Malang – Ketika santri cilik berdatangan, Asa akan masa depan semakin terang. Dibangunkan jam 3 untuk tahajud bersamaan, Shalat jamaah tak pernah dilewatkan. Dasar keislaman dan kemandirian, menjadi akar pribadi masa depan. Dilatih literasi untuk siap menjadi penggerak negeri, Dilatih bahasa asing untuk bekal ilmu yang luas nanti. Program HP3 (Holiday Pesantren for Kids Batch 3), menyimpan cahaya ditengah gelapnya masa.
Progam luar biasa, dan mahakarya dibaliknya. Bukan apa yang ditampilkan didepan, namun dapur yang acak-acakan dan penerbit kedewasaan. Bukan panitia saja yang menghasilkan karya, namun panitia nya sendirilah yang kusebut “mahakarya”.
Dengan terbatasnya kuota, tim terbaik telah terbentuk. Bukan karena yang paling ahli, bukan juga karena isinya para senior berpengalaman. Namun karena dipenuhi dengan orang-orang yang matang kedewasaan.
Saya suka dengan seluruh yang ada didalam. Anak kecil yang sepantasnya anak kecil, Pemuda yang sepantasnya pemuda. Tidak ada ‘anak besar’. Maksudnya besar badannya, cukup umurnya dan tinggi pendidikannya namun tingkah, akal dan emosinya seperti anak balita.

Mahakarya pupuk kedewasaan.
Holiday Pesantren for Kids Batch 3 telah usai.
{1-0} Ada yang terlihat marah malamnya, namun senyum sumringah keesokan paginya. Menghadapi santri cilik yang cukup menguras tenaga. Itulah dewasa. (1 untuk kedewasaan – 0 untuk keegoisan)
{2-0} Ada yang terlihat akan hilang, nyatanya terbukti menopang paling lantang-! supaya tidak hilang utuhnya kepanitian. Itulah dewasa. (2 untuk kedewasaan – 0 untuk keegoisan)
{3-0} Ada yang seakan terjadi perang dunia 3, nyatanya besok nya saling sapa dengan senyum di muka. Tanpa maaf, tanpa terimakasih, tanpa komunikasi apa yang sebelumnya telah terjadi, hanya hati yang saling sadar diri bahwa semuanya adalah manusia yang perlu berbenah diri. Sadar ada tanggungjawab yang perlu dibagi dan problem yang tak perlu dipermasalahkan lagi, cukup berhenti dan cari solusi bersama lagi. itulah dewasa. (3 untuk kedewasaan – 0 untuk keegoisan)
{4-0} Ada yang ingin menyerah ditengah jalan. Lelah sering diabaikan dan marah karena menjadi yang disalahkan. Ternyata menjadi salah satu yang paling akhir pulang, membereskan sisa-sisa yang terlupakan. (4 untuk kedewasaan – 0 untuk keegoisan)
{5-0} Ada yang sudah lembur dan lelah dengan pekerjaan pribadi, namun tahu ada bocil yang harus didampingi besok pagi. (5 untuk kedewasaan – 0 untuk keegoisan)
{6-0} Ada yang keluar dari grup, namun paling banting tulang demi kepanitian; sampai akhir dibubarkan. (6 untuk kedewasaan – 0 untuk keegoisan)
Sedikit yang terdokumentasi oleh tulisan ini, namun itu sudah cukup bukti. Jika dihitung dengan benar, bahkan {100-0} pun pasti lewat. namun bukan masalah angka yang utama. Cukup {1-0} sudah menjadi bukti, bahwa kedewasaan telah mengalahkan ego diri.
Ada yang tengah malam harus tidur sendiri dan harus terbangun karena mimpi seorang bayi. Jauh dari kenyamanan fisik, namun disitu hati terpatri. Meski saya pribadi berangkat mencetak buku harapan para wali jam 2 pagi sendiri. Tidak pernah terasa sepi. Tahu ada ketapel yang sudah siap berzirah besi dilain sisi, ada konsumsi yang sibuk masak nasi, ada pendamping yang siapkan diri untuk membangunkan “ si harapan kecil” pukul 3 pagi, ada panitia lainnya mengistirahatkan diri untuk berganti shif dipagi hari.
Semua berjuang dibagian nya sendiri, untuk bersama-sama mambangun ‘mahakarya‘ ini. Akhirnya bukan tentang siapa yang menang, namun siapa yang mau mengalahkan ego diri. Bukan lagi masalah job ku – job mu, mana imbalanku, berapa imbalanmu.. ini tentang seni mengabdi dan meng-upgrade diri.
“Ada keringat yang menetes diantara ruang para santri. Ada darah yang mengalir di dapur yang sunyi dari dokumentasi. Ada air mata yang bersembunyi di pojok kamar malam hari. Itu semua benar-benar terjadi.”
Semua emosi bercampur dengan kelelahan dan kepelikan. Namun hanya senyum yang muncul diakhir kepanitiaan. Sekali lagi, kedewasaan kembali mewujudkan diri.
Inilah Darun Nun yang perlu selalu diwarisi..
Bukan berkumpulnya para ahli, namun berkumpulnya para pemuda dewasa yang mengerti hati dan tidak mementingkan diri sendiri.
Salam untuk regenerasi-!! Bukan hanya berharap supaya kalian belajar tentang program HP3 ini. Namun juga berharap kalian tahu bahwa salah satu jiwa darun nun itu ya seperti ini, berjuang satu hati dan satu visi. Menyingkirkan sebisa mungkin emosi yang bikin merugi. Bahu-membahu upgrade diri, menjadi muslim sejati. Penggerak literasi, menjadi harapan negeri ini.
Kami titipkan semangat Nun berapi, untuk selalu diwarisi
Hingga akhir sejarah nanti, pastikan tak pernah mati.
Darun Nun adalah rumah untuk belajar.
Ing ngarsa sung tuladha,
Ing madya mangun karsa,
Tut wuri handayani.
Yang didepan (senior) memberi teladan,
Yang ditengah (pengurus) membangun karya, saat nya beraksi,
Yang dibelakang (seluruh santri) sigap mengikuti.
Oleh: Dzulfahmi
Pondok Pesantren Darun Nun








satu Respon
🔥🔥🔥