Pondok Pesantren Darun Nun Malang Rihlah Untuk
Menyusuri Lautan Ilmu di Madura
Malang, 22-23 Februari 2025 – Pondok Pesantren Darun Nun Malang baru saja melaksanakan rihlah yang penuh makna, berjudul “Menyusuri Lautan Ilmu di Madura.” Kegiatan ini dipimpin oleh Abi Halimi Zuhdy dan dihadiri oleh santri serta pengurus pondok, bertujuan untuk memperluas wawasan dan meningkatkan silaturahmi dengan para kyai serta sastrawan hebat di Madura.
Rihlah ini dimulai pada malam hari, seluruh santri, para asatidz dan pengasuh PP Darun Nun berkumpul di titik kumpul yang telah ditentukan, yaitu di depan Perumahan Bukit Cemara Tidar. Suasana gerimisnya hujan tidak memudarkan semangat mereka untuk rihlah ke Madura. Mereka saling berbincang dan menyiapkan barang-barang apa saja yang harus dipersiapkan yang menunjukkan antusiasme untuk memulai perjalanan ini. Abi Halimi Zuhdy, sebagai pengasuh PP Darun Nun, memberikan sambutan hangat yang memotivasi santri untuk mengambil hikmah dari setiap momen perjalanan dan tidak lupa untuk berdo’a agar acaranya lancar serta selamat sampai tujuan. Tepat pukul 21.00, rombongan resmi berangkat menuju makam Sunan Ampel Subayaya, salah satu wisata religi yang memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi umat Islam di Indonesia. Do’a dan Tahlil dipimpin langsung oleh Abi Halimi Zuhdy,
Perjalanan ini bukan hanya sekadar menempuh jarak, tetapi belajar disetiap perjalanannya, Abi Halimi Zuhdy mengatakan setelah berkunjung ke makam Sunan Ampel Surabaya yaitu “Ziyarah atau ziarah merupakan asal kata dari bahasa Arab, yang secara terminologi berarti mengunjungi sewaktu-waktu kuburan orang yang sudah meninggal dunia, tujuan utama ziarah kubur adalah mendoakan orang yang sudah meninggal, mengingat kematian, mengenali asal usul, memahami bahwa kita tidak sendirian”.
Setelah menempuh perjalanan yang sekitar 40 menit menuju Madura, rombongan tiba di Bangkalan pada pukul 01.40. Di sini seluruh rombongan ziarah kemakam Syaikhona Kholil Bangkalan dengan membaca doa dan tahlil, Syaikhona Kholil beliau juga dikenal dengan nama Al-‘Aalim Al-‘Allaamah Asy-Syekh Al-Haajji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bangkalani yang dikenal sebagai pembawa ajaran Islam yang moderat. Selama ziarah, para santri diajarkan untuk mendoakan para ulama dan menghormati jasa-jasa mereka dalam menyebarkan ilmu.
Setelah momen yang khidmat ini, rombongan segera melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Pamekasan untuk melaksanakan sholat Subuh. Masjid Agung Pamekasan merupakan salah satu masjid terbesar dan terindah di Madura, yang sering menjadi pusat kegiatan keagamaan. Usai sholat, rombongan melanjutkan perjalanan menuju rumah ifan salah satu santri putra Darun Nun, untuk silatuhrahmi dan sarapan bersama. Pada pukul 05.00, mereka tiba di rumah Ifan dan disambut dengan hangat oleh keluarganya. Sarapan bersama ini menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi antar santri dan keluarga Ifan. Makanan yang disajikan pun menambah keakraban, dengan berbagai hidangan khas Madura yang menggugah selera.
Setelah sarapan, rombongan melanjutkan perjalanan ke PP Annuqayah, sebuah pesantren yang dikenal dengan banyaknya ulama dan santri yang berkualitas. Sebelum sampai ke PP Annuqayah tidak lupa bersilaturahmi ke rumah pengasuh PP Darun Nun yaitu Abi Halimi Zuhdy. Setibanya disana disambut oleh ebhu dari Abi Halimi Zuhdy. Suasana rumah yang tenang, tepatnya di Desa Guluk-guluk, Sumenep, tidak berlangsung lama semua rombongan menuju PP Annuqayah.

Tiba di Annuqayah pada pukul 09. 30, rombongan disambut oleh Kyai M. Faizi, pengasuh PP Al-Furqaan Annuqayah. Dalam pertemuan ini, Kyai M. Faizi memberikan sambutan hangat dan menyampaikan tentang nama Annuqayah, beliau menjelaskan nama Annuqayah itu memiliki arti yaitu inti sari. Silaturahmi sekaligus diskusi mengenai sastra, tentang bagaimana cara menulis puisi yang bagus dan penuh makna, kata beliau dalam menulis harus terus dilatih dan diulangi seketika bosan menulis ganti menulis esai ujar beliau. Salah satunya yaitu dengan membaca buku, walaupun ketika selesai membaca lupa apa yang dibaca kata beliau tidak ada yang sia-sia dalam membaca buku karena suatu saat buku yang pernah dibaca itu akan ingat dengan sendirinya.
Di momen sesi tanya jawab ada salah satu santri putri bernama hanif, bertanya tentang “Kesalahan di era sekarang adalah ketika membuat puisi langsung diterbitkan, kapan waktu yang tepat puisi yang saya buat itu diterbitkan?.” Beliau menjawab ada satu resep dalam membuat puisi yaitu tulis sebanyak-banyaknya dan buang kata yang tidak perlu agar menjadi puisi yang sedikit tetapi banyak maknanya. Para santri merasa sangat terinspirasi dan termotivasi dalam pemahaman tentang sastra.
Setelah silaturahmi, rombongan melanjutkan perjalanan menuju rumah Aida santri putri Darun Nun untuk silaturahmi dan makan siang. Pada pukul 12.30, mereka tiba di rumah Aida dan menikmati hidangan yang disiapkan oleh keluarga Aida. Momen makan siang ini bukan hanya sekadar mengisi perut, tetapi juga silatuhrahmi ke keluarga Aida dan cerita tentang pengalaman antara santri dan tuan rumah. Setelah makan siang, pada pukul 01.40, rombongan melanjutkan perjalanan ke Batang-Batang.
Di Batang-Batang, para santri berkesempatan untuk sowan kepada Kyai D. Zawawi Imron, seorang tokoh sastrawan Madura yang terkenal dengan puisi karyanya “Si Celurit Emas.” Pertemuan dengan Kyai D. Zawawi Imron, menjadi puncak dari perjalanan rihlah. Kyai D. Zawawi tidak hanya dikenal sebagai sastrawan, tetapi juga sebagai seorang ulama yang memiliki pemikiran mendalam tentang budaya dan sastra. Kyai D. Zawawi Imron memberikan nasihat bahwa dirinya adalah hamba Allah yang merupakan pangkat yang paling indah. Ada satu sajak beliau yang menohok, berbunyi “Telur dubur ayam yang mengeluarkan telur lebih mulia dari mulut intelektual yang menjanjikan telur”, sajak singkat ini, padat makna meskipun tak langsung menyindir politisi yang suka berjanji. Kyai D. Zawawi Imron juga membacakan puisi andalan beliau yang berjudul “Ibu” para santri sangat antusias mendengarkan puisinya beliau, banyak dari mereka yang terinspirasi dari puisinya beliau salah satunya adalah Mas Adib santri putra Darun Nun.

Rihlah ini tidak hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual dan intelektual yang menambah wawasan serta memperkuat hubungan antar santri. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemicu semangat belajar dan berkarya bagi seluruh santri Pondok Pesantren Darun Nun Malang. Semoga pengalaman berharga ini terus dikenang dan menginspirasi mereka untuk selalu mencari ilmu dan menjalin silaturahmi dengan para ulama serta sastrawan.
Pewarta: Dimas Indra Pratama







