
Malang pada Ahad (2/11), pukul 09.00 WIB. Acara ini menjadi panggung penting untuk meluruskan sejarah otentik Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus membedah peran dan tantangan organisasi di tengah perkembangan Kota Malang.
Ayung Notonegoro: Gali Sumber Primer dan Dokumen Awal NU
Narasumber pertama, Ayung Notonegoro (Penulis Sejarah NU), menyoroti urgensi penggunaan sumber primer dalam penulisan sejarah NU. Ia memaparkan upaya timnya mengumpulkan dan menganalisis berbagai manuskrip, koran-koran lama pada masa awal pergerakan, hingga tulisan-tulisan Pegon dari para pendiri, termasuk dari KH. Abdul Wahab Chasbullah.
Ayung Notonegoro menekankan bahwa sejarah NU harus berdiri di atas fondasi dokumen otentik, bukan sekadar narasi lisan. Ditemukan banyak fakta penting dari sumber-sumber tersebut yang perlu diverifikasi dan disebarluaskan untuk akurasi sejarah.
Gus Fauzan: Jejak Kuat NU di Malang, Masjid Sabilillah Simbol NKRI
Sementara itu, Fauzan Elfuz S.H. (Gus Fauzan), mengalihkan fokus pada ranah lokal, membahas perkembangan dan peran NU di Kota Malang. Gus Fauzan secara spesifik mengulas bagaimana NU telah mewarnai peradaban kota, mengambil contoh konkret pada sejarah berdirinya Masjid Sabilillah.
Disorot pula kekhasan arsitektur Masjid Sabilillah yang berfungsi sebagai monumen perjuangan dan simbol NKRI. Nilai-nilai nasionalisme termaktub dalam bangunan tersebut:
- 17 Pilar Luar: Melambangkan tanggal Kemerdekaan Indonesia.
- Tinggi Lantai ke Atap 8 Meter: Melambangkan bulan kemerdekaan (Agustus).
- Lebar Masjid dan Tinggi Menara (45 Meter): Melambangkan tahun kemerdekaan, 1945.
Pembahasan ini memperkuat pandangan bahwa akar sejarah NU di Malang sangat kuat dan telah berkontribusi signifikan, baik secara fisik maupun filosofis, dalam membentuk kultur kebangsaan setempat.
Tantangan Kontemporer dan Solusi
Di sesi penutup, kedua narasumber memaparkan tantangan terbesar NU saat ini. Diskusi mengerucut pada perlunya adaptasi terhadap teknologi digital, penguatan kaderisasi yang militan, dan penangkal terhadap ideologi transnasional yang berupaya mereduksi peran NU sebagai penjaga Islam Nusantara.
Seminar ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran para santri dan generasi muda NU Sukun untuk tidak hanya bangga pada sejarah, tetapi juga aktif merespons tantangan zaman dengan solusi yang inovatif dan berbasis nilai-nilai ke-NU-an.
Pewarta: Ade Ryan Firdaus







