Lentera di Tengah Jarak
Oleh: Nyimas Salsabila Fitri
Di tanah rantau yang asing bagi gema langkah,
aku senantiasa dipertemukan dengan jiwa-jiwa
yang hadir bak lentera di tengah gelap yang tak bernama.
Mereka datang tanpa syarat,
namun menyematkan kasih sehangat peluk seorang ibu,
dan ketulusan sehalus bisik angin selepas hujan reda.
Aku tak pernah sungguh sendiri,
sekalipun malam menanggalkan segala daya,
dan senja memunguti sisa-sisa cahaya di mata.
Ada tangan-tangan yang tak lelah menopang runtuhku,
ada hati-hati yang merawat lukaku tanpa tanya,
menjadi rumah dalam sunyi yang tak sempat kutata.
Barangkali,
mereka adalah takdir yang tiba dalam rupa yang tak disangka,
hadir saat letih memuncak dan sunyi membalut hari.
Mereka datang tanpa kutahu dari mana,
namun menetap dalam rasa,
seolah semesta sedang menunjukkan sisi hangatnya
lewat wajah-wajah yang tak kutemui sebelumnya.
Aku bersyukur tanpa henti,
sebab tak semua orang ditakdirkan
dikelilingi jiwa-jiwa yang membawa hangat dalam sunyi.
Mereka bukan sekadar teman di persimpangan,
melainkan titipan waktu
serpihan cinta yang jatuh dari langit pada saat yang paling perlu.
Jika rezeki tak melulu berwujud angka dan angka,
maka keberadaan mereka adalah kekayaan
yang tak bisa dibukukan dalam catatan dunia.
Di tengah langkah yang kadang terseret resah,
mereka jadi alasan untuk terus melangkah,
meski cahaya dalam dada kerap meredup perlahan.
Terima kasih
untuk waktu yang hadir tanpa diseru,
untuk kasih yang hadir tanpa perhitungan,
untuk peluk yang hadir saat dunia terlalu bising untuk dimengerti.
Jika kelak jalan ini harus memisahkan kita dalam rupa dan arah,
percayalah,
kebaikan kalian telah menetap di dalam doa.







