Oleh : Ira Safira
Haerullah
Kasus
Covid – 19 di Indonesia makin hari kian bertambah, angka kematian makin
berjebah, pembelajaran online tidak berubah, siswa, mahasiswa, guru, buruh, dan
seluruh masyarakat semakin gelisah, berbagai kebijakan dicetuskan pemerintah.
Berbagai faktor laju penyebaran corona di Indonesia dimuat di
media – media masa. Cepatnya penyebaran dan lambatnya testing juga trancing
menjadi salah satu faktornya. Per hari kamis kemarin minggu ketiga September
tercatat sepuluh ribu nyawa yang meninggal akibat corona didalamnya terdapat
seratus lebih tenaga medis yang gugur karena pandemi ini. Isu tentang corona
adalah konspirasi dari elit global masih tersebar sana – sini, tidak heran jika
masyarakat mulai tidak peduli. Namun terlepas dari konspirasi atau pun tidak
faktanya seratus lebih nyawa tenaga medis
yang berdiri di garis terdepan pandemi berguguran dalam kurun waktu enam
bulan membuat duka yang sangat mendalam dalam dunia medis di Indonesia.
Selama enam bulan pandemi nama Menteri Kesehatan, Terawan
Agus Putrano juga ikut terseret bahkan sempat gegerkan media asing karena
kebijakan dan pernyataan yang kontroversial. Empat kali ditegur oleh presiden
karena kebijakan yang kurang mulai dari persoalan anggaran sampai persoalan
ketimpangan angka tes Covid – 19 di beberapa daerah nyatanya tidak membuat pak
menkes klarifikasi di media masa.
Di tengah – tengah maraknya pandemi pemerintah tetap akan
mengadakan pilkada serentak di akhir tahun ini. Tidak heran jika publik
keberatan dengan kebijakan pemerintah kali ini karena hal tersebut dapat
berpontensi melonjaknya kasus Covid – 19 di Negeri ini. Dalam tayangan Narasi Mata Najwa pak Luhut
Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa pemerintah sudah memutuskan langkah –
langkah baru yang sesuai protocol kesehatan agar tidak terjadi lonjakan kasus
saat pilkada nanti. Namun, pernyataan tersebut disanggah oleh mbak Nana tuan
rumah Mata Najwa dengan sebuah video yang ditampilkan merupakan kenyataan
lapangan yang menyampingkan protocol kesehatan. Dikarenakan tayangan video
fakta tersebut seorang Najwa Shihab dituduh provokasi oleh menteri di negara
demokrasi.
Hak kesehatan dan keselamatan masih dipertanyakan, apakah
pilkada lebih penting dari nyawa masyarakat ? lebih banyak manfaat atau bahkan
mudhorat ?
Jadi ingat kata bu tejo dalam film
tilik
“ Nuraninya itu loh pak dipake,
empatinya Ya Allah…”
https://tirto.id/menkes-terawan-semua-orang-harus-dianggap-positif-covid-19-f5bX
Pesantren Darun Nun Malang







