MAN HIYA?

Oleh Mutiara Rizqy Amalia

Mentari pagi ini memang terlihat indah, namun mengapa pikiranku tidak terarah. Andai saja semangatku tetap membuncah, pasti ide akan selalu tercurah. Pembicaraan seseorang pun aku bantah mentah-mentah, mungkin ini sebab naluriyah yang masih terpecah.

Dari kejauhan kudengar suara langkah kaki yang menghampiriku, nampak kaki itu dilapisi sepatu berwarna coklat yang dipadukan dengan warna hitam pekat. Suara itu semakin mendekat, namun suara langkah kaki itu semakin bergemuruh datang, ternyata suara kudengar itu tidak sepasang sepatu saja.

Langsung seketika, seseorang yang memakai sepatu coklat hitam itu menghampiriku dan berucap “man hiya? siapa dia?”. Kebingunganku mulai muncul, atas dasar apa ia tiba-tiba berucap seperti itu? Memang dia siapa yang ia maksut? Lalu kenapa ia tiba-tiba datang menghampiriku dan bertanya seperti itu? Ah, sungguh gerak-geriknya tidak jelas.

Hiya? Dia..
Hiya an-nasihah
Dia adalah nasihat..

Segala yang ada di dunia merupakan nasihat, ia tidak mungkin salah alamat bagi sesiapa yang dianggap terikat, ia terus mendorong alam seisinya tetap dalam jalan khidmat.

Kulihat sekeliling dengan mata sayup, jiwaku merasa gugup, detak jantungku meletup-letup, dan semakin lama mataku tertutup.
Oh, Allah..

Sejauh ini seluruh teguran kudapat secara tiba-tiba, tiada yang berani mengadu domba, seluruhnya datang tanpa aba-aba, dan semesta terus menghamba tanpa iba yang didamba.

Dia, dia adalah sebuah nasihat, yang akan terus mengoyak pikiranmu dan mengajakmu dalam kehidupan bermartabat, dia akan akan hadir di setiap celahmu bermunajat.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp