Oleh: Muhammad Rian Ferdian
Masa muda adalah masa yang mengasyikan. Di mana pada masa itu banyak orang yang menyebut sebagai masa keemasan hidup manusia. Bagaimana tidak, masa muda adalah masa di mana tenaga manusia masih kuat, tubuh masih bugar, kepercayaan diri yang tinggi, fikiran yang masih luas akan kreasi dan inovasi, melakukan apapun masih terasa mudah. Maka sangat rugi orang yang menyiakan-nyiakan masa muda nya dengan bermalas-malasan.
Masa muda juga merupakan waktu yang sangat tepat untuk melakukan dan mencoba berbagai hal untuk memperkaya kualitas diri, demi menjemput kesuksesan di masa depan. Salah melangkah di masa muda, akan berdampak buruk ketika masa tua. Semisal saja pemuda yang hanya mengahabiskan masa mudanya untuk berfoya-foya, mabuk-mabukan, menggunakan narkoba, malas belajar dan perilaku lain yang kurang baik, semua itu akan berdampak tidak baik pula pada dirinya ketika masa tua nanti, baik dari segi kesahatan maupun mental. Ia akan kebingungan di masa tua, di saat orang lain yang seusianya menikmati masa tuanya.
Usia 18-25 tahun merupakan usia krusial seseorang, jika di masa tersebut seseorang tidak tampak perubahan dalam dirinya, tidak ada semangat yang berkobar, tak mampu merealisasikan visi hidup dengan misinya, maka kemungkinan besar yang terjadi adalah ia akan menemui kegagalan pada usia 25 – 30 tahun, begitupun seterusnya. Maka manfaatkanlah usia krusial tersebut dengan sebaik-baiknya jika kita sedang berada pada fase tersebut.
Tak heran masa muda disebut juga masa bercocok tanam. Menanam segala hal yang baik, menanam keilmuan dengan banyak belajar dan membaca, menanam pendewasan diri dengan berbagai pengalaman. Sayyidina Ali radiyallahu ‘anhu menjelaskan hati pemuda laksana ladang yang kosong dan siap ditanami apa saja. Semakin cepat ditanami, maka akan cepat berbuah.
Bung karno pun pernah berkata “beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan kugancangkan dunia”. Pesan yang bisa kita ambil dari pidato bung karno ini, bahwasanya beliau tak butuh banyaknya orang untuk memgemparkan dunia, tetapi cukup dengan pemuda-pemuda yang berkualitas, ia mampu mengguncangkan dunia.
Jika yang kita tanam adalah kebaikan, kelak yang akan kita panen adalah kebaikan pula. Jika yang kita tanam adalah keburukan, maka yang akan kita panen adalah keburukan juga. Maka tanamlah kebaikan semaksimal mungkin, agar kelak kita bisa memanennya dengan maksimal juga.
Pondok Pesantren Darun-Nun Malang







