MERAWAT DAYA DI ANTARA LUKA

 

Oleh: Astri Liyana

Semua orang pasti pernah merasa ada di titik
terendah dalam hidupnya. Ketika kita hanya meringkuk di kamar, tapi merasa hari
itu sangat melelahkan dan menguras tenaga. Ketika kita tidak melakukan
kesalahan apapun, tapi merasa sangat bersalah yang entah bersalah karena apa.
Ketika kita merenung, entah pikiran apa yang merasuki kita hingga tiba-tiba
menangis. Apa kalian pernah merasakan itu? Lantas, apa yang kalian lakukan? Pura-pura
baik-baik saja kah?

Ketika kita merasa hidup ini sulit, ketika
kita merasa hidup ini berat dan penuh beban. ketika kegagalan dan putus asa
melanda, ketika merasa tidak berharga, ketika bisikan kepala menggerayangi
jiwa, bahkan ketika mimpi tak sesuai ekspektasi. Ingatlah, hidup ini sebuah
pertarungan, bahkan tak jarang kita harus mempertaruhkan sesuatu dalam hidup.
Selaras dengan pepatah yang menyatakan bahwa “Hidup yang tidak pernah
dipertaruhkan, tidak layak untuk dimenangkan”. Hidup itu nggak mudah. Kalau
semisalnya hidup itu mudah dan selalu seperti yang kita inginkan, tidak akan
ada orang-orang yang bunuh diri karena persoalan kehidupan.

Setiap kejadian yang menimpa kita adalah
pengalaman yang berharga. Ketika kita sedang rapuh, tidak akan ada yang tahu,
selain kita sendiri. Tidak akan ada yang benar-benar memahami kita selain diri
kita sendiri. Tidak akan ada orang yang baik, sebaik diri kita kepada kita
sendiri. Tidak akan ada orang yang benar-benar peduli tentang apa yang kita
alami. Dunia tidak mau tahu dan tidak akan peduli tentang kehidupan kita.

Maka dari itu, kita harus lebih baik lagi
kepada diri kita. Kenapa? Karena dia hebat. Dia bisa bertahan di tengah
pertempuran kehidupan yang menyebalkan ini. Dia bisa bertahan ketika dunia
menghakiminya. Hanya saja, kita terkadang jahat pada diri sendiri. Tidak hanya
secara fisik, tapi juga psikis. Sering kali kita menyakiti diri kita, hanya
untuk mencapai ambisi kita. Bener nggak? Hayoo ngaku.

Hari demi hari pengalaman hidup kita akan
terus bertambah. Luka yang kita alami akan lebih banyak dan beragam bentuknya.
Maka dari itu, kita harus pandai merawat daya di antara luka-luka yang muncul
tiada henti dalam kehidupan ini. Kenapa? Sadar atau tidak, bahwa kita ini hidup
dikelilingi oleh orang-orang yang mudah menghakimi. Oleh sebab itu, diri kita
butuh kita yang teguh dan tak mudah runtuh. Karena akan datang badai yang entah
kapan dan bagaimana bentuknya 
menghampiri untuk mengguncang kita, namun kita harus siap untuk menerima
dan mengatasinya.

Di balik itu semua, kita harus sadar akan
hikmah kehidupan dari kejadian yang kita alami dan menjadikannya pelajaran.
Kehidupan yang kita jalani adalah sebuah perjalanan panjang. Maka dari itu,
jangan pernah hidup dalam sebuah kekangan, keterpurukan, tersisolasi, oleh
basa-basi para pecundang yang mencoba gagalkan hidupmu. Jangan pernah berharap
akan pujian sampah yang tidak berharga sedikitpun. Ketika ambisi, arogansi, dan
emosi akan kebodohan hidup yang terus menginginkan kesempurnaan, membuat
kegagalan hanyalah sakit yang terhimpit dalam amarah. Setiap kita pasti
memiliki keinginan, tapi ingat, dunia punya kenyataan. Dunia memiliki cara
tersendiri untuk membuatmu paham akan makna kehidupan.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp