Perlukah untuk Bercerita?

Oleh Alvian Izzul Fikri

“koncomu ketok seneng? Guya guyu? Jak en ngopi wong loro ng warung sg gaenek wifine, lak metu kabeh ceritane.”

“temanmu kelihatan Bahagia? Tertawa-tawa? Ajak ia untuk ngopi berdua di tempat yang tidak ada wifinya, nanti akan keluar semua ceritanya.”

Sambil tersenyum-senyum sendiri ketika membaca salah satu story wa teman saya ini, dengan background video orang yang duduk di café, menyandarkan badannya ketembok, sambil berusaha untuk selalu memperlihatkan senyumannya.

Bercerita adalah kebutuhan dasar manusia. Kita butuh didengar dan dipahami. Media sosial menawarkan wadah instan untuk berbagi, mencari dukungan, dan terhubung dengan orang lain. Namun, di sisi lain, terlalu banyak berbagi (oversharing) bisa jadi tidak baik. Informasi pribadi jadi konsumsi publik dan dampak emosional negatif bisa menghantui.

Di dalam kitab “أربعون قاعدة في حل المشكلة”  Abdul Malik Al-Qasim menyampaikan hadis dari Rasulullah SAW “Termasuk kebaikan adalah menyembunyikan musibah (yang menimpanya), penyakit dan shodaqoh”

Fenomena penyesalan setelah berbagi masalah adalah pengalaman umum yang seringkali menghantui kita. Setelah curahan hati, seringkali muncul perasaan khawatir dan was-was, apakah kita telah melakukan hal yang benar dengan menceritakan masalah kita kepada orang lain. Kekhawatiran ini semakin kuat jika masalah yang kita bagikan adalah masalah yang sangat pribadi, seperti masalah keluarga.

Seringkali kita temui seorang istri/suami yang, dalam keadaan emosi, langsung mengadukan masalah rumah tangganya kepada orang tuanya. Lebih buruk lagi, ia seringkali melebih-lebihkan masalah tersebut, mencela pasangannya dengan berbagai kekurangan, bahkan mengungkit kesalahan masa lalu. Akibatnya, keluarga dan saudara-saudaranya ikut membencinya, merusak hubungan yang tadinya harmonis.

Padahal, niat awal mungkin hanya mencari dukungan dan validasi. Namun, tanpa disadari, tindakan ini justru memperkeruh suasana dan menciptakan masalah baru. Kata-kata yang terucap dalam keadaan emosi, terutama cercaan dan hinaan, akan membekas dalam hati orang-orang yang mendengarnya. Bahkan jika masalah tersebut akhirnya selesai, luka yang ditimbulkan oleh kata-kata tersebut akan sulit disembuhkan.

Kepercayaan yang telah hilang sulit untuk dipulihkan. Keluarga yang tadinya mendukung, kini mungkin merasa was-was dan curiga terhadap suami. Rasa was-was ini bisa menghantui hubungan suami istri di masa depan. Bayangan kata-kata yang pernah terucap akan terus membayangi, menciptakan ketegangan dan keraguan.

Lalu, bagaimana seharusnya kita bercerita? Kepada siapa kita seharusnya bercerita?

Dalam QS. Yusuf ayat 86, Ya’qub berkata, “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”. Maka ketika kita mengadukan semua keluh kesah kita kepada Allah serta meminta tolong kepada-Nya, maka Allah akan menjaga aib kita, memberi petunjuk atas segala masalah yang kita curahkan kepada-Nya, dan Allah akan memberikan jalan keluar.

Wallahu alamu bis showab

 

 

 

 

 

 

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp