Mengapa Monolog Gibran Menuai Kritikan Pedas dari Publik? 

Mengapa Monolog Gibran Menuai Kritikan Pedas dari Publik? 

Oleh: Nazar Junio

 

Video monolog Gibran Rakabuming Raka yang diunggah di YouTube pada 19 April 2025  telah memperoleh 1,3 juta tayangan. Dalam video tersebut, Gibran membahas mengenai bonus  demografi, performa timnas, dan kesuksesan film animasi lokal Jumbo. Sayangnya, hingga Sabtu  (26/4) pukul 16.00 WIB, video Gibran justru telah mendapatkan lebih dari 140 ribu dislike, jauh  lebih banyak dibandingkan jumlah like. Namun, jumlah dislike di akun YouTube @GibranTV telah  disembunyikan. Selain itu, terdapat 50 ribu komentar, yang sebagian besar berisi kritikan dari  warganet. 

Dalam video berdurasi 6 menit 20 detik tersebut, Gibran membahas tentang bonus  demografi Indonesia yang akan mencapai puncak pada 2030–2045, dengan 208 juta penduduk  produktif. Ia juga mengapresiasi film Jumbo yang telah ditonton lebih dari 5,8 juta penonton. Sentimen negatif muncul karena beberapa hal, di antaranya: dalam monolog tersebut, Gibran tidak  menyertakan solusi konkret, hanya berisi ajakan bagi generasi muda untuk bekerja keras. Hal ini  dinilai bertolak belakang dengan situasi yang melibatkan Gibran sendiri. Selain itu, gaya  penyampaian Gibran dianggap terlalu kaku dan kurang natural. Ia hanya membahas bonus  demografi secara umum, tanpa memaparkan solusi konkret mengenai kebijakan pemerintah terkait  pekerjaan, pendidikan, dan penyediaan sarana prasarana untuk mendukung tercapainya Generasi  Emas 2045. Padahal, bonus demografi bukan hanya output atau outcome, melainkan sebuah tools untuk mencapai kemajuan suatu negara. 

Kenyataannya, pemerintah dianggap tidak memprioritaskan pendidikan, padahal  pendidikan merupakan aspek paling penting dalam kemajuan negara. Pendidikan yang merata dan  sistem yang baik serta sesuai dapat mencetak individu berpendidikan, yang mampu menciptakan  inovasi, membuka lapangan pekerjaan, dan memperoleh pekerjaan dengan lebih mudah. 

Penyebab sentimen negatif berikutnya adalah banyak warganet menilai Gibran hanya  “menumpang tenar” atas kesuksesan film Jumbo tanpa adanya kontribusi nyata dari pemerintah. “Dia memakai narasi kesuksesan generasi muda seperti film Jumbo, padahal pemerintah tidak  berperan dalam produksinya,” komentar seorang warganet di akun YouTube @GibranTV 

Gibran juga dianggap meniru gaya konten dari YouTuber Ferry Irwandi, pendiri Malaka  Project. Ferry Irwandi bahkan merespons video tersebut dengan membuat video berisi pembahasan 

serupa, namun tanpa menggunakan prompter dan hanya dalam satu kali shoot. “Ketimbang membahas soal editing video Wapres yang mirip, Bang Ferry justru lebih menantang  pemahaman Wapres terhadap tema yang dibahas sendiri tanpa editing berlebihan dan hanya one  take. Tapi, omongan Bang Ferry lebih berbobot ketimbang Wapres kita,” komentar seorang  warganet di channel YouTube @Ferry Irwandi.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp