
Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah
“Gak, Gak usah!”, larang ayah tegas kepada Aurel.
“Loh, kenapa yah? Dari dulu aku nggak pernah di izinin, sekarang aku dah SMA, aku sudah besar yah, sampai kapan aku dikurung terus?”, protes Aurel memberontak kepada Ayah.
“Ngerti sendiri sekarang pandemi kan? Masa nggak ngerti-ngerti”, jawab ayah menaikkan nada, mengingatkan bahwa Covid-19 masih melanda.
Kesekian kalinya Aurel protes hal itu, berkali-kali ditolaknya oleh ayah keinginan ia ingin keluar rumah. Strict parent, istilah yang kerap kali digunakan dalam mendidik Aurel. Aurel menyerah, didikan ayah membuatnya pasif dalam berkegiatan, ia tak berani melangkah lebih jauh, terlalu khawatir jika tidak diperbolehkan keluar sedangkan organisasi tidak luput dengan berkegiatan outdoor. Cita-citanya ingin kesana kemari sirna, Aurel sering mengurung diri dalam kamar, memandang layar setiap hari, iri terhadap dunia luar.
Ting… Notif Whatsapp muncul, undangan berbuka bersama dengan teman kelas SMP dari Khadijah, tuan rumah yang menawarkan sepenuh hati pintu terbuka lebar. Alamat dan rundown acara sudah siap sedia, para tamu cukup datang, membuat Khadijah menjadi senang.
“Ayo gaissss, di list ya yang mau bukber di rumahku”, chat Khadijah di grup.
Besar rasa ingin mengikuti berbuka bersama. Namun, rasa takut lebih besar untuk meminta izin kepada ayah, ragu, berdebar menjadi satu. Perasaan jengkel dan amarah terpendam, izin belum terucap, yakin bahwa pasti tidak mendapat izin. Bukan tidak mau berusaha, tetapi karena sudah terbiasa, sudah hafal bahwa jawaban yang diutarakan bukan kalimat pelega hati, bukan kebolehan setulus hati. Ibu? Percuma izin ke ibu jika ujung-ujungnya “Ibu boleh saja, tapi coba izin ke ayah“, yah… percuma saja, sudah tertebak endingnya.
Dua hari berlalu, tiba-tiba Khadijah chat Aurel pribadi, “Aurel, kamu nggak ikut bukber ke rumahku?”.
“Bentar ya, aku belum izin”, jawab Aurel mengelus dada, tak tampak setitik simpul dalam senyumnya.
Aurel terdiam sejenak, mengumpulkan mental untuk meminta izin kepada orang tua, khususnya ayah. Terdengar lebay dan alay, tapi itulah nyatanya. Menggenggam erat tangan, berkeringat dingin, sampai akhirnya ia berani mengungkapkan permohonan izin setelah enam jam berlalu.
Dengan jantung berdebar, Aurel berusaha mengungkapkan maksudnya, “Ayah, aku diajak bukber teman, tinggal datang, kok. Nggak usah beli-beli makanan”.
“Nggak!”, jawab ayah singkat, padat, jelas, menusuk hati.
“Dekat sini loh, yah. Kalau nggak mau nganterin nggak apa-apa, aku naik ojek aja nanti, pakai uangku, nggak minta ayah”, ucap Aurel tetap berusaha mencari jalan keluar.
“Kamu tau pandemi nggak, sih? Dibilangin berapa kali nggak ngerti, sudah banyak berita banyak yang terpapar Covid, semua di lockdown, kalau nggak penting nggak usah keluar!”, ucap ayah, kalimat ini terulang kembali seperti biasanya.
“Sampai kapan yah aku diperlakukan gini terus? Dari dulu nggak dibolehin keluar, SD disuruh ngegame terus, bilangnya ‘udah di fasilitasi komputer, banyak game, video, kurang apa?’, SMP alasannya belum cukup umur keluar, terlalu khawatir, sekarang SMA gini lagi pakai alasan pandemi? Sampai kapan aku kaya gini? Bahkan wisuda SMP aku nggak dibolehkan ikut, padahal itu kenangan terakhir bisa sama temen”, Aurel mengeluarkan uneg-uneg, sudah muak dengan perlakuan ayah selama ini kepadanya. Ia hanya ingin hidup bebas seperti teman lainnya.
“Sudah dibilangin tau pandemi nggak? Ini pandemi, nggak boleh bikin acara besar, termasuk wisuda, apalagi cuma acara bukber, nggak penting itu”, jawab ayah menegaskan ulang.
Aurel menyerah, mengalah, lebih baik diam. Ia masuk kamar dengan lesu, merebahkan tubuhnya keras ke kasur, melamun. Serintik demi rintik, air mata keluar. Membiarkan membasahi wajah hingga kasur. Dua jam meratapi nasib, ia kembali membuka hp, mengabarkan kepada Khadijah.
“Khad, aku nggak ikut, nggak dibolehin”, ketik Aurel sangat sedih, air mata masih terus mengalir.
“Loh, rumahmu sama aku dekat sini, cuma 2 km an”, tampak Khadijah kecewa dengan kabar dari Aurel.
“Ya mau gimana? Aku nggak dibolehin, aku aslinya juga pengen kok, Khad”, Aurel pasrah, bingung menjawabnya.
“Ayo dong Aurel, sekali-kali ikut, kamu nggak pernah kumpul bareng, main bareng sama anak-anak”, ajak Khadijah bersikeras.
Deg… sejenak terdiam, ternyata ada yang sadar bahwa Aurel tidak pernah kumpul bersama teman-teman, bahkan sebelum pandemi melanda. Ia tak bisa mengelak banyak karena itu fakta. Aurel tak bisa berbuat lebih, nasib menjadi anak strict parent. Meratapi nasib tiada guna, namun bayang-bayang terkekangnya terus melanda. Ia masih bisa memaklumi perlakuan ayah yang melarangnya untuk bermain. Tetapi, hal yang paling membekas dalam terkekangnya ketika wisuda SMP, dimana momen tersebut sekali seumur hidup dan tak pernah terulang, masa terakhir pertemuan, sebuah kenangan yang harusnya terabadikan menjadi momen paling menyakitkan. Hanya sebatas layar memandangi teman-teman bersuka ria, menggunakan busana wisuda, membuat video kenangan yang tak pernah lupa.
“Halo? Gimana, rel?”, tanya Khadijah kembali setelah lima belas menit berlalu.
“Maaf ya, maaf banget aku nggak bisa ikut”, Aurel benar-benar meminta maaf, selain karena tidak enak hati kepada Khadijah, ia juga sangat sedih dengan perlakuan ayah terhadapnya.
Besoknya, teman-teman Aurel mulai mengupload status. Aurel memandangi sebatas layar, teman yang berbeda dengan status yang sama dan momen yang sama, meriah. Bukber tak hanya makan saja, foto bersama, hingga bershalawat. Membuat video pendek trend viral, dan kegiatan lain seperti remaja pada umumnya. Setiap kali momen bahagia bersama teman-temannya lewat, Aurel selalu menangis, hanya dapat berandai-andai seperti remaja pada umumnya, yang dibebaskan sesuai haknya.
Covid-19 melanda, semua serba daring, termasuk sekolah Aurel saat ini. Saat ini ia duduk di bangku kelas 10, baru memulai masa SMA. Dimana katanya masa SMA adalah masa paling seru diantara semua jenjang sekolah. Remaja yang beranjak dewasa, mencari jati diri dimana-mana. Namun, tidak dengan Aurel, ia selalu takut melangkah karena terlalu ketat batasan peraturan ayahnya. Pendaftaran OSIS dibuka, Aurel mulai mendaftarkan diri, didukung dengan ibunya, mensupport dalam segala situasi. Menyemangati anaknya, Aurel, dengan menceritakan pengalaman berbagai organisasi agar Aurel terinspirasi. Semangat itu muncul, semua ingin ia raih serta gapai. Pendaftaran diri dengan google form di isinya, kemudian masuk grup dengan link yang telah tercantum. Sesi wawancara online sesuai hari yang telah ditentukan oleh kakak kelas sesuai dengan pilihan divisi masing-masing. Aurel mengangkat panggilan video dari kakak tingkat. Aurel menjawab semua pertanyaan dengan yakin dan lugas, kecuali satu pertanyaan yang membuatnya tak sanggup menjawab.
“Apakah kamu bersedia membantu segala kebutuhan dan acara di sekolah? Apapun itu keadaannya?”, pertanyaan horor itu membuat Aurel tersenyum kaget.
Pasalnya, ia hanya terpikir perizinan ayahnya tersebut. Inovasi dan proker telah terjawab dengan sempurna, yakin semuanya bisa. Satu pertanyaan ini membuat Aurel ragu menjawab. Apakah ia benar bisa menuju sekolah di waktu pandemi ini? Bagaimana cara agar ayah mengizinkan keluar berkontribusi dalam membangun tim OSIS jika hari biasa saja tidak diperbolehkan? Apalagi di waktu bumi sedang hectic Covid-19 dan semua di lockdown. Bukan karena overthinking, pramuka sudah dibuka sebelum pendaftaran OSIS dibuka, teman Aurel yang mengikuti pramuka sudah terdapat kegiatan aktif dan menuju sekolah untuk membantu kontribusi acara tersebut. Lantas apa alasan Aurel kelak jika mendapat panggilan dari sekolah namun tidak bisa hadir dengan alasan dilarang ayah?
“Uhmmm… baik kak, insyaallah saya usahakan”, ucap Aurel meyakinkan meskipun sedikit terbata-bata.
Sesi wawancara telah usai, Aurel tidak tahu apakah ia harus bahagia atau sedih jika diterima atau ditolak. Keduanya sama-sama membuat bahagia dan sedih. Senang karena diterima, satu sisi sedih, takut dan khawatir bercampur aduk dengan kontribusi secara tatap muka di masa pandemi, sulitnya perizinan ayah. Namun, jika tidak diterima, kelegaan akan kegiatan tatap muka di masa saat ini terbebaskan, tetapi rasa ingin membangun relasi OSIS telah sirna. Ujungnya, Aurel tidak diterima, penyesalan dan kesedihan berbaur. Namun, lambat laun mulai bisa menerima takdir.
Sekolah Aurel mempunyai asrama yang disediakan untuk murid yang berasal dari luar kota. Karena pandemi melanda, semua dilaksanakan secara daring. Termasuk kegiatan tahunan sekolah, mulai dari Bulbas (Bulan Bahasa), Megafest (Madaers Gathering Festival), dan Artsantara (Aksara Nusantara) yang dilaksanakan pada bulan dan agenda tertentu setiap tahunnya. Lomba yang diharuskan offline seperti podcast, membutuhkan percakapan dan perekaman secara langsung, bertatap muka di suatu tempat. Aurel yang merupakan akamsi sekolah tersebut, tentu mendapat ajakan teman sesama akamsi lainnya.
“Kamu bisa nggak ikut rekaman podcast?”, tanya salah satu teman Aurel di chat Whatsapp.
“Lokasinya dimana?”, tanya Aurel balik.
“Kita tentukan dulu siapa yang ikut, baru didiskusikan lebih lanjut mau kemananya”, jawab teman Aurel.
Aurel meminta izin ke ibunya karena tahu jika dengan ibunya akan dibolehkan. Tetapi seperti biasa, ibunya menyuruh agar meminta izin lebih lanjut kepada ayah, “Oh iya nggak apa-apa nak, izin ayah juga barangkali minta diantar”.
Sebelum meminta izin, sudah ada rasa rendah diri pada Aurel, bukan tidak mau berusaha, tetapi sudah bisa menebak apa kejadian selanjutnya. Dan yap, benar saja, setelah meminta izin ke ayah, sesuai praduga Aurel tidak diperbolehkan. Hal tersebut kerap terulang hingga tahun terakhir daring, dua tahun melaksanakan sekolah di rumah. Sampai terakhir kalinya sudah muak, Aurel memuncak, tetapi tidak tahu ingin melampiaskan kemana. Tidak ada gunanya melawan orang tua, semua keputusan tetap di tangan mereka. Pada akhirnya, Aurel melampiaskan amarahnya ke dirinya sendiri. Self harm berbagai cara ia lakukan, mulai menyilet pergelangan tangan hingga seluruh tubuh, beralih membenturkan kepala karena sudah tidak ada ruang untuk menyilet tubuh, menjambak rambut hingga botak, dan paling parahnya adalah membakar diri.
“Buka pintunya!”, teriak ibu sambil menggedor pintu kamar Aurel.
Semerbak bau sangit menembus kamar, membuat kedua orang tua Aurel khawatir. Aurel tak langsung membuka kamar, membiarkan lama hingga pada akhirnya kedua orang tua Aurel menaikkan nada, menjadi lebih tinggi. Aurel terpaksa membukakan pintu, tidak berkutik sepatah katapun dan langsung membalikkan badan.
“Kamu ngapain, nak?”, tanya ibu penuh khawatir kepada Aurel.
“Aku capek, bu! Aku dari dulu di kekang terus, alasan apalagi sekarang? Bahkan aku izin keluar tidak untuk main, aku mengerjakan tugas masih nggak dibolehin?”, protesku penuh amarah disertai tangisan yang keluar tanpa sengaja.
“Kamu paham nggak sekarang pandemi? PANDEMI”, ucap ayah yang duduk disamping ibu, menegaskan ulang dengan perkataan yang pernah terucap dahulu.
“Iya, aku tahu, tapi aku sungkan, sudah berapa kali aku menolak ajakan teman untuk membuat tugas padahal rumahku dekat dengan sekolah”, ujar Aurel menjelaskan.
“PAN-DE-MI! Sekarang semua dilaksanakan online, di lockdown, ayahmu ini juga guru, nggak ada murid yang mengerjakan tugas secara offline”, ucap ayah tak mau kalah.
Memang benar yang ayah Aurel katakan, tetapi beda sekolah beda pula peraturan. Mungkin sekolah ayah full daring, tetapi sekolah Aurel sebagian kecil kegiatan masih dilaksanakan secara tatap muka, seperti ekskul pramuka yang sebagian kegiatannya masih dilaksanakan langsung oleh kakak pembina, terutama yang rumahnya dekat dengan sekolah.
“Sudah yah, tenang”, ucap ibu mengusap pundak ayah
Ayah hanya diam.
“Kamu tadi ngapain, nak? Kok, bau kebakaran?”, tanya ibu lembut kepada Aurel.
“Aku sengaja, biar mati, aku capek. Aku punya asma, biar sesak juga…”, jawab Aurel dengan suara bergetar.
“Loh!, ngawur kamu, kalau kebakaran serumah gimana? Barang-barang berharga, siapa mau tanggung jawab?!”, amarah ayah memuncak kembali mendengar jawaban Aurel.
“Udah yah, dengerin dulu, tenang”, ucap ibu menenangkan kembali.
“…yah, aku capek… dari dulu dikurung di rumah, tapi ayah selalu menyiksa aku, kelas 2 aku di lempar meja sampai patah, di samblek kain, kelas 5 dilempar sandal, dipukul, pas habis pakde meninggal bahkan aku nggak tahu kenapa ayah melakukan itu, diludahin dan dituduh menghancurkan lampu kamar, aku diperlakukan buruk tapi aku tidak dibebaskan disini, aku tersiksa di dalam tetapi tidak ada ruang tenangku ke luar…”, sedikit yang bisa Aurel katakan dari sepersekian banyak uneg-unegnya.
“kamu itu di jaga, ayahmu ini yatim dari tiga tahun, nggak pernah ngerasain gimana rasanya punya ayah, bersyukur kamu. Mbahmu nikah lagi, punya rumah kaya nggak punya rumah, di usir sama suami barunya, siapa yang merawat ayahmu? Ya pakde-pakde mu itu, kakaknya ayah, sekarang ayahmu udah nggak punya saudara, kamu itu di eman. Makanya di rumah aja, sudah sini sama keluarga biar nggak kaya ayah”, jelas ayah panjang lebar.
Butuh waktu bertahun-tahun untuk Aurel dan ayah saling memahami. Melewati berbagai cobaan, bahkan Aurel sampai masuk psikolog saking stresnya dengan perlakuan ayahnya. Bukan salah ayah seperti ini, hanya perlu dua insan yang saling mengerti. Niat baik tak selalu berbuah baik. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya keburukan, apapun akan diusahakan demi buah hati. Semua orang berproses, orang tua baru pertama kali menjadi orang tua, begitupun anak juga pertama kali menjadi anak. Menjadi orang tua dengan innerchild yang terluka memang tidak mudah. Niat ayah memang baik, ingin menjaga anaknya agar tidak seperti dirinya di masa lalu, namun ayah lupa, bahwa Aurel telah remaja, Aurel bukan anak kecil lagi yang bisa di setir. Ia memiliki hak dalam memilih kehidupan, remaja itu diarahkan, bukan dipaksa.
Bukan karena sengaja pula ayah Aurel memperlakukan kekerasan terhadapnya ketika dahulu. Karakter dewasa terbentuk atas perlakuan dan lingkungan masa kecil, terlebih masa golden age. Zaman dulu tak sama dengan sekarang, dimana janda dikucilkan, tidak memiliki hak suara dan di usir. Menjadi ibu single parent juga berat, lingkungan yang selalu membully dan tidak kondusif. Hanya butuh kelegaan hati atas Aurel dan ayah, semua saling meminta maaf dan memaafkan, semua orang berproses, tidak ada yang instan di dunia ini.







