PETENANG, EMOSI BISA DIATUR


PETENANG, EMOSI BISA
DIATUR

Oleh Alvian Izzul Fikri

Suatu ketika kamu dan temanmu ingin mengikuti ujian
komprehensif yang diadakan jurusan kalian, lalu kalian belajar dengan
sungguh-sungguh agar bisa lulus dan mendapatkan hasil yang memuaskan, karena
lulus dari ujian komprehensif merupakan syarat utama mahasiswa untuk mengikuti
sidang skripsi. setelah kalian belajar selama satu minggu lebih, kalian paasti
merasa percayadiri bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.

Akan tetapi ketika kalian menerima nilai ujiannya,
ternyata hasil yang didapat tidak sesuai dengan ekspetasi kalian berdua, yang
menjadikan kamu kecewa. Lainhalnya dengan temanmu, tampaknya dia tidak terlalu
risau, gundah, gulana atas apa yang ia terima, yang membuat kamu bertanya-tanya
mengapa dia tidak bisa untuk santai seperti temanmu?. Haruskah kamu mengambil
sisi positif dari kejadian itu? Dan apakah kamu bisa mengendalikan emosi itu?.
Terdapat banyak strategi atau cara untuk mengatur emosi kita, salah satunya
dengan kita memahami apa itu Process Model.

Para ilmuan psikologi menggunakan Process Model
untuk mengidentifikasi dimana dan bagaimana para ilmuan dapat ikut
campur/mengatur proses yang dapat membentuk emosi kita, dimana didalamnya
terdapat beberapa tahapan; Pertama, kita masuk kedalam situasi/kejadian yang
akan kita hadapi, lalu bayangkan, setelah itu kita mengidentifikasi hal-hal
yang dapat menarik perhatian kita, dan yang terakhir kita mengevaluasi atau
menilai situasi, apakah itu membantu atau menghalangi tujuan kita.
Akhirnya, penilaian ini mengarah pada serangkaian perubahan dalam
cara kita merasa, berpikir, dan berperilaku, yang dikenal sebagai Respon
Emosional.
Setiap Langkah/tahapan dari proses ini menawarkan kesempatan untuk
campur tangan secara sadar dan mengubah emosi kita, dan model proses
menguraikan strategi apa yang mungkin kita coba dalam setiap tahapan.

Untuk memudahkan kita untuk memahami hal ini,
bayangkan kamu telah diundang ke acara reunion alumni sekolah yang sama dengan
orang yang meminjam kamu uang, dan dia 
tidak mau mengembalikannya sampai sekarang, akan tetapi dia selalu
upload story makan di resto mahal dan bisa jalan-jalan hingga ke Raja Ampat.
Dan setiap kali kamu mmenagih hutangnya dia malan marah kepadamu, yang membuat
kamu merasa jengkel.

Langkah pertama yang dapat kamu ambil adalah dengan
tidak menghadiri acara tersebut, akan tetapi jika kamu hadir kamu dapat untuk
menghindari interaksi dengan teman anda, kalau mungkin dirasa sulit, kamu bisa
mengalihkan dengan bermain game dengan teman-teman anda yang lain. Dan pilihan
lain adalah mengevaluasi atau menilai bagaimana kamu berfikir tentang situasi
pada saat itu. Kita harus belajar untuk memperhatikan darimana datangnya emosi
kita. sehingga kita bisa mengantisipasi potensi-potensi yang akan membuat hati
kita gelisah.

Akan tetapi kita tidak harus
mempertahankan suasana hati kita dengan teknik ini, karena semuanya tergantug
bagaimna kita mendefinisikan apa yang membuat suasana hati kita menjadi positif.
Kita selalu berfikir bahwa kita harus berusaha menghindari hal-hal yang membuat
hati kita sedih dan kecewa, tetapi tidak ada emosi yang secara inheren baik
atau buruk, semua tergantung pada situasi dan kondisi.

Jadi
jika pertanyaannya adalah: “haruskah kita selalu berusaha untuk
bahagia?” Jawabannya adalah tidak. Studi menunjukkan bahwa orang yang
terpaku pada kebahagiaan sering mengalami emosi negatif, seperti rasa bersalah,
atau frustrasi karena kesal, dan kekecewaan karena mereka tidak merasa lebih
bahagia. Ini tidak berarti kita harus membiarkan kesedihan atau kemarahan
mengambil alih diri kita. Tetapi strategi seperti penilaian ulang dapat
membantu kita mengevaluasi kembali pemikiran kita tentang suatu situasi, yang
memungkinkan kita untuk menerima bahwa kita merasa sedih dan menumbuhkan
harapan bahwa segala sesuatunya akan menjadi lebih baik.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp