Oleh: Siti Fathimatuz Zahro’
Pernah ku bertanya pada seorang kakek tua lusuh
Penjual sandal japit keliling tak kenal waktu
Pantang pulang tanpa membawa uang
Sekali pun di rumah sebatang kara tanpa sanak saudara
Perantauan jauh tanah seberang berharap kemakmuran di tanah orang
“Adakah perjalanan jauh yang ingin kakek ceritakan pada ku?”
“Tampaknya kerutan dikening melambangkan beban kehidupan tak
berkurang”. Ujar ku…
Kakek tua lusuh mulai mengudarakan kisahnya…
Aku adalah pekebun tulen sayur mayur dari Barat
Sepanjang aku di Barat, Dewi Keberuntungan selalu berpihak pada ku
Panen raya selalu ku terima
Lahan ku tujuan pertama para saudagar kota
Uang berjuta-juta ku terima dan ku simpan di bawah dipan kayu rumah
Tersimpan rapi dan selalu ku ingat berapa jumlahnya
Aku tak punya brankas besi dengan angka-angka sandi
Namun sepeser pun tak pernah dicuri
Sepuluh tahun terakhir aku baru mengenal apa itu makna hidup
Separuh jiwa ku pergi bercengkerama dengan Tuhan
Anak-anak ku sudah pergi lebih dulu dengan kehidupan baru
Aku mulai belajar menanak nasi dan menyiapkan semuanya
Sepiring untuk ku dan sepiring untuk separuh jiwa ku
Kali saja dia lapar dan pulang sejenak
Sepuluh tahun aku menyajikan piring cantik
Tapi tak pernah terjamah
Lambat laun pendengaran ku mulai senyap
Pita suara ku semakin mengering
Bercengkerama hanya sekedar menyapa atau negosiasi dengan saudagar kaya
Perlahan semua sunyi dan sepi
Dalam bayangan ku, kata ‘kota’ itu ramai
Siapa tahu aku akan menemukan banyak suara disana
Tanah ku jual, uang ku dapat dan aku ke kota berharap sebuah keramaian
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







