PERIHAL HUJAN YANG MENGIRINGI-KU

Oleh Arfiatul Aliyah
Saat itu tepat pada tanggal 1 November, hujan mengguyur kota Malang
setelah sekian lama tak menyapa. Jauh sebelum hari itu aku memutuskan untuk kembali
sebentar ke kampung halamanku.Secara tak sengaja keempat temanku mendengar rencanaku
untuk kembali kekampung halaman, dan mereka sangat antusias untuk ikut.Akupun mengiyakan,
karena aku tak akan merasakan duduk sendiri di kereta, akan ada mereka yang
akan menemani dan yang pasti akan menjadi cerita yang akan kukenang. Memutuskan
untuk pulang Aku dan ketiga temanku memang sudah berencana jauh-jauh hari untuk
sedikit merefresh otak yang penat akan kegiatan monoton setiap harinya.
Kami memulai perjalanan
kami dari kampus tercinta, yakni ulul albab. Seusai matakuliah kami bergegas memesan  grab car untuk menuju ke stasiun. Salam
pun diucapkan oleh dosen untuk mengakhiri perkuliahan, namun hujan telah mendahului
kami sebelum kami masuk ke dalam grab car yang kami pesan.
Saat kami
berempat  sudah  aman di dalam mobil, hujan seolah meraung menunjukkan
tangisnya yang selamaini tertahan. Aku memandangi pinggiran jalan yang penuh akan
genangan air dan jalanan  kota Malang
yang akan tetap akrab dengan kemacetannya, tidak mengenal hujan ataupun tidak
seolah sama saja.
Akumerenungmenataprintikanhujan
yangjatuhmengenaikacamobil, betapabersyukurnyakita, Allah
telahmenurunkanhujansetelahsekian lama
musimkemaraumelandahinggamenyebabkankebakarandimana-mana,
membuathatimirismelihatdampakdarimusimkemarau yang berkepanjangan.Renungankuterbuyarkan,
saatsalahsatutemankumelihat jam yang ada di ponselnya, bahwa jam
menunjukkankurang 15 menitkeretaakansegeradiberangkatkandankeadaan kami
masihdidalammobil, belumsampaipadastasiun yang kami tuju.
Beberapa menit kemudian
mobil yang kami tumpangi sudah berhenti di seberang jalan stasiun, kami
memutuskan untuk turun menerjang hujan dan berjalan menyebrangi jalan. Dengan baju
yang sedikit basah Karen amenerjang hujan, kami segera menuju ke tempat untuk
melakukan check-in tiket untuk segera masuk dan berdiri menunggu kereta
di jalur track kereta. Mataku menyusur jalur track kereta api
yang penuh akan manusia-manusia yang akan pergi ke tujuan yang mereka tuju,
tempat pulang  untuk menumpakan segala keluh
kesah yang ada atau memang murni bepergian karena sebuah alasan dan urusan yang
harus diselesaikan dengan segera.
Tak berselang
lama, akhirnya kereta yang kami tunggu pun tiba, para insan berebut untuk masuk  ke dalam kereta.Untuk bisa duduk dengan tenang
pun kami harus berdesak-desakkan terlebih dulu karena banyaknya penumpang yang
akan merealisasikan keinginannya untuk kembali ke rumah. Karena tak jarang banyak
oknum-oknum tidak bertanggungjawab yang tidak memiliki tempat duduk dengan seenaknya
mendudukit empatduduk yang bukan hak mereka.Ditengah ributnya suasana, hujan masih
saja berhilir dari langit.Hujan masih enggan untuk menghentikan rintikannya
, allahumma shoiban naafi’an.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp