KENANGAN HUJAN YANG TERSIMPAN

Karya
: suci rezkika
Mendung
terihat membendung tebal di bagian timur, cuaca memang sedang tidak bersahabat
sore itu. Jika keadaannya seperti itu, dapat dipastikan akan turun hujan di daerah
Praya dan sekitarnya. Dan keberuntungan sedang tidak memihak
kepadaku.Perlengkapan hujan lupa kusiapkan ketika hendak berangkat dari
kos-kosan.Aku terburu-buru karena tidak sabar ingin pulang kampung setelah satu
bulan lamanya. Aku tahu ibu dan anggota keluarga yang lain khawatir, namun
apalah daya kondisi tidak memungkinkan untuk pulang. Dengan kecepatan 30 km/jam,
ku ikuti jalan Pejanggik sambil menemukan cara bagaimana mengatasi masalahku.

Sampai
dipertigaan Biao, setetes demi setetes air hujan terjatuh ringan. “oh tidak,
sudah mulai gerimis”. Ujarku dalam hati. Ahirnya aku memutusakan untuk berteduh
di depan sekolah megah berlantai dua bertuliskan ahlan wa sahlan di gerbang
utamanya. Kuparkirkan sepeda motor bututku di dekat lobi.

Suasana
yang tidak asing lagi bagiku, setelah tiga tahun lamanya menuntutnilmu disana,
dan tidak terasa tiga tahun  sudah
berlalu setelah hari kelulusan di MAN 1 PRAYA. Terlihat sebagian besar siswa
dan siswi yang sedang ada kegiatan.Mungkin mereka melihatku tampak asing, namun
kuhiraukan, karena mereka tidak tahu aku juga pernah menjadi bagian dari
sekolah megah itu.Aku berjalan ke arah timur di gedung lantai pertama, melewati
ruang lab. Computer, dan ahirnya aku sampai di depan kelas. Kotak persegi
panjang ukuran kecilnmasih berada di depan pintu bertuliskan XII.

Agama.Pikirku
sejenak berhenti, aku merasakan ada sesuatu terjadi, tapi entah aku belum
menemukan hal itu.Ku ayun langkah kaki memasuki ruang kelas itu.Aku duduk
disalah satu bangku dan menja yang berderet rapi tepat dimana aku duduk tiga
tahun yang lalu. Terlihat gorden biru menari ria dan kurasakan sayup angin
memasuki ruangan itu melalui jendela yang terbuka. “ooh… kelasku”. Hati kecilku
berakata lirih.Disinilah semuanya pernah terjadi, suasan dami, tenang hingga
yang paling ricuh.Teringat  panggilan
‘Ukhty’ saat-saat saling memanggil dan bertegur sapa dengan saudari perempuan,
dan panggilan ‘Akhy’ untuk saudara yang laki-laki.

Suasana
itu menghanyutkanku, dan membawaku lagi ke kenangan tiga tahun yang
lalu.Sungguh indah masa itu, tidak ada lagi masa yang paling indah selain masa
putih abu-abu.Itulah salah satu penggalan kata yang tidak asing kudengar dan
sangat tren hingga masa sekarang ini.Suara hujan terdengar dari arah luar
ruangan.Sontak aku teringat bahwa aku sedang bernostalgia di kelas tercintaku
itu.

Aku
terbangun dari tempat duduk, aku melangkah keluar dan berniat menikmati suasana
hujan di depan kelas. Kulihat buih hujan yang menetes begitu deras, seakan dia
berbicara dan mengajakku untuk bermain.Kuajungkan tangan dan kurasakan dingin hujan
disertai sayupan angina membelai wajahku.Peristiwa seperti itu membawaku
kesuatu peristiwa yang tidak bisa kulupakan. Saat itu, keadannnya sama, hujan
turun begitu bersemangat di waktu jam pulang sekolah. ‘Ukhty…’ suara itu
tedengar memanggilku dari arah samping kanan.Ketika aku berbalik arah, sosok
laki-laki sudah berdiri di dekatku. Muhammad Mustafa, dia adalah siswa paling
disegani di sekolahku karena akhlaknya. Akhy Mustafa panggilan akrabnya. “tyang
akhy” jawabku kaku. “sepertinya ukhty sangat menikmati turunnya hujan” ujarnya
sopan dengan senyuman khas ala Muhammad Mustafa.

Ada
ciri khas tersendiri pada senyumannya itu. “nggih akhy, menikmati segala
suasana saat ini, maklumlah sebentar lagi kita kan mau lulus” jawabku. “mmm…
iya iya, tidak terasa ya ukh, sebentar lagi kita akan bergelar alumni dari
sekolah ini insya allah”. Kubalas dengan senyuman ucapannya itu.Berbagai macam
percakapan terjadi saat itu.Hingga ada suatu pengakuan yang terlontar dari
kata-katanya. “ukhty… afwan sebelumnya, tyang minta maaf jika pelinggihm
tersinggung, tyang tidak bermaksud apa-apa, hanya sekedar ingin memberitahu
ukhty satu hal”. Dia terlihat semakin merunduk setelah mengucapkan kata – kata
itu.Kucoba memecahkan suasana agar kembali seperti biasa, karena dia tampak sedikit
tegang. “silaq akhy, apa yang ingin antum beritahukan?, masalah tugas ya?”
ucapanku ringan dan terdengar bersahabat. “bukan ukhty” ujarnya. “ooh, aku
salah tebak rupanya hehe” candaku supaya dia tidak terlalu gugup. Sebenarnya
apa yang ingin dia sampaikan, pikirku mencoba menemukan pertanyaan itu, tetapi
kucoba sembunyikan rasa penasaran yang ada di keplaku. “ana uhibbuki ya ukhty”.

Hening,
sepi, bahkan suara satu tetes hujanpun tidak terdeng
ar lagi di telingaku saat
kata itu terlontar dari ucapnnya. “apa aku tidak salah dengar?” pertanyaan itu
berulang kali kuulangi dalam hatiku. “haha akhy, atum bercandanya kok seperti
itu sih” spontan kuucapkan kata itu. Tetapi kusadari lelucon yang kubuat itu
tidak berhasil.Dia tetap saja merunduk dan dan berakata ‘afwan ukhty, tyang
tidak bercanda’.

Ucapnnya
itu membuat pikiranku beradu, lalu apa yang harus ku ucapkan setelah kata itu
dia sampaikan? Apakah aku harus berkata ‘iya’, ‘na’am’ ‘nggih’ atau menjawabnya
‘ana uhibbuka aidon ya akhy’??? ataukah kata ‘maaf’, ‘afwan’ , ‘sorry’ atau
‘maaf akhy tyang tidak bisa’ Apa yang harus aku katakana? Hati dan pikiranku
bekerja keras untuk menyusun kata-kata suapaya dia tidak tersinggung.Akhirnya
kata yang aku sendiri tidak mengerti terucap dari bibirku. “apakah antum serius?
Tapi pacaran kan tidak diperbolehkan dalam islam, antum pasti lebih faham akan
hal itu”. Setelah ucapanku itu, aku yang merasa malu, aku gugup, apakah aku
sudah lancang, tidak sopan dan menyinggung perasaannya? “aaah ucapan
pertanyaanku mungkin salah”.

Namun,
ekspresi yang tidak terduga kulihat dari wajahnya
dia
tersenyum dan menatapku.
 berbalik.Kali ini aku yang tertundu dan tidak
berani menatapnya. Lalu ucapannya terdengar “ukhty, tyang hanya mencoba
mengatakan apa yang ada dalam hati dan fikiran tyang, memang pacaran itu tidak
boleh dalam islam, dan tyang tidak pernah meminta pelinggihm menjadi pacar
tyang”. “maaf akhy, tyang tidak bermaksud…” belum selesai dengan ucapanku,
kulihat tangannya dia ajungkan di depan dadanya mengisyaratkan bahwa aku tidak
perlu merasa bersalah dengan ucapan yang telah kuucapan. “tidak ukh, pelinggihm
tidak perlu minta maaf, tyang yang salah juga, dengar ukhty, jangan di jawab
apa yang pernah tyang ucapan, hanya saja tyang ingin setelah tyang
mengunkapkannya tyang sudah melepas satu beban yang ada dalam fikiran tyang.
Tyang tidak aan menuntut pelinggih mempunyai perasaan yang sama, dan tyang
tidak akan bertanya apakah pelinggihm juga punya perasaan yang sama kepada
tyang. Karena tyang yakin, jodoh itu sudah di atur dan ditentukan oleh Allah
swt.” Mendengar ucapannya itu, hatiku rasanya ingin berteriak dan berkata bahwa
akupun mempunyai perasaan yang sama bahkan mungkin sebelum dia mempunyai
perasaan itu kepadaku. Karena ku
akui
sejak kelas satu, aku memang sering memperhati
kannya walaupun dalam
diam.

“semoga
pelinggihm tetap sehat nggh, dan semoga setelah lulus dan menjalani kehidupan
baru, pelingghm tetap mengingat tyang. Semoga kita juga dipertemuan di kemudian
hari ukhty, dan insya allah perasaan tyang masih tetap sama”. Setelah ucapnnya
itu, senyum kembali ia berikan kepadaku. Ucapan salam terdengar bahwa dia akan
pergi setelah mengataan apa yang ingin dia sampaikan. Kubalas ucapan salamnya
dengan perasaan campur aduk
. Melihat
dia semakin menjauh, hatiku berkata “pergilah akhy, mungkin ini memang rencana
Tuhan, aku berharap akan menemukanmu di kehidupan selanjutnya dengan perasaan
yang saat ini kurasakan”.

Suara
telepon membagunkanku dari kenangan masa lalu itu.Ternyata ibuku yang menelpon
dan bertanya dimana keberadaanku. Kujelaskan singkat bahwa aku tejebak hujan
dan akan segera pulang jika hujan sudah reda. Tidak terasa hujan sudah mulai
reda, sesunggil senyum spontan tercipta jika ku ingat masa-masa itu.Aku
berharap kembali kemasa itu, tetapi aku sadar itu adalah suatu hal yang
mustahil. Aku lalu bergegas dan mengambil motor di dekat bangunan itu.
Kulanjutkan perjalanan pulang dengan hati yang tida karuan, perasaan sedih,
senang, terharu dan bahagia bercampur menjadi satu.Namun satu hal pasti, aku
masih menunggu waktu dimana aku bisa dipertemukan kembali dengannya. Muhammad
Mustafa. Akhy Mustafa, laki-laki hebat yang pernah aku kenal dan pernah
memberikan satu warna sendiri dalam hidupku. Dan hingga saat ini, warna itu
masih tersimpan indah di lembaran kenangan hidupku.

Cerita
d
i atas
saya mengambil peristiwa masa SMA dulu… dan mohon maaf ada bahasa daerah saya
dari Lombok tengah sedikit saya gunakan jikalau kurang dimengerti saya akan
menerangkan hal tersebut di
bawah
ini sebagai berikut :
Dalam
bahasa daerah yang saya gunakan tersebut saya menggunakan bahasa daerah Lombok
yang sangat halus… bahasa daerah Lombok yang halus ini biasa digunakan 0leh
kerajaan Lombok dahulu sampai dengan keturunannya… dalam pandangan masyarakat
Lombok ketika seseorang menggunakan bahasa halus maka orang tersebut sangat
dihormati dan sangat berwibawa mempunyai etika sopan santun.. itulah kebanyakan
dari kalangan ningrat diharuskan menggunakan bahasa tersebut…..

Tyang
: saya                                              
Pelinggihm
: kamu
Nggeh
; iya
Silaq
: silahkan

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp