MULIA DENGAN BUDI PEKERTI YANG LUHUR

 

http://meraihimpian1.blogspot.com/2011/09/banyak-orang-melalaikan-budi-pekerti.html

Oleh: Siti Lailah ‘Ainur Rohmah

Manusia sebagai makhluk sosial tentunya tidak lepas dari adanya interaksi secara timbal balik maupun searah kepada yang lain. Sehingga akan berpotensi baginya untuk berbuat kebaikan atau justru malah sebaliknya. Meskipun telah kita sadari bersama bahwa manusia tempatnya salah dan lupa, tetapi hal ini jangan dijadikan alasan untuk terus berbuat demikian, karena Allah SWT selalu membuka pintu taubat bagi hambanya yang mau bersungguh-sungguh taubatan nasuha. 

Seseorang yang mau bertaubat dengan sungguh-sungguh, biasanya dalam kondisi apapun dia mampu menjaga perilakunya dengan baik. Hal ini sudah otomatis terjadi jika seseorang tersebut benar-benar merasa bahwa dirinya lebih dekat dengan-Nya, karena dia tahu jika di setiap perilaku yang ditimbulkan selalu diawasi oleh Allah SWT. Namun yang namanya hidayah, sebagai manusia kita tidak bisa memaksakan kehendak, itu sudah menjadi hak prerogratif Allah SWT. Hal yang bisa dilakukan sebagai sesama manusia hanyalah saling mengajak maupun mengingatkan untuk selalu berbuat kebaikan.

Figur yang dapat kita jadikan teladan yang baik, semuanya ada pada diri baginda Rasulullah SAW. Sebagaimana dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 dan Al-Qolam ayat 4 telah disebutkan,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(QS. Al-Ahzab:21)

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam:4)

Dari ayat di atas sudah jelas bagaimana keagungan budi pekerti Rasulullah SAW. Beliau manusia yang mulia sepanjang zaman. Mulianya bukan hanya karena kepandaian yang dimiliki, tetapi akhlak/budi pekertinya lah yang menjadikan orang lain dapat melihatnya seolah terkagum-kagum. Pada akhirnya banyak masyarakat pada saat itu berbondong-bondong untuk memeluk agama Islam yang dibawanya. 

Di sisi lain tentang budi pekerti ini juga disebutkan dalam sebuah peribahasa Jawa yang berbunyi, ”Ajining dhiri saka lathi, Ajining raga saka busana, Ajining awak saka tumindak.”

a. Ajining dhiri saka lathi bermakna kita harus menjaga lisan. Dalam hidup bermasyarakat, seseorang perlu memperhatikan perilaku/tatakrama dalam berbicara, karena dengan berbicara tersebut bisa mencerminkan diri seseorang. Semakin dia sopan dan lemah lembut tutur katanya, mengindikasikan bahwa dia bisa bertatakrama dengan baik. Sehingga di mata orang lain, dia dimuliakan meski dimanapun berada, asalkan bisa menjaga lisannya dalam berbicara.

b. Ajining raga saka busana bermakna kita sebagai manusia sebaiknya mengenakan pakaian yang sopan dan sesuai situasi dan kondisi. Misal, jika kita takziyah mengenakan pakaian hiyyang gelap atau hita, karena hal itu seperti kita turut berduka cita dan keadaan masih haru. 

c. Ajining awak saka tumindak bermakna bahwa bagaimana cara kita bertindak dapat mencerminkan siapa kita sebenarnya. Sehingga jika ingin bertindak, fikirkan terlebih dahulu kira-kira apa akibat atau dampak yang ditimbulkan. Hal ini menjadikan seseorang belajar untuk lebih berhati-hati dalam setiap tindakan yang diambilnya. Waallahu a’lamu bisshowab.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp