Oleh: Fauzi_Fa
Aku adalah anak yang baru saja lulus dari Madrasah Aliyah di sebuah kota kecil. Aku lahir dari keluarga yang berkecukupan, di mana orang tuaku bekerja sebagai pedagang makanan ringan dan sembako, memenuhi kebutuhan warga desa kami. Meski hanya berdagang, penghasilan mereka cukup untuk mencukupi kebutuhan kami bertiga: aku, kakakku, dan adikku. Kami semua bisa bersekolah hingga lulus Madrasah Aliyah, yang setara dengan SMA.
Beberapa minggu setelah kelulusan, aku mulai memikirkan masa depan dan ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, keinginan ini harus tertunda karena orang tuaku meminta agar aku mengabdikan diri di madrasah tempat aku dulu belajar,Aku diminta mengabdi selama satu tahun lamanya.
Awalnya, aku menolak permintaan tersebut. Aku ingin langsung melanjutkan kuliah tanpa harus ada jeda atau banyak orang bilang kuliah di fresh graduate. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami alasan orang tuaku. Mereka ingin aku belajar lebih dulu dari pengalaman mengajar. Pada akhirnya, aku merasa bahwa pengabdian ini memberi banyak pelajaran baru. Aku bisa menjadi pengajar yang dinanti oleh murid-murid, sekaligus mendapatkan pengalaman berharga dari para ustaz dan ustazahku yang dulu. Kami sering berbagi cerita dan pengetahuan, sesuatu yang sangat berharga untuk masa depanku.
Tak terasa, masa pengabdianku sudah berjalan sembilan bulan. Keinginan untuk kuliah masih ada di dalam diriku, walaupun aku kuliah sudah masuk tahun gap year.
Suatu hari, aku memberanikan diri untuk meminta restu dari orang tuaku, terutama dari ayahku.
“yah, gimana kalau tahun depan aku kuliah?” tanyaku dengan hati-hati.
“Jangan kuliah dulu ya, Le. Mending kamu bantu bapak sama ibu di toko,” jawab ayahku.
“Tapi, yah, aku ingin kuliah untuk belajar dan mencapai kesuksesan di masa depanku naanti,” bantahku.
“Apakah kuliah menjamin kesuksesanmu? Lebih baik kamu langsung kerja atau bantu bapak dan ibu saja di toko. Kamu bisa dapat uang yang menjamin masa depanmu,” kata ayahku dengan nada tegas.
Aku terdiam. Rasanya sulit untuk melawan pendapat ayah. Aku tahu bahwa orang tuaku mampu membiayai kuliahku, tapi perkataan ayah tadi membuatku bimbang.
Keesokan harinya, aku duduk di depan rumah, merenung sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang. Secangkir kopi menemaniku, tetapi pikiranku tetap dipenuhi dengan pertanyaan: apakah aku harus melanjutkan pengabdian? atau mengikuti keinginan ayah untuk membantu di toko? Atau tetap kekeuh dengan keinginanku untuk berkuliah?
Saat sedang merenung, ibuku datang menghampiri.
“Kamu kenapa, Le? Kok diam aja?” tanya ibu.
“Gapapa, Bu. Aku lagi mikirin soal kuliah,” jawabku pelan.
“Halah, sudah, nggak usah dipikir terlalu dalam. Kalau kamu memang ingin kuliah, ya kuliah aja, di mana pun itu,” kata ibu, menenangkanku.
“Tapi, Bu, ayah melarang aku kuliah dan minta aku bantu-bantu di toko,” balasku.
“Sudahlah, Le. Nanti ibu yang bicara sama ayahmu. Kamu cari saja dulu kampus mana yang kamu tuju,” jawab ibu sambil tersenyum.
“Buk, beneran ta? Kalau ayah nolak gimana?”
“Nggak apa-apa, nanti ibu yang ngomong sama ayahmu,” jawab ibu, kemudian kembali ke toko untuk melayani pembeli.
Aku merasa ada secercah harapan untuk melanjutkan studyku di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Setelah itu, aku langsung mencari informasi tentang perguruan tinggi, dan pada dua hari kemudian, aku sudah menemukan kampus yang ingin kutuju. Kebetulan kampus tersebut dekat dengan pondok yang diasuh oleh Kyai yang sangat diidolakan oleh ayahku, yang selalu mengikuti dan mendengarkan pengajian beliau dari aplikasi Youtube. Dan beliau bernama Kyai Mustammar.
Episode 1, Tamat.
Next episode akan dilanjutkan InsyaAllah minggu depan







