Oleh: Hidayatun Na
Jika kemarin aku telah menceritakan kepadamu mengenai indahnya sungai Mbalak, maka sungai yang satu ini justru penuh misteri. Banyak sekali kejadian orang meninggal tenggelam di kali Macak dari daerah hulu maupun hilir. Kehororannya sudah masyhur seantero kampungku.
Sama halnya dengan kali Mbalak, aku pun tak begitu paham mengapa ia dinamakan kali Macak. Mereka memiliki huruf awal dan akhir yang sama, yaitu m- dan -k. Tetapi keduanya jauh berbeda. Kali Macak memiliki ukuran lebih besar dari kali Mbalak, kira-kira 3 kali lipatnya. Atau, jika dibandingkan dengan sungai Brantas, maka ukuran kali Macak setengahnya.
Kali Macak mengalir dari selatan ke utara di sepanjang kabupatenku. Arusnya sangat kuat dan warna airnya keruh. Berbagai makhluk mendiami kali Macak, mulai dari buaya, biawak, ikan-ikan, lintah, pacet, ular, serta makhluk-makhluk tak kasat mata. Hal ini karena tepian kali Macak sangat rimbun, sepanjang sungainya ditumbuhi berbagai jenis semak dan pohon. Kedalaman tengahnya mencapai 3 sampai 4 meter, pinggirannya kira-kira sepinggang orang dewasa. Meski demikian, orang dewasa sekalipun enggan mandi di kali Macak. Sama dengan menjemput kematian.
Cerita paling populer mengenai kehororan kali Macak adalah tenggelamnya salah satu warga desaku di sana. Barangkali, jika ada seorang ilmuan yang berkenan meneliti kali Macak, misteri hilangnya seseorang secara misterius pasti bisa dijelaskan tanpa harus mengaitkannya dengan hal-hal klenik. Tetapi, warga kampungku lebih mempercayai ihwal metafisik ketimbang menemukan jawabannya secara ilmiah, termasuk aku. Karena bagiku, itu membuat sebuah misteri terasa semakin seru.
Ini kisah nyata yang menimpa ibu dari salah satu seniorku di sekolah. Aku masih kelas 4 SD saat ikut berpartisipasi dalam proses pencarian menghebohkan itu. Saat itu musim tanam padi. Di kampungku, buruh tanam padi didominasi oleh perempuan, sedangkan buruh panen padi didominasi oleh laki-laki. Setiap buruh memiliki rombongan dan pemimpinnya masing-masing. Mereka bisa bekerja sampai waktu menjelang maghrib tiba. Ya, saking semangatnya mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar bisa membiayai keluarga, atau menyetor kreditan baju lebaran, para wanita akan berada di sawah semenjak subuh, membawa bekal dan pakaian salat, hingga sore hari. Terutama jika sawah yang dituju letaknya jauh dari rumah.
Maka, Wak Ibah (bukan nama sebenarnya) dan rombongannya yang berjumlah 5 orang adalah salah satu dari para buruh tandur(tanam mundur) yang gigih itu. Kebetulan sawah yang mereka tanami berada agak jauh di seberang barat kali Macak. Sedangkan rumah rombongan ini ada di seberang timur sungai Macak, cukup dekat dengan sawah yang dituju. Karena dekat, Wak Ibah dan rombongan berencana untuk kembali ke rumah waktu dzuhur. Tetapi karena sawahnya luas, mereka selesai lebih siang dari perkiraan. Selesai tandur, Wak Ibah dan ketiga rekannya yang lain memutuskan untuk sekalian membersihkan diri di pinggir sungai. Mereka berpegang erat pada ranting pohon agar tidak terbawa arus. Ketika sedang membersihkan diri, capil (topi tani berbentu kerucut) Wak Ibah terbawa arus. Wak Ibah beusaha untuk menggapai capil itu karena belum terlalu jauh darinya. Hingga akhirnya, Wak Ibah melangkahkan kakinya terlalu ke tengah, ranting pohon yang tadi ia pegang, terlepas dari tangan.
“Tulung!” teriak Wak Ibah untuk yang terakhir kalinya sebelum wajahnya timbul tenggelam dalam gulungan arus sungai.
Sontak, semua orang panik! Mereka memanggil-manggil Wak Ibah. Tetapi tak ada yang berani mendekat ke titik hilangnya Wak Ibah. Mereka menjerit ketakutan.
“Ibah!!! Ibah!!”
Tapi tak ada jawaban apa pun dari Wak Ibah. Tangannya sempat terlihat timbul di permukaan air.
“Ibahh!!!” Yang lain masih memanggil dengan teriakan dan tangisan yang parau.
Salah satunya segera berlari pulang mencari bantuan. Beberapa orang bapak-bapak yang sedang mencangkul galengan ikut menghampiri mereka. Tetapi tak ada satu pun yang berani mendekati arus.
Baru saja tadi Wak Ibah bersama mereka, hanya dalam hitungan detik, ia hilang ditelan sungai yang kekuningan. Sungai Macak kembali mengalir seperti biasa, seolah tak merasa bersalah setelah menelan satu nyawa.
Pencarian jasad Wak Ibah pun dimulai. Warga segera memanggil polisi dan Tim SAR. Sebuah tongkat panjang ditancapkan pada titik terakhiri Wak Ibah terlihat. Berita itu tersiar hingga seluruh penjuru kampung.
— bersambung —
Pondok Pesantren Darun Nun Malang








