
Oleh: Halimi Zuhdy
(Ketua RMI NU Kota Malang dan Pengasuh Pondok Pesantren Darun Nun)
Riuh dinamika PBNU belakangan ini, perbedaan pandangan antara otoritas Rais ‘Aam, sikap Tanfidziyah yang sering menjadi sorotan, hingga kisah-kisah kecil tentang polemik cetakan, keputusan, dan penafsiran aturan, menjadi potret betapa hidupnya tradisi organisasi ini. Suara-suara yang bersilang, kritik yang bersahutan, dan diskusi yang tak pernah sepi sesungguhnya menunjukkan satu hal: NU adalah rumah besar yang denyutnya selalu terasa.
Namun di balik keramaian itu, ada satu pertanyaan mendasar yang justru kerap terlupakan: apa makna “ulama” yang menjadi jiwa dari nama “Nahdlatul Ulama”? Ketika dinamika struktural mencuat ke permukaan, sangat penting untuk kembali menengok akar keulamaan yang seharusnya menjadi penuntun sikap, arah, dan etika seluruh perangkat organisasi.
Di sinilah relevansi menilik kembali asal-usul kata “ulama” dalam bahasa Arab. Mengapa NU menggunakan kata “‘ulama”, bukan bentuk lain dari “‘alim”? Apa kedalaman makna yang diwariskan oleh tradisi Islam klasik hingga akhirnya dipilih sebagai identitas sebuah gerakan besar? Dan bagaimana makna itu seharusnya dipahami oleh para pemimpin keagamaan di tengah riuhnya perbedaan pendapat di tubuh PBNU?
Tulisan ini sedikit menyelami makna yang menjadi dasar berdirinya NU, bahwa keulamaan bukan hanya persoalan ilmu, tetapi juga keluhuran akhlak, keteduhan sikap, dan kemampuan membangkitkan umat menuju Allah. Di tengah riuh apa pun, fondasi itu tidak boleh hilang.
Menilik Makna Nahdlatul Ulama dalam Bahasa Arab (II), sebelumnya sudah ditilik makna “Nadhatul” dan pernah dimuat di nuonline dengan editor akhi aljmail Mahbib Khoiron .
Dan pada tulisan ini, Mengapa NU menggunakan kata ‘ulama (العلماء), tidak menggunakan kata ‘alimun (العالمون) atau ‘alimin (العالمين), padahal kata-kata itu berarti sama? (Ilustrasi: NU Online)
Ulama adalah kata yang sangat akrab dengan kaum muslimin. Orang Indonesia memahaminya sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama terutama ilmu fiqih. Ahli dalam bidang bahasa Arab dan keilmuannya, ahli tafsir, ahli hadits, dan pandai membaca kitab kuning. Dan juga, ulama adalah mereka yang dekat dengan umat dengan integritas moral dan akhlak yang baik.
Mengapa NU menggunakan kata ‘ulama (العلماء), tidak menggunakan kata ‘alimun (العالمون) atau ‘alimin (العالمين)? Sedangkan kata ‘ulama dan ‘alimin memiliki arti yang sama, yaitu orang-orang berilmu, berpengetahuan, atau orang-orang alim. Kata alim dan ulama memiliki makna sama yaitu ilmuwan, sarjana, tenaga ahli, master. Dan yang membedakan hanyalah tunggal (‘alim) dan plural (‘ulama).
Kata ‘ulama adalah jamak (plural) dari kata ‘âlim (عالم) dan ‘alîm (عليم). Kata ‘alim dengan shighat fa’ilun (فاعل) adalah orang yang berpengetahuan, berilmu, sarjana, intelektual. Sedangkan kata ‘alîm dengan bentuk fa’îlun (فعيل) adalah shighat mubalaghah yang bermakna sangat alim. Dan kata ‘alîm adalah di antara nama-nama Allah swt, yang bermakna Allah Maha Mengetahui (lihat at-Tahlil wa Tafsir al-Mufashal).
Ulama dari derivasi kata ilmu (pengetahuan), dengan beberapa berubahan bentuk, seperti; ‘ulûm (pengetahuan), ‘âlam (tanda), âlimûn (orang-orang alim), ‘ilman (keilmuan), maklum (dipahami, diketahui), ‘allamah (sangat alim), ta’lim (mengajar), ta’allum (belajar), mu’allim (guru), dan beberapa bentuk lainnya.
Ulama dalam khazanah Islam, terdapat beberapa pendapat. Di antaranya adalah mereka yang memiliki pengetahuan baik dalam ilmu agama atau lainnya, maka mereka yang memiliki pengetahuan di atas rata-rata (orang awam) disebut dengan ulama. Seperti ulama bahasa (علماء اللغة), ulama fisika (علماء الفيزياء), ulama sastra (علماء الادب), dan lainnya. Contoh dari kategori ini adalah Jabir bin Hayyan (kimia), Abu Yusuf al-Kindi (falaq, filsafat, kedokteran, kimia ), Al-Farahidi (bahasa dan sastra), Al-Khawarizmi (falak, matematika, geografi), Ar-Razi (filsafat, kimia), dan ulama-ulama lainnya.
Dan pendapat lainnya, ulama adalah mereka yang memahami ilmu agama, keilmuan Islam (ahkam islamiyah), atau juga disebut dengan “rijal ad-din”. Dan ada pula yang mengkhususkan bahwa ulama adalah mereka yang takut (taat) kepada Allah swt, sebagaimana dalam Ayat Al-Qur’an;
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sepotong Sejarah Perdebatan Nama “Nahdlatul Ulama”
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS Fathir: 28)
Dari berbagai pendapat tentang ulama, dapat disimpulkan bahwa ulama adalah orang-orang yang berilmu, ahli dalam ilmu agama dan atau keilmuan lainnya, serta mempunyai akhlak yang baik, yang dengan ilmunya mengantarkan kepada rasa takut pada Allah swt.
Sebagai penutup dari berbagai pandangan dan pendapat tentang devisi ulama di atas adalah pandangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang ulama yang menjadi inspirasi nama Nahdlatul Ulama. Ulama menurut Gus Dur adalah mereka yang mampu membangkitkan seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ungkapan tadi adalah terilhami dari KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang selalu mengutip perkataan Ibnu Athaillah;
لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ
“Janganlah berteman (berguru) terhadap orang yang kondisinya tidak membangkitkanmu (untuk meraih ridha Allah) dan ucapannya tidak menunjukkanmu kepada Allah.”
Membangkitkan itu makna dari yunhidlu (يُنهِض). Menurut Gus Dur, ulamalah yang tingkahnya membangkitkan kepada Allah. Maka lahirlah Nahdlatul Ulama. Kata nahdlah (نهضة) jelas dari yunhidlu (ينهض) tadi. Kala itu usulan kata Ulama dari banyak kiai. Tapi Gus Dur mengungkapkan, yang merangkum menjadi kata-kata Nahdlatul Ulama ialah Mbah Hasyim Asy’ari (dikutip dari laman NU Online).
Ulama adalah mereka yang alim (berpengatahuan) dalam ilmu agama, berakhlak baik, takut kepada Allah, mengayomi dan membawa pada kemaslahatan umat.
Pada akhirnya, kata “Nahdlatul Ulama” bukan sekadar rangkaian huruf yang menjadi identitas organisasi, tetapi sebuah makna yang hidup: kebangkitan para penjaga ilmu, para penuntun akhlak, dan para penggerak kemaslahatan. Ia menegaskan bahwa keulamaan bukan hanya perkara kecerdasan, tetapi kedalaman jiwa; bukan hanya keluasan ilmu, tetapi keluasan rahmat; bukan hanya kemampuan menjelaskan hukum, tetapi kemampuan membangkitkan manusia untuk berjalan menuju Allah.
Dari makna inilah NU berdiri, tumbuh, dan terus bergerak. Dan dari ruang makna inilah pula Indonesia belajar tentang kedewasaan beragama, keluhuran adab, dan tradisi ilmiah yang menyejukkan. Jika ruh “Nahdlatul Ulama” dijaga dan ditafsirkan dengan benar, ia bukan hanya milik bangsa ini, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi dunia, sebagai model Islam yang ramah, ilmiah, merangkul, dan memuliakan peradaban.
Dengan demikian, kata “Nahdlatul Ulama” adalah ikhtiar panjang untuk menjadikan Indonesia sebagai contoh keagamaan yang teduh dan dewasa, serta menjadikan dunia sebagai ruang tempat nilai-nilai ilmu, akhlak, dan kemanusiaan terus bangkit tanpa henti. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk menjaga makna itu tetap hidup.







