Mengurai Hikmah Menulis yang Tersembunyi Bersama Kyai M.Faizi

Oleh Siti Rahmatillah

Cuplikan Biografi Yai Faizi

Kyai M. Faizi atau yang dikenal dengan sapaan Yai Faizi merupakan salah satu penyair muda yang berasal dari Madura. Kyai muda yang lahir di Sumenep 27 Juli 1975 ini adalah pengasuh Pondok Pesantren Annuqoyah daerah Al-Furqaan Sabajarin, Guluk-Guluk. Kegemaran beliau dalam bidang sastra mengantarkan beliau tidak hanya dikenal di kancah nasional, tetapi juga internasional. Beberapa penghargaan yang beliau peroleh adalah menjadi juara lomba penulisan karya sastra tingkat nasional dan diundang di beberapa kegiatan sastra nasional dan internasional seperti temu Sastrawan Indonesia ke IV Ternate Maluku Utara tahun 2011, pertemuan Penyair Nusantara ke 6 di Jambi, Ubud Writers dan Readers Festival, Bali tahun 2008, Berlin Arts Festival, Jerman tahun 2011.[1]

Kegemaran beliau di bidang sastra menjadi inspirasi utama para santrinya dalam berkarya. Keseharian beliau tidak hanya menjadi pengasuh pondok pesantren, tetapi juga pengajar dan pendakwah. Keseharian beliau sebagai pengajar (dosen) menjadikan beliau banyak diundang untuk menjadi narasumber bidang sastra di berbagai kampus (Madura-Jawa). Beberapa karya puisi beliau tersebar di  berbagai media di antaranya Republika, Aula, Pikiran Rakyat, Ulumul Qur’an, Basis, Surabaya Post, Serambi Indonesia, Suara Muhammadiyah, MPA, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Memorandum, Jawa Pos, Romansa, Riau Pos, Lampung Post, Banjarmasin Pos, Fajar, Horison, Tashwirul Afkar, Pedoman Rakyat, Bahana (Brunei Darussalam), Orientierungen (Jerman), selain terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama. Buku puisi tunggalnya: 18+ (2003), Sareyang (2005), Rumah Bersama (2007), dan Permaisuri Malamku (2011).[2]

Hikmah Menulis yang Tersembunyi

Minggu, 23 Februari adalah waktu yang baik untuk kami para santri Darun Nun bersilahturahmi dengan Yai Faizi. Dalam silahturahmi itu kami disuguhkan ilmu tentang penulisan, khususnya puisi. Yai Faizi menjelaskan beberapa hal tentang menulis. Beberapa hal itu di antaranya: (1) kata-kata itu mati, yang menghidupkannya adalah penulis, (2) banyak yang tidak menyadari bahwa puisi itu adalah emosi, (3) kalau bisa, tulisan itu harus dikembangkan dalam berbagi perspektif, itu caranya agar ia bisa menarik, (3) pentingnya menulis bukan sekadar memberikan manfaat lewat tulisan, tetapi yang yang paling penting adalah belajar berpikir sistematis dengan kata-kata.

Beliau kembali menegaskan bahwa ketika kita menulis, khususnya puisi “tulislah sebanyak-banyaknya dan buanglah sebanyak-banyaknya, sisanya adalah puisi”. Selain mengajarkan teknik penulisan puisi beliau memberikan perbandingan sekaligus kritikan bahwa penulis sekarang terlalu banyak kata-kata dalam puisinya tetapi maknanya hampa, terlalu cepat mempublikasikan tulisan dan merasa puas. Padahal, puisi itu yang ditekankan bukan banyaknya kata-katanya tetapi kedalaman maknanya, tidak mengapa sedikit (kata) yang penting ngena.

Perihal kesalahan penulis era sekarang yang terlalu cepat puas dan mempublikasikan karya dalam bentuk buku,  hal tersebut diperlukan ketelitian dari penulis untuk mengevaluasi kembali secara terus-menerus bahkan berbulan-bulan agar tulisan tersebut benar-benar layak untuk dibukukan. Pikiran penulis dari bulan ke bulan akan berkembang, karya yang selesai ditulis hari ini kemudian kita melihatnya kembali esok hari, lusa dan seterusnya lagi pasti banyak hal yang ingin kita ubah dan hilangkan agar ia terlihat lebih baik. Kita yang bulan ini akan berbeda dengan kita di bulan selanjutnya, karena ini dipengaruhi oleh pengetahuan kita yang bertambah, pola pikir juga ikut berkembang dan berubah, begitu juga dengan tulisan; buah pikiran.

Selain hal tersebut, beliau juga mengajarkan bahwa agar semangat menulis tetap terjaga dan tidak merasa bosan; jangan fokus pada satu kemampuan menulis saja, jika sudah bosan dengan puisi, pindah ke esai, jika bosan dengan esai pindah ke cerpen, lagu, dan lain sebagainya. Jadi, kita itu harus bereksplorasi, jangan berhenti dengan kebiasaan menulis. Jika berhenti, maka memulainya lagi susah.

[1] https://matamaduranews.com/kiai-mohammad-faizi-sastrawan-madura-dari-annuqayah/, diakses 2025

[2] https://langgar.co/puisi-puisi-m-faizi/, diakses 2025

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp