KAU ENGGAN KOPIKU

Siti Fathimatuz Zahro’
Jika nyaman maka obrolan aman. Segelas kopi tak akan cukup merangkum setiap rangkaian katanya.
Pernahkah kita merasakan suatu kenyamanan berbincang dengan seseorang? Seolah topik pembicaraan mengalir dan bahkan sering kali keluar dari konteks pembahasan tapi tetap masih memiliki intensitas yang tinggi dalam menimpali satu sama lain. Bahasa tubuh, mimik wajah, intonasi, dan gelak tawa menambah romansa perbincangan yang semakin lama semakin menunjukkan keterikatan yang enggan untuk diakhiri atau bahkan memancing orang lain juga untuk bergabung didalamnya. Bukan lagi kosa kata remeh 5W1H yang hanya sekedar basa basi namun tumpahan emosi yang memaksa diluapkan hanya untuk sekedar dicecar ataupun dihujat karena berbedanya sisi bagaimana menghadapi suatu perasaan. Kisah romansa seolah kepingan video dokumenter antara aku dengan mu adalah bincang semu dua arah dengan perasaan sendu dimana aku awalnya akan menawarkan secangkir kopi namun malah disambut dengan intensitas intonasi suara yang rendah dan mimik wajah tanpa antusias. Disana ada perbedaan intensitas dimana keduanya memiliki perbedaan pembawaan. Perasaan syahdu yang ku tawarkan melalui cangkir panas tiba-tiba lenyap dengan rendahnya respon dan bahasa tubuh yang sangat jelas menunjukkan penolakan. Jika dilihat dari sambutan mu, mungkin saja kau sedang enggan untuk berbincang dan bisa jadi juga aku sebagai orang yang menawarkan secangkir akan memilih untuk pergi karena ku rasa kopi ku tak menarik lagi. Namun faktanya aku tetap berada disana menanyakan kabar mu, ada apa gerangan? Ada apa dengan sendu muu? Untuk mengorek apa yang sedang terjadi. Disinilah titik kenyamanan. Jika lawan bicara ku tak menaruh nyaman atau percaya tentu saja kamu tak akan mengatakan apa yang menjadikannya tidak ada gairah untuk menyambut kopi ku dan enggan menimpali tawaran dengan semestinya.

Gemerincing gelang kaki menari
Seperti seni kepang beralas tapak
Geladak gemeratak seiring terhentak
Lakon antagonis wajah bengis nian dramatis
Manipulasi menusuk sembilu
Aaahh…….
Tangis ku tergugu sendu
Para sutradara bermain layar
Perangkat kisah modern meraung dibayar
Ku sodor kopi secangkir
Pahitnya semanis gula pasir
Bagaimana?
Masih enggan atau bertahan?
Tenang…
Ku tunggu di penghujung jalan
Katanya ada warung kopi disana
Sejenak saja…
Siapa tau kamu suka

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp