PEDATI-PEDATI YANG MENUJU KOTA

Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Musim panen bulan
ini terbilang riuh meriah,setelah tujuh bulan sebelumnya para petani dibuat
kecewa dengan hasil panennya.Berbeda dengan bulan ini, senyum mereka terukir
selebar-lebarnya. pada masa panen ini, padi dan pala masak bersamaan. Melihat
hal itu, para petani sangatberantusias untuk pergi ke hutan ataupun sawah.
Sangat jarang bagi dua hasil bumi bisa dipanen di bulan yang sama. Setelah
dipanen, mereka bergotong royong mengangkat hasil panennya dari desa ke kota.Namun
tidak semua, hanya Pala saja yang dijualnya. Padi disimpan di lumbung sebagai
bahan makanan setiap harinya.

Letak desa kami
sangat jauh dari kota, ditambah medan yang dilaluinya juga terbilang tidak mudah.
Inilah yang menyebabkan proses penjualan menjadi sangat lama. Biasanya para
petani akan membuat rombongan-rombongan dalam mengantarkan pala ke kota.
Seperti pagi ini, aku membantu menyiapkan pedati dan beberapa bekal untuk
dibawa Bapak pergi ke kota. Sebenarnya aku kurang yakin akan perjalanan Bapak
ke sana, karena biasanya dalam satu rombongan terdiri dari dua puluh petani
lengkap dengan pedatinya. Namun di rombongan bapak, hanya ada lima petani saja,
bahkan jumlah itu tidak mencapai setengahnya. Mereka semua adalah  petani yang tertinggal dalam prosespemanenan
pala.

“Pak, apakah
Ardan boleh ikut?”bapak mengangkat karung terakhir ke atas tumpukan karung lain
di dalam pedati, ia lalu mengelus rambutku pelan.

“Bersiaplah !
Asal ibumu mengizinkan” bergegas aku berlari masuk ke rumah menghampiri ibu
meski aku tahu ia tidak akan pernah setuju dengan niatku ini.

“Bagaimana jika
nanti kau kelelahan dan kedinginan, apa tidak akan merepotkan bapakmu?”

“Aku bisa
mengenakan jaket kebal yang bapak belikan di pasar malam. Ayolah buuu !! Aku
ini satu-satunya anak jantan ibu, jika aku hanya berdiam di rumah saja, lalu
bagaimana nasib Ardan saat dewasa nanti?” aku terus menyeret topik-topik
menakutkan untuk meluluhkan hati ibu. Namun tetap saja, ibu bersikeras teguh dengan
pilihannya.

“Kata Guruku,
pengalaman adalah guru terbaik dalam menjalani hidup. Aku tidak bisa
membayangkan, nasib bapak yang semakin menua, sedang anaknya ini tidak ada
pengalaman dalam berkelana ke kota, menyedihkan bukan?”

Ibuku
benar-benar sangat keras kepala, meski aku tahu ini semua juga demi kebaikanku.
Tapi bagaimanapun juga, setidaknya akuharus pernah mencicip rasanya berkelana
ke kota sebelum tumbuh dewasa, karena hampir semua kawanku pernah merasakannya.
‘tok…tok…tok’ bapak mengetuk pintuku untuk berpamitan namun aku memilih
enggan untuk menjawabnya.

“Biarkan saja
dia ikut bu, toh dia juga tidak terlalu kecil lagi”

“Tidak pakk !aku
tidak ingin mengulang pahitnya kehilangan sosok buah hati lagi”

Mereka berdua
berdebat kecil, namun lagi dan lagi bapak tidak bisa menjawab ibu. Kepergian
Abangku, Aris, ternyata menyisakan kepedihan mendalam di hati ibu. Abang Aris
meninggal saat ikut Bapak pergi ke kota dan itu membuat ibuku trauma karena
hanya aku satu-satunya buah hati yang masih tersisa.

Aku mengintip
dari balik jendela kamarku, bapak dan petani lainnya bersiap dengan pedatinya
masing-masing. Bersamaan dengan itu, alangkah terkejutnya aku melihat anak kecil
berlari seraya menangis menghampiri rombongan bapak, dia adalah Ahmad, temanku.
Ia merengek untuk ikut dengan bapaknya. Tapi dia gagal, karena kakak
perempuannya menariknya dengan sangat kencang. Melihat hal itu, tumbuhlah
keinginan dari dalam diriku untuk menyusun sebuah rencana, dan rencana itu
adalah…

“Kau cepat
sedikit lah, nanti kita ketahuan”

“Sudahlah dan,
ini sudah setengah jalan. Jadi, sekalipun kita ketahuan mereka juga tidak bakal
menyuruh kita untuk kembali ke desa”apa yang dibilang Ahmad benar, hari pun
juga semakin gelap. Aku tidak membawa perlengkapan untuk tidur, pun dengan dia.
Kami memutuskan untuk keluar dari hutan dan mengejar rombongan bapak di depan.

“Ardan tunggu
!!”

“Ada apa?”

“Kau lihat itu!!
Terlihat seperti sebuah helikopter”

“Yaaa aku
melihatnya, siapa mereka?”

“Terlihat
seperti kawanan bandit” aku dan Ahmad saling tatap. Wajah Ahmad pucat pasi.
Ketakutan perlahan menyelimuti.

Satu per satu
orang-orang bermata saga meninggalkan helikopter itu. Aku menarik tangan Ahmad
dan membawanya ke arah helikopter. Ahmad sedikit berteriak kaget, namun dengan
cepat aku menutup mulutnya.

“Apa yang ingin
kau lakukan dan? Lepaskan tanganku ! Kau membuatku kaget”

“Rusak saja
mesin-mesin di helikopter ini, rusak saja semua agar tidak bisa beroprasi lagi”

“Kau sudah gila
!! Bagaimana jika para bandit itu kembali dan menangkap kita” ujar Ahmad
sembari berjalan menjauhi helikopter itu.

“Sudahlah, aku
akan melakukannya sendiri”

Mulanya Ahmad
hanya memandangiku dari jauh, namun semakin lama, ia merasa iba dan memutuskan
untuk masuk ke dalam helikopter untuk membantuku. Aku memutus semua kabel-kebel
di dalamnya, berharap helikopter ini tidak dapat terbang lagi.

“Ayo kita pergi
!!”

Tidak lama
setelahnya, para bandit itu datang dengan karung-karung di pundaknya. Lalu
mereka meletakkannya di bagian belakang helikopter. Aku dan Ahmad masih
mengintai dari balik belukar.

“Tolong
kembalikan hasil panen kami Tuan !!” seorang pria berlari kecil berusaha menghalangi
langkah bandit-bandit itu.

“Menyingkirlah
!!” tubuhnya yang lebih besar dan kekar membuat bandit tersebut dengan mudah
mendorong dan menendang pria malang itu. Ia hanya bisa tertunduk pasrah melihat
hasil panennya dirampas paksa oleh orang-orang kejam yang tidak dikenalnya.

Dari jauh, datang
gerombolan petani lain menghampiri para bandit. Kali ini aku mengenal satu dari
mereka, dan dia adalah bapakku. Aku melihatnya menangis sesenggukan. Jumlahnya
yang hanya sedikit, membuat bapak dan petani lainnya pasrah. Tidak terbayang
betapa hancur hatinya saat seluruh hasil panennya direnggut habis. Mereka juga
tidak bisa melawan, karena para bandit itu memegang senjata api. Baling-baling
helikopter itu berputar semakin cepat dan membawa terbang hasil panen bapak dan
petani lainnya.

“Apakah kita
gagal?” aku berbisik pada Ahmad

“Sepertinya iya,
helikopter itu ternyata masih bisa beroperasi” jawabnya lirih

Saat keadaan
sudah benar-benar hening dan para bandit itu telah pergi, aku dan Ahmad
menghampiri bapak dan keempat petani lainnya. Aku memeluk bapak dalam-dalam pun
dengan Ahmad memeluk bapaknya.

“Kau disini
Ardan?”

“Iya pak, aku
dan Ahmad membuntuti bapak”

“Lalu bagaimana
dengan ibumu, nak?” aku tertegun lalu menangis di pelukan bapak

“Maafkan aku
pak !! Aku benar-benar ingin pergi berkelana dengan bapak”

“Tak apa,
sekarang kau sudah tahu kan, kenapa ibumu bersikeras melarangmu ikut”

“Iya bapak,
maafkan aku”

“Sudahlah,
ikhlaskan semuanya. Mari kita balik !!”

Tiba di desa,
kami dikejutkan dengan berita besar. Tidak biasanya desa kami didatangi
mobil-mobil polisi dan pengawal berseragam seirama. Pantas saja saat perjalanan
pulang tadi kami banyak berpapasan dengan mobil-mobil polisi yang mengarah ke
desa kami. Ternyata ada helikopter jatuh dan mereka datang untuk mengevakuasinya.
Mendengar hal itu, aku dan Ahmad saling tatap dan hampir bersamaan kami
berujar,

“Berhasil”

 

 Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp