![]() |
| Sumber Foto: istockphoto.com |
Oleh : M. Ikhsan Kamaluzaman
Manusia
diciptakan dengan berbagai tugas mulia sebagai khalifah fil ardh.
Berkenaan dengan itu sudah sepatutnya Allah memfasilitasi manusia dengan
berbagai perangkat yang begitu canggih dan mutakhir untuk melaksanakan tugas
tersebut dengan baik. Tidak heran juga ketika Allah pun menyebutkan dalam
firman-Nya bahwa manusia adalah makhluk fi ahsani taqwim. Karena sebagai
pemangku tanggung jawab terbesar di bumi manusia harus melakukan banyak tugas yang
ke semuanya itu diperlukan kerja sama dan kolaborasi yang baik antar sesama
manusia. Persatuan dan perdamaian menjadi kunci pertama terwujudnya itu semua,
karena faktanya permusuhan dan peperangan hanya menyisakan luka dan trauma di
masa mendatang.
Salah satu
pertanyaan yang sering ditanyakan kita adalah untuk apa kita diciptakan? Kenapa
kita harus terlahir di dunia? Apakah sebenarnya kita pernah memilih untuk
dilahirkan ke dunia? Pertanyaan pertanyaan semacam itu wajar ditanyakan karena
sebagai manusia kita butuh validasi terhadap apa yang kita lakukan sehari-hari.
Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita coba tengok ke Al-Quran ada berapa
penyebutan untuk arti manusia. Ternyata setelah ditelaah ada 4 penyebutan
manusia yang sekaligus memiliki makna dan tugas berbeda-beda. Ini adalah satu
bagian dari mukjizat Al Quran yang bisa kita tinjau dari segi bahasanya.
1. Manusia Biologis (Basyar)
قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ
إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا
صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia
biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan
kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan
Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. QS. Al-Kahfi:
110
Manusia
sebagai basyar memiliki tugas biologis yaitu makan, minum, dan menikah.
Oleh karena itu sebagai basyar kita membutuhkan mencari rezeki dengan
cara yang halalan thoyiban agar kita dapat memenuhi tugas ini dengan
baik. Karena dalam teori Maslow (Psikolog Amerika) menjelaskan tentang 5
kebutuhan dasar manusia dan yang paling pertama adalah kebutuhan dasar atau
fisiologi. Kebutuhan dasar ini harus dipenuhi agar manusia dapat bertahan
hidup. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi dengan baik maka akan berdampak
terhambatnya tugas manusia selanjutnya. Dan hidup ini tidak akan benar benar
‘hidup’ karena yang harusnya makan untuk hidup namun pada situasi ini hidup
untuk makan. Satu hal yang membuat kita tidak ada bedanya dengan tumbuhan dan
binatang.
2. Manusia Spritualis (Ins)
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS. Adz Dzariyat: 56
Manusia
sebagai ins bertugas menjadi hamba kepada Allah. Sampai sampai pada ayat
tersebut Allah menggunakan Ma Nafi dengan Istitsna yang memiliki
fungsi adatu hashrin makna membatasi. Seakan akan Allah ingin menegaskan
bahwa penciptaan kita hanya untuk beribadah bukan untuk yang lain. Artinya
Allah ingin agar manusia memiliki hubungan kehambaan yang baik dengan
Tuhan-Nya. Dari ayat ini jugalah kenapa seorang muslim yang taat memiliki jiwa
spiritual yang kuat karena berkaitan dengan kepercayaan dia terhadap Allah dan
Nabi Muhammad.
Ketika
seorang manusia sudah melaksanakan tugas Ins dengan baik maka yang
didapatkannya adalah rasa aman dan penuh harapan. Oleh karena itu seorang
manusia dengan iman dan tauhid yang kokoh akan menjalani kehidupan dengan penuh
rasa optimis, karena ia yakin bahwa setiap kisah hidupnya sudah dituliskan
dengan amat hebat oleh Sang Maha Sutradara Kehidupan yaitu Allah. Syekh
Mutawalli Asy-Syarowi pernah menganalogikan kehidupan kita seperti menaiki
kendaraan. Ketika kita naik kereta ataupun pesawat apakah kita merasa khawatir
dalam perjalanan? Tentu tidak, padahal kita tidak kenal siapa masinis dan
pilotnya. Lantas bagaimana kita merasa khawatir dalam hidup sedangkan yang
mengatur kehidupan kita adalah Sang Maha Segalanya. Rasa aman ini merupakan
hierarki kebutuhan manusia yang kedua dalam teori Maslow. Karena Maslow
menyebutkan bahwa rasa amannya meliputi aman secara emosional. Dan ketika kita
menjadi muslim yang sesungguhnya seyogyanya kita menjadi manusia yang juga
cerdas dalam memanajemen emosional kita.
3. Manusia Rasionalis (Insan)
عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ
Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya. QS. Al-‘Alaq: 5
Manusia sebagai
insan memiliki tugas untuk terus berfikir dan merenungi betapa hebatnya
ciptaan Allah. Manusia dengan karunia akal pikiran inilah yang membedakannya
dengan makhluk lainnya seperti hewan dan binatang. Dengan akal pikiran ini juga
manusia memiliki kreatifitas tanpa batas yang sudah mengantarkan manusia
memiliki sebuah peradaban luar biasa dari masa ke masa. Bangsa yang paling
menguasai ilmu pengetahuan menjadi bangsa terdepan dan adidaya daripada bangsa
lainnya. Oleh karena itu umat islam sendiri pernah mencapai masa puncak
kejayaan atau yang disebut sebagai ashrul izdihar dimana para ilmuwan
amat diapresiasi sehingga islam menjadi pusat peradaban manusia saat itu.
Bahkan CEO Facebook Mark Zuckeberg mengakui bahwa Facebook yang diciptakannya
menggunakan teori Algoritma yang digagas oleh ilmuwan muslim yang bernama Al
Khawarizmi.
Dalam salah
satu seminar yang diadakan TED Talks pada salah satu episodenya Terry Moore
menjelaskan bahwa x yang kita kenal sebagai ungkapan terhadap unknown (yang
tidak diketahui) ternyata berasal dari bahasa Arab yaitu شيءyang memiliki arti sesuatu yang ditemukan oleh bangsa Spanyol pada abad 10.
Namun karena kesulitan penyebutan huruf shin tadi akhirnya disederhanakan
menjadi x yang memiliki fonem dengan sebutan yang hampir mirip. Ini menunjukkan
sekali lagi bahwa bangsa Islam memiliki andil luar biasa dalam pembangunan
peradaban manusia terutama pada bidang ilmu pengetahuan. Tanpa penemuan dasar
tersebut tentunya kita tidak akan bisa menikmati membaca di layar HP seperti
yang pembaca lakukan sekarang. Hierarki kebutuhan Maslow yang ke 4 adalah
kebutuhan mendapatkan penghargaan. Ada banyak cara agar kita memiliki harga
diri atau reputasi yang baik, namun dengan memiliki ilmu adalah yang paling
utama. Ilmu tidak hanya membuat manusia dihargai di tengah-tengah masyarakat namun
juga membuat manusia lebih bahagia karena dengan keilmuannya ia lebih mudah
menyelasaikan problematika yang terjadi pada kehidupannya sehari-hari. Hari ini
kemampuan tersebut dikenal dengan nama problem solving yang juga harus
dimiliki para pemuda generasi milenial agar lebih bisa survive dalam menjalani
kehidupan yang semakin sengit persaingannya.
4. Manusia Sosialis (Nas)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ
وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٞ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal. QS. Al Hujurat: 13
Manusia sebagai nas memiliki tugas sosial. Manusia disebutkan Allah
sebagai makhluk lemah. Lemah disini bisa diartikan dengan terbatas. Termasuk
terbatas karena apa yang bisa dilakukan orang lain belum tentu bisa kita
lakukan. Justru ketika kita menyadari bahwa kita tidak bisa melakukan sendiri
membuat kita saling menghormati, saling mencintai, dan saling menyayangi.
Jangankan kita manusia sebagai entitas terkecil dalam negara. Negara pun
membutuhkan negara lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mereka. Sehingga
hari ini kita menyaksikan di berita bahwa negara negara eropa menggugat
Indonesia di WTO karena negara kita berhenti mengekspor nikel mentah. Hal ini
semakin menegaskan bahkan negara negara yang disebut sebagai negara maju
ketakutan bahkan ketar ketir ketika kebutuhan mereka terhadap suatu komoditas
terancam berhenti karena negara Indonesia adalah negara terbesar yang memiliki
kekayaan komoditas nikel di dunia.
Kesadaran
bahwa kita makhluk sosial mengharuskan kita memiliki sifat sifat baik agar
hubungan antar sesama manusia tetap lestari. Karena ketika tugas sosial ini
berjalan dengan baik maka banyak sekali hal yang bisa terselesaikan di
tengah-tengah masyarakat. Orang kaya membantu yang miskin, orang miskin
mendoakan yang kaya. Orang pintar mengajarkan yang bodoh, orang bodoh
menghormati yang pintar. Laki laki membimbing perempuan sekaligus memberikan
kepercayaan kepadanya, perempuan menghormati dan mencintai laki laki sekaligus
mengingatkannya sebagai sesama manusia yang tak luput dari kesalahan. Ketika
semuanya bisa terwujud dengan baik, seimbang, dan konsisten maka terciptalah
masyarakat yang saling memanusiakan satu sama lain. Tentunya hal ini juga
senada dengan teori hierarki kebutuhan Maslow bahwa kebutuhan manusia yang ke 3
dan ke 5 adalah kebutuhan sosial dan aktualisasi diri. Masyarakat yang memiliki
jiwa empati dan kepekaan sosial yang baik akan memenuhi 2 kebutuhan itu dengan
saling mengisi satu sama lain. Kesemuanya harus dimulai dengan persatuan yang
kuat antar elemen masyarakat. Segala perbedaan harus dikesampingkan ketika
berhadapan dengan kemanusiaan. Tak heran jika Habib Ali Al Jufri menulis sebuah
buku dengan judul Al Insaniyah Qobla Tadayyun yang berarti kemanusiaan
sebelum sikap beragama.
Pada
akhirnya, marilah kita bersyukur menjadi warga Indonesia dengan segala
kekurangannya namun kita tetap memiliki kerukunan dan persatuan yang masih
konsisten hingga detik ini. Karena di beberapa negara lain terjadi konflik tak
berkesudahan yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antar negara adidaya.
Semoga kita menjadi manusia yang bisa memenuhi tugas sebagai basyar, ins,
insan, dan nas dalam porsi yang proporsional. Semua itu kita sama
sama niatkan agar end game hidup kita sebagai seorang muslim berakhir husnul
khotimah yang merupakan impian setiap muslim sejati di berbagai belahan
dunia.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







