
Malang, 19 Oktober 2025, Pondok Pesantren Darun Nun Menyelenggarakan Launching dan Bedah Buku “Ketika Belum Menjadi Apa-Apa”. Buku ini merupakan karya antologi santri Darun Nun yakni Ivani Rara Nirwasita Hasan, Ahmad Mumtaaz, Syabrina Wahyuni, Salma Salsabila, Nazar Junio, Hazna Azizah Azzahra, Dwi Putra Arta Sanjaya, Ahmad Irfanuddin, Muhammad Ilyas, Dimas Indra Pratama, Dina Ikmalia, Yahdil Falakhi Alkhikam, Aas Siti Aisyah, Sayyid Aqil Husein.
Ivani Rara Nirwasita Hasan sebagai perwakilan penulis dalam sambutannya menyampaikan harapannya terkait dengan buku ini.
“Kami berharap buku ini menjadi titik awal kami untuk lebih semangat berkarya dan melahirkan karya-karya lainnya” Terang Ivani Rara Nirwasita Hasan.
Buku “Ketika Belum Menjadi Apa-Apa” adalah buku reflektif dan inspiratif penulis tentang keberanian, keyakinan, kejujuran, dan kepercayaan memaknai hidup.
Abina Halimi Zuhdy dalam sambutannya sekaligus melaunching buku ini menyampaikan bahwa petilasan yang paling berharga adalah menulis. Beliau juga menegaskan bahwa jangan pernah berhenti menulis. Jadikan menulis itu sebagai nutrisi yang paling nikmat. Menulis itu tidak ada yang sia-sia, ia akan terus membekas. Tulisan itu diibaratkan air hujan, menetes membasahi tanah, membekas, diserap, mengakar ke dalam, dan suatu saat ia akan tumbuh dalam bentuk yang lain. Selain itu, beliau menyampaikan rasa bahagianya terhadap penerbitan buku ini dan diharapkan akan banyak buku-buku yang lain yang terbit.
“Saya sangat bahagia, ini adalah sebuah hal yang luar biasa. Jangan pernah berhenti menulis, semoga ini menjadi pemantik semangat dan menjadi inspirasi bagi santri lainnya untuk semangat berkarya, selamat kepada para penulis”. Pungkas beliau dalam sambutannya.
Setelah launching dan awarding penulis, dilanjutkan dengan sesi bedah buku. Bedah buku ini menjadi ruang bagi santri untuk berargumentasi, berpikir kritis, dan saling memberikan pemahaman.

Konsep bedah buku ini menghadirkan perwakilan penulis yang diwakilkan oleh Dina Ikmalia dan Ahmad Mumtaaz. Sedangkan pembedah, menghadirkan Hanifia Laila Harisi dan Ifan Rohmatullah, serta panelis menghadirkan Abieza Alem Muhammad. Dinamika Dialektika dalam bedah buku berjalan secara terarah, kondusif, dan efektif. Moderator Nazar Junio berhasil mengondisikan forum bedah karya ini.
“Dari diskusi malam ini, kita memetik pelajaran berharga bahwa menulis adalah perjalanan membangun kesadaran. Sebuah kesadaran untuk berani mengakui kesalahan, sadar akan banyaknya kekurangan diri, dan yang terpenting, memiliki kelapangan hati untuk menerima kritik serta evaluasi sebagai jalan untuk terus memperbaiki diri. Hal ini sangat sejalan dengan pesan utama buku “Ketika Belum Jadi Apa-Apa” yang mengajak kita untuk menghargai setiap proses dan berdamai dengan kegagalan, karena kekuatan sejati justru lahir dari fase ketika kita merasa belum jadi apa-apa”. Terang Nazar Junio selaku moderator dalam menutup acara bedah buku.
Terima kasih kepada para penulis, Abina Halimi Zuhdy, Ummah Sayyidahtul Khofsoh, Asatidz, dan semua yang berkontribusi dalam penerbitan buku ini. Semoga terus tumbuh, mengakar kuat, dan menebar manfaat.
Salam literasi, sobat Nun.
Pewarta: Siti Rahmatillah
Informasi acara:








