![]() |
| Sumber: Dokumen Pribadi |
Oleh: Moh. Rizal
Pada kumpulan sesak memori yang kembali tampak
Aku teringat
Merasakan pilunya sakit, pedih terbias hujan
Dalam malam, sepi terbalut dingin mencekal kepergian
Di sanalah aku
Meratap, mengingat dalam sesal
Memintal ingatan, menata harapan
Pada hati yang kebas, setelah sekian lama
Yang hanya menjadi relung sepi, seolah mati
Ramai hanya sekadar lewat
Riuh tak membekas
Tempat impian, seolah hanya kehausan
Yang tak akan reda hausnya
Aku di sana
Yang peluhku butuh untuk dibasuh
Hasrat yang telah runtuh
Tubuh yang rindu pelukan
Hati yang telah kaku, mendamba kasih tak bertepi
Rindu membara, diredam ego
Menjalar, mengakar tak tahu ujungnya
Menyiksa, mengingatkan khilaf
Yang tersadar setelah ratusan purnama
Buah yang jatuh tak sehausnya jauh
Meninggalkan pohon, menggelinding pergi
Dedaun pohon membekas embun sepanjang tahun
Merana, meranggas, mengering
Angin membawa kabar
Mengapa pergi?
“tak tau, terbawa angin segar saja”
Sahut buah, yang tumbuh, berbatang, berakar kokoh
Lalu mengapa menangis?
“mendengar kabarmu itu”
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Author
Post Views: 8
