Oleh: Fitriatul Wilianti
Secercah jingga mulai tampak, indah,
begitu tenang seakan-akan ia mengajakku untuk ikut tersenyum bersamanya. Tetapi
angin laut tak mau kalah,ia menusukku hingga ke tulang-belulang. kurekatkan kembali
jaketku, uhh sungguh dingin. kuhidupkan hp, sudah pukul 03.04 pagi, sekarang
memang waktu-waktu yang sesuai untuk terlelap dalam ketenangan, tapi tidak
untukku.
begitu tenang seakan-akan ia mengajakku untuk ikut tersenyum bersamanya. Tetapi
angin laut tak mau kalah,ia menusukku hingga ke tulang-belulang. kurekatkan kembali
jaketku, uhh sungguh dingin. kuhidupkan hp, sudah pukul 03.04 pagi, sekarang
memang waktu-waktu yang sesuai untuk terlelap dalam ketenangan, tapi tidak
untukku.
kuperhatikan kembali orang-orang
disekitarku, mereka semua terlelap dengan kehangatan sekitar mereka, hanya aku
yg tidak tidur. Sorot mataku seketika terhenti. kutemukan sesosok Ayah bersama
putrinya yang terlelap dalam pelukan, sungguh pemandangan yang indah, dinginnya
angin tidak mampu mengganggu kehangatan dari mereka. ia tidak membiarkan
sedikitpun angin menyentuh putri kecilnya, walaupun ia sendiri merasakan
kedinginan itu. Dan seketika wajah ayahku muncul didepanku, hanya sekejap
kemudian menghilang. mulai kurasakan sesak di dada, aku rindu Ayahku, sudah
empat tahun kami belum bertemu, sejak terakhir kali ia mengantarkanku sampai ke
pelabuhan menuju kota tempatku menempuh pendidikan tinggi. Ia begitu
bersemangat melepaskan Putri satu-satunya. Ada sejuta harapan yang tampak
diwajahnya. Semoga kesuksesan selalu menghampiri putrinya. Kuperhatikan urat
wajah itu seketika air mataku menetes tapi tidak baginya kueratkan pelukanku.
“Jangan menangis, calon mahasiswi tidak mungkin membiarkan air matanya
menetes” katanya, isak tangisku semakin kuat, tak tega aku meninggalkannya
sendiri sejak ibu memutuskan untuk meninggalkan kami karna ayah yang tidak
mampu mencukupi kebutuhan keluargaku. Itu kisah yang pahit, tidak pantas untuk
di ingat.
disekitarku, mereka semua terlelap dengan kehangatan sekitar mereka, hanya aku
yg tidak tidur. Sorot mataku seketika terhenti. kutemukan sesosok Ayah bersama
putrinya yang terlelap dalam pelukan, sungguh pemandangan yang indah, dinginnya
angin tidak mampu mengganggu kehangatan dari mereka. ia tidak membiarkan
sedikitpun angin menyentuh putri kecilnya, walaupun ia sendiri merasakan
kedinginan itu. Dan seketika wajah ayahku muncul didepanku, hanya sekejap
kemudian menghilang. mulai kurasakan sesak di dada, aku rindu Ayahku, sudah
empat tahun kami belum bertemu, sejak terakhir kali ia mengantarkanku sampai ke
pelabuhan menuju kota tempatku menempuh pendidikan tinggi. Ia begitu
bersemangat melepaskan Putri satu-satunya. Ada sejuta harapan yang tampak
diwajahnya. Semoga kesuksesan selalu menghampiri putrinya. Kuperhatikan urat
wajah itu seketika air mataku menetes tapi tidak baginya kueratkan pelukanku.
“Jangan menangis, calon mahasiswi tidak mungkin membiarkan air matanya
menetes” katanya, isak tangisku semakin kuat, tak tega aku meninggalkannya
sendiri sejak ibu memutuskan untuk meninggalkan kami karna ayah yang tidak
mampu mencukupi kebutuhan keluargaku. Itu kisah yang pahit, tidak pantas untuk
di ingat.
Ayahku memang orangtua tunggal sejak
aku tamat sekolah dasar ia yang merawatku hingga sedewasa ini, selama itu
sedikitpun tidak pernah aku melihat setetes air mata jatuh di pipinya, hanya
keringat yang terus mengalir atas kerja kerasnya. Ia tidak pernah mengeluh
walaupun kelelahan tidak mampu disembunyikan dari wajah-nya. Tapi semua itu
tidak menurunkan semangatnya untuk terus membahagiakanku, walaupun dia adalah
orang tua tunggal tapi segala macam hal mampu ia kerjakan, ia ayah yang serba
bisa, pekerjaan berat seperti apapun pasti bisa ia lakukan, masakannya juga
sangat enak, mengalahkan semua jenis restoran yang pernah aku coba. Ia begitu
hebat tidak ada Ayah lain yang sekeren dia, sangat sempurna, ialah yang
mengantarkanku sampai sesukses ini, Dan aku adalah putri paling beruntung Yang
bisa mendapatkan kebahagiaan darinya.
aku tamat sekolah dasar ia yang merawatku hingga sedewasa ini, selama itu
sedikitpun tidak pernah aku melihat setetes air mata jatuh di pipinya, hanya
keringat yang terus mengalir atas kerja kerasnya. Ia tidak pernah mengeluh
walaupun kelelahan tidak mampu disembunyikan dari wajah-nya. Tapi semua itu
tidak menurunkan semangatnya untuk terus membahagiakanku, walaupun dia adalah
orang tua tunggal tapi segala macam hal mampu ia kerjakan, ia ayah yang serba
bisa, pekerjaan berat seperti apapun pasti bisa ia lakukan, masakannya juga
sangat enak, mengalahkan semua jenis restoran yang pernah aku coba. Ia begitu
hebat tidak ada Ayah lain yang sekeren dia, sangat sempurna, ialah yang
mengantarkanku sampai sesukses ini, Dan aku adalah putri paling beruntung Yang
bisa mendapatkan kebahagiaan darinya.
Tuuuuuuuuttttt tuuuuuuuuut bunyi
klakson kapal, deggg sangat mengejutkan, aku terbangun dari lelapku kuhidupkan
hp, sudah pukul 06.10 pagi, ku perhatikan sekitarku, pantas saja sudah mulai
cerah, Terpampang di depanku indahnya pantai “Asa kota” terakhir aku
kesini kelas 2 SMA, 5 tahun Yang lalu. pinggiran pantai Kolo juga tidak mau
kalah, begitu menyejukkan hati, Gunung Soromandu yang hijau nan indah. Selamat
datang kembali di kota Bima “Kota tepian air” kota dengan sejuta
kenangan.
klakson kapal, deggg sangat mengejutkan, aku terbangun dari lelapku kuhidupkan
hp, sudah pukul 06.10 pagi, ku perhatikan sekitarku, pantas saja sudah mulai
cerah, Terpampang di depanku indahnya pantai “Asa kota” terakhir aku
kesini kelas 2 SMA, 5 tahun Yang lalu. pinggiran pantai Kolo juga tidak mau
kalah, begitu menyejukkan hati, Gunung Soromandu yang hijau nan indah. Selamat
datang kembali di kota Bima “Kota tepian air” kota dengan sejuta
kenangan.
Beberapa menit lagi aku akan
menginjakkan kaki di tanah kelahiranku ini, perasaanku tidak karuan, aku sangat
senang, panantianku selama 4 tahun sebentar lagi terobati, bagaimana keadaan
Ayahku? Mungkinkah dia masih sama
seperti dulu?, aku sangat merindukannya. tuuuuuuuuttt klakson kapal kembali
berbunyi, semua orang mulai sibuk, mereka membereskan bawaan mereka, dan
kembali mengumpulkan anak-anak dan keluarga mereka. Deretan orang mulai berdiri
di pinggiran kapal memperhatikan indahnya hamparan kota Bima. Pelabuhan sudah
mulai kelihatan, tampak beberapa orang di perahu-perahu kecil Yang menjalankan
aktifitas mereka. Aku pernah berada di posisi itu, pulang pergi menggunakan
perahu selama masa Aliyah dan aku rindu hari-hari itu.
menginjakkan kaki di tanah kelahiranku ini, perasaanku tidak karuan, aku sangat
senang, panantianku selama 4 tahun sebentar lagi terobati, bagaimana keadaan
Ayahku? Mungkinkah dia masih sama
seperti dulu?, aku sangat merindukannya. tuuuuuuuuttt klakson kapal kembali
berbunyi, semua orang mulai sibuk, mereka membereskan bawaan mereka, dan
kembali mengumpulkan anak-anak dan keluarga mereka. Deretan orang mulai berdiri
di pinggiran kapal memperhatikan indahnya hamparan kota Bima. Pelabuhan sudah
mulai kelihatan, tampak beberapa orang di perahu-perahu kecil Yang menjalankan
aktifitas mereka. Aku pernah berada di posisi itu, pulang pergi menggunakan
perahu selama masa Aliyah dan aku rindu hari-hari itu.
Akhirnya kapal mulai berhenti, ratusan orang
menunggu kedatangan kami, sangat ramai, dan semoga Ayahku salahsatu dari
mereka. Aku membereskan barang-barangku dan turun dari keramaian kapal,
kuperhatikan satu-satu orang-orang disekitarku, di mana Ayahku? Semoga ia
datang menjemput putri satu-satunya ini. Tiba-tiba ada yang
memanggilku “Ayy Ayaaaa” suara yang tidak asing lagi bagiku. Itu
ayahku. Iyaaa benar -benar Ayahku, seketika airmatakembali menetes. kerinduanku terbayarkan, Tampak wajah lelah yang
aku rindukan selama ini, tubuhnya kurus, mulai tampak keriput dan urat-urat di
tubuhnya. Tapi senyumannya tidak berubah, masih senyuman 4 tahun Yang lalu,
senyuman Yang sangat tulus, dan semakin melebar. Kupeluk tubuhnya Yang mulai
renta, “Apa kabar Ayah, ma’afkan
kesalahan-kesalahan putrimu ini” airmata sudah tak mampuku bendung lagi.
Mulai terdengar suaranya “jangan menangis, seorang sarjana tidak akan
membiarkan air matanya terbuang sia-sia” Suara tangisku semakin mengeras,
ia belum berubah, Ayahku masih sama, kasih sayangnya tidak pernah berubah
apalagi berkurang, tidak sedikitpun. Dan ini adalah hari Yang paling aku
tunggu, setelah 4 tahun menanti. Terimakasih Ayah kaulah Hero Yang pernah aku
temukan, bukan lagi hero dalam cerita fiksi, tapi hero terkeren Yang kutemukan
di dunia nyata.
menunggu kedatangan kami, sangat ramai, dan semoga Ayahku salahsatu dari
mereka. Aku membereskan barang-barangku dan turun dari keramaian kapal,
kuperhatikan satu-satu orang-orang disekitarku, di mana Ayahku? Semoga ia
datang menjemput putri satu-satunya ini. Tiba-tiba ada yang
memanggilku “Ayy Ayaaaa” suara yang tidak asing lagi bagiku. Itu
ayahku. Iyaaa benar -benar Ayahku, seketika airmatakembali menetes. kerinduanku terbayarkan, Tampak wajah lelah yang
aku rindukan selama ini, tubuhnya kurus, mulai tampak keriput dan urat-urat di
tubuhnya. Tapi senyumannya tidak berubah, masih senyuman 4 tahun Yang lalu,
senyuman Yang sangat tulus, dan semakin melebar. Kupeluk tubuhnya Yang mulai
renta, “Apa kabar Ayah, ma’afkan
kesalahan-kesalahan putrimu ini” airmata sudah tak mampuku bendung lagi.
Mulai terdengar suaranya “jangan menangis, seorang sarjana tidak akan
membiarkan air matanya terbuang sia-sia” Suara tangisku semakin mengeras,
ia belum berubah, Ayahku masih sama, kasih sayangnya tidak pernah berubah
apalagi berkurang, tidak sedikitpun. Dan ini adalah hari Yang paling aku
tunggu, setelah 4 tahun menanti. Terimakasih Ayah kaulah Hero Yang pernah aku
temukan, bukan lagi hero dalam cerita fiksi, tapi hero terkeren Yang kutemukan
di dunia nyata.
Pondok
Pesantren Darun Nun Malang
Pesantren Darun Nun Malang
Perum
Bukit Cemara Tidar F3 No. 4
Bukit Cemara Tidar F3 No. 4
Darunnun.Com








