Oleh:
Kholidatun Nur Wahidiyah
Sebagian
orang menganggap bahwa keluarga menduduki tingkat teratas dalam
kehidupannya.Ya, bagi mereka yang berhasil mendapatkan kenyamanan dalam lingkup
kekeluargaannya.
Berbeda
halnya dengan mereka yang menganggap bahwa teman adalah segalanya dalam
kehidupan. Dia teman, sebagai wadah yang menampung tentang cerita lika-liku
hidup yang melahirkan kalimat “Redupku Redupmu juga”.
Merasa
keluargalah yang membuat hidup nyamannya menjadi beban terberat.
Mengundang
nalar optimis menjadi pesimis.
Terlebih
dengan adanya problematika merentang lintang pukang.
Banyak
orang beragumen: “Pertama kali yang kenal di kehidupan ini kan keluarga?
Terutama Ibu, sosok orang yang melahirkan kita dengan jerih payah melawan rasa
sakit beresiko kematian juga”.
Stop!!
Semua orang tahu itu.
Terkhusus
orang dewasa yang sudah bisa menelaah semua kejadian yang mereka alami.
Sejatinya,
posisi teman dan keluarga itu berbeda. Di mana diri kitalah sebagai aktor yang bermain
dalam lingkupnya.
Jadi,
mainkan pikiran dan hati kalian sebaik mungkin dalam menelaah hidup yang tak
jauh dari prioritas keluarga dan teman.
Masjid
Baiturrahman, 25 September 2020
