Oleh: Ahmad Rofiqi Hasan
Menteri adalah tangan kanan dari seorang pemimpin atau presiden, tidak hanya menteri namun pejabat legislatif (DPR, MPR, DPD) adalah kepanjangan dari suara rakyat kepada seorang pemimpin. Maka wajar bila muncul pertanyaan: apakah pejabat kita hari ini sudah adil dan jujur?
Pimpinan dan Menteri
Tanpa menteri yang kompeten, seorang pemimpin akan mudah tergelincir dalam mengambil kebijakan. Bahkan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang yang adil dan benar pun diperintahkan Allah untuk bermusyawarah (QS. Ali-Imran: 159). Selain itu Nabi Musa pun memohon kepada Allah agar menjadikan saudaranya, Nabi Harun, sebagai pendamping dan “menteri”-nya (QS. Thaha: 29–32).
Lantas, seperti apa sebenarnya kriteria menteri yang ideal itu?
Menteri yang Ideal
Dalam kitab At-Tibru Al-Masbuku fii Nashihatil Muluk karya Imam Al-Ghazali, beliau
menyebutkan 5 kriteria yang layak dijadikan sebagai menteri.
وَيَحْتَاجُ ٱلْوَزِيرُ إِلَى خَمْسَةِ أَشْيَاءَ لِتُحْمَدَ خِبْرَتُهُ، وَتَحْسُنَ سِيرَتُهُ، ٱلتَّيَقُّظُ لِيَظْهَرَ فِي كُلِّ أَمْرٍ يَدْخُلُ فِيهِ لَهُ
وَجْهُ ٱلْمَخْرَجِ مِنْهُ، وَٱلْعِلْمُ حَتَّى تَتَضَحَ لَهُ ٱلْأُمُورُ ٱلْحَقِيقِيَّةُ، وَٱلشَّجَاعَةُ حَتَّى لَا يَخَافَ مِنْ شَيْءٍ فِي غَيْرِ
مَوْضِعِ ٱلْخَوْفِ، وَٱلصِّدْقُ لِئَلَّا يَعْمَلَ مَعَ أَحَدٍ غَيْرَ ٱلصَّحِيحِ، وَكِتْمَانُ سِرِّ ٱلسُّلْطَانِ إِلَى أَنْ يُدْرِكَهُ ٱلْمَوْتُ.
1. Kewaspadaan (التَّيَقُّظُ)
Seorang menteri harus selalu waspada agar tidak gegabah. Dengan kewaspadaan, ia bisa melihat peluang maupun ancaman, lalu akan menemukan solusi terbaik dari setiap persoalan. (Anticipatory Intelligence).
2. Ilmu (العِلْمُ)
Ilmu menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Tanpa ilmu, keputusan bisa salah kaprah. Dengan ilmu, seorang menteri bisa membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. (Cognitive Competence).
3. Keberanian (الشَّجَاعَةُ)
Seorang menteri tidak boleh gentar atau takut. Keberanian membuatnya tegas dalam bertindak, tidak takut menghadapi lawan atau karena tekanan politik, (psychological resilience).
4. Kejujuran (الصِّدْقُ)
Kejujuran menjaga kepercayaan. Tanpa itu, menteri bisa mudah terjerumus pada tipu daya atau manipulasi. Jujur berarti ia hanya berurusan dengan kebenaran, bukan kepalsuan. (Ethical Integrity).
5. Menjaga rahasia (كِتْمَانُ السِّرِّ)
Rahasia negara atau rahasia pemimpin adalah amanah besar. Jika bocor, bisa mengancam stabilitas dan kepercayaan. Karena itu, seorang menteri harus tetap memegang rahasia itu sampai akhir hayatnya. (Managerial Intelligence).
Menteri yang Tulus Itu Langka
Rasulullah bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِأَمِيرٍ خَيْرًا قَيَّضَ لَهُ وَزِيرًا نَصِيحًا صَادِقًا صَبِيحًا، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ وَإِنِ
اسْتَعَانَ بِهِ أَعَانَهُ“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, Dia akan memberinya menteri yang jujur dan tulus. Jika ia lupa, menteri itu mengingatkannya, dan jika ia butuh bantuan, menteri itu menolongnya.“
Betapa beruntung seorang pemimpin yang dikelilingi oleh orang-orang jujur, kompeten, cerdas, dan setia. Sebaliknya, betapa celakanya seorang penguasa yang menterinya hanya pandai menjilat, memuji tanpa tulus, dan menjerumuskan.
Pesan untuk Pemimpin dan Menteri
Seorang pemimpin harus sadar, kekuasaan hanyalah titipan. Seorang menteri pun harus ingat, amanah adalah kemuliaan. Keduanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena kerusakan terbesar sebuah negeri terjadi ketika penguasanya berniat buruk, dan menterinya berkhianat. Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadistnya:
كلّكُمْ رَاع وكلّكمْ مسئول عَنْ رَعِيّتِهِ
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
yang dipimpinnya. (HR. Abu Daud)
Pernah suatu ketika Nabi Sulamaiman diperingatkan untuk bersikap lurus dalam memimpin ummatnya ketika sedang berkeliling mengamati rakyatnya. Maka kekuasaan adalah nikmat Allah. Siapa yang tidak mengelolanya dengan baik berarti kufur nikmat. Semoga Allah menjaga negeri Indonesia dan menganugrahkan pempimpin yang adil dan bijaksana. Aaamiiin
Pondok Pesantren Darun Nun








