PERJALANAN UNTUK KERINDUAN

Oleh: Zayyin Amalia
     Malam hari sebelum perjalanan aku mulai, Allah memberiku sebuah kebahagiaan yang tak pernah ku dapatkan ketika sekian lama bersama mereka. Kebahagiaan yang sederhana namun mempunyai makna yang sangat berharga.  Mereka yang menciptakan kebahagiaan adalah pendatang baru dalam hidupku, namun kasih sayangnya tak melebihi pendatang lama. Ku sebut mereka dengan sahabat. Perkumpulan sederhana dalam tujuan yang luar biasa demi tercapainya suatu tampilan yang mempesona yang tak akan pernah terlupakan. Satu jam lebih aku dan sahabatku menunggu kedatangan personil yang lainnya untuk latihan, sebut saja sahabatku itu “Maura”,sahabat super duper perhatian namun terkadang penuh dengan keusilan. Dan Aku adalah seorang melankolis yang dengan halunya bisa memberi kebahagiaan kepada diri sendiri dan menambah keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin,, sebut saja aku “Amel”.
     Sekian lama menunggu, akhirnya satu persatu dari mereka pun datang, ketika semuanya sudah kumpul lengkap kami pun mulai latihan. Namun malam itu tak seperti malam-malam sebelumnya, malam itu penuh sekali dengan kebahagiaan, canda tawa, pertengkaran, saling usil satu sama lain pun tak pernah luput dari kita semua, latihan yang seharusnya penuh dengan fokus dan konsentrasi pada lagu dan nada yang akan dibawakan, seketika itu bubar dan berubah hanya karena kami tidak bisa menahan tawa ketika melihat salah satu personil dari kita diusulin oleh coach yang  melatih kita, sebut saja dia “Coach Pangestu” pelatih yang sangat telaten, baik hati, murah hati, bahkan  suka bercanda dan banyak memberi prestasi.
     Latihan pun berjalan dengan lancar meski banyak hiburan, kurang lebih satu hingga dua jam kita latihan, akhirnya kita semua kembali ke tempat masing masing karena malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Malam ku pun larut dengan kisah yang telah terukir saat-saat latihan. Terlebih memikirkan esok paginya, ketika Allah akan mentakdirkan pertemuan seorang hamba dengan lakilaki yang selama ini ia kagumi. Perjalanan itu ku sebut “perjalanan untuk sebuah kerinduan” . Mungkin kebanyakan orang mendengar mereka akan berfikir kalau diriku alay atau seorang penghalu dengan objek yang belum nyata, karena perjalan dan kerinduan itu untuk seseorang yang sama sekali tak ku kenal, akan tetapi di hatiku selalu terkenang, hehehe.  Tapi semua itu hanyalah Allah yang akan tau bagaimana akhirnya .
     Kring… kring…
           
Alarm pun berbunyi, menunjukkan waktu shubuh telah datang, ku paksa mata untuk membuka, badan untuk beranjak dari kasur, dan hati untuk bisa ikhlas dan semangat menjalani hari baru. Ku ambil wudhu’ dan bergegas menuju ke masjid untuk menunaikan jama’ah sholat shubuh, seperti hari hari biasanya untuk beraktivitas sesuai dengan jadwal pondok yang sudah ditentukan. Sehabis sholat shubuh aku dan teman-teman pondok melanjutkan ngaji kitab bersama pengasuh di serambi masjid. Satu jam pembelajaran telah kita lewati meski dengan mata yang sudah seperti lampu bohlam dengan 1 watt nya . Setelah pembelajaran usai, kami semua kembali ke pondok dan melanjutkan aktifitas masingmasing.  Seperti mandi, cuci baju, bahkan ada yang melanjutkan tidur bagi mereka yang tidak ada jadwal kuliah pagi, namun tidak seperti diriku sehabis pembelajaran melanjutkan untuk rebahan sambil bermain HP karena jam kuliah masuk tepat pukul 07.00 pagi, sedangkan pembelajaran selesai jam 05.30 .
     Pagiku penuh dengan hati berbunga bunga di sertai harapan besar ketika teringat akan bertemu dengan dia yang selama ini hanya menjadi khayalan dan lihat lewat online saja namun tak bisa memandang secara jelasnya. Pagi cerah, hati cerah, pikiran pun jadi ikut cerah apalagi seharian penuh ternyata jam kuliah pagi dan siang libur karena dosennya tidak bisa hadir. Aku yang pada saat pagi itu satu kelas dengan Maura, waktu kuliah kita dengan sarapan di sebuah warung makan belakang kampus, namun diselasela itu aku berfikir jika aku ingin bertemu dengan lakilaki itu. Aku harus mengajak teman karena jarak tempat pertenuan kita pun jauh untuk kilometernya, namun untuk jam nya hanya sampai 30 menit perjalanan. Seketika itu aku menawarkan pada Maura untuk menemaniku dalan perjalanan tersebut, syukurnya Maura menerima tawaran dan ajakan itu .
     Perjalanan kami mulai dan berangkat sekitar jam 14.00. Di sepanjang perjalanan kami bercakapcakap tentang segala hal tak terkecuali tentang lakilaki itu yang memang sudah banyak orang tau akan hal tersebut. Namun perjalanan kita tak luput dari yang namanya cobaan dan kejadian yang tidak diinginkan, di tengah perjalan motor yang kami kendarai seketika mendadak berhenti, tiba tiba tidak bisa di tambah kecepatannya dan berhenti di tengah jalan, akhirnya kami pun berhenti di pinggir jalan dan mencoba beberapa kali untuk menghidupkannya kembali dengan berbagai cara namun hasilnya pun mustahil. Allah pun berkehendak lain, diseberang jalan ada seorang bapak-bapak yang usianya mungkin sudah 50.an, dia menghampiri kami dan menanyakan apa yang terjadi, kami pun menjelaskan sesuai dengan apa yang sebenarnya. Akhirnya, bapak itu menolong kami dan seketika motor yang kami kendarai hidup kembali, kami pun berterima kasih banyak kepada bapak tersebut dan melanjutkan perjalan kami dengan penuh hatihati serta waswas.
     Bersambung …

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp