detik untuk
kebaikan, bukan keserakahan.”
Arka tersenyum samar. Ia keluar dari perpustakaan, menatap langit ungu yang
perlahan kembali normal. Bintang-bintang berhenti berlari, dunia kembali seperti
biasa.
Namun jauh di lubuk hatinya, Arka tahu ancaman tak akan berhenti di sini. Akan ada
lebih banyak makhluk yang mengincar jam pasir itu. Dan ia, mau tak mau, harus
siap.
Ia menggenggam erat jam pasir itu dan berbisik, “Kalau waktu memilihku, aku akan
menjaganya.”
Pondok Pesantren Darun Nun







