
Oleh: Yahdil Falakhi Alkhikam
Di sebuah desa kecil di pinggiran hutan, orang-orang sering menyebut nama “Khalifah” dengan nada yang aneh. Ada yang penuh ejekan, ada pula yang bercampur rasa iba. Khalifah adalah seorang pemuda dua puluh tahun yang hidup sederhana bersama ibunya. Namun, sejak kecil ia dicap “tidak waras.”
Bukan karena ia tak mampu berbicara atau berperilaku aneh, melainkan karena caranya berpikir sering kali berbeda dengan orang kebanyakan. Khalifah lebih suka duduk di tepi sungai berjam-jam, mengamati aliran air, lalu menuliskan hal-hal yang menurutnya penting di selembar kertas lusuh. “Air itu guru yang paling sabar,” katanya suatu ketika. “Ia tidak pernah menolak, tapi juga tidak pernah berhenti berjalan.”
Orang-orang desa menganggap perkataannya mengada-ada. Anak-anak sering mengejeknya, “Khalifah gila! Khalifah gila!” Namun ia hanya tersenyum, seakan ejekan itu bukan untuknya.
Suatu hari, desa dilanda kekeringan. Sungai yang biasanya menjadi sumber kehidupan mulai menyusut. Sawah-sawah retak, dan orang-orang panik. Kepala desa mengumpulkan warga untuk mencari solusi. Berbagai usulan muncul, namun tak ada yang berhasil dilakukan.
Di tengah kerumunan itu, Khalifah berdiri. “Kita harus membuat jalur air dari mata sumber di bukit sebelah utara. Airnya masih ada di sana,” katanya mantap.
Warga riuh. Ada yang menertawakan, ada yang menggelengkan kepala. “Sudah kukatakan, anak itu tidak waras!” teriak seseorang.
Namun, seorang lelaki tua, yang jarang berbicara, berdiri membela. “Aku pernah melihat sumber yang dimaksud Khalifah. Ia benar. Kita hanya butuh keberanian dan kerja sama untuk menggali jalur ke desa.”
Akhirnya, karena keadaan semakin genting, kepala desa memberi izin. Bersama beberapa pemuda, Khalifah mulai menggali jalur kecil dari bukit menuju desa. Hari demi hari mereka bekerja, menembus tanah keras dan batu. Banyak yang menyerah, tapi Khalifah tidak pernah berhenti. Ia bekerja siang malam, meski kulitnya menghitam dan tangannya penuh luka.
Beberapa minggu kemudian, air dari bukit benar-benar mengalir ke desa. Orang- orang bersorak gembira. Sawah kembali terairi, kehidupan pulih. Kepala desa memuji para pemuda, namun semua mata akhirnya tertuju pada sosok yang dulu dianggap “tidak waras.”
Sejak hari itu, orang-orang berhenti memanggilnya dengan ejekan. Mereka mulai
menyebutnya dengan hormat: Khalifah, si penjaga air.
Namun, bagi Khalifah sendiri, semua itu tak penting. Malam harinya ia kembali duduk di tepi sungai, menatap aliran air yang kini kembali deras. Ia tersenyum kecil sambil menulis di kertas lusuhnya:
“Kewarasan bukan soal siapa yang dianggap benar oleh orang banyak. Kewarasan adalah keberanian menjaga kehidupan.”







