
Oleh: Zahriyatun Nafiah
Hari ini adalah hari sabtu, seperti biasa masyarakat penjara suci telah memiliki agenda
roan atau kerja bakti. Pembagian jobdesk telah diumumkan oleh divisi terkait sejak malam
harinya tepatnya pukul 21.59. kebetulan di minggu kali ini aku mendapatkan jobdesk
memasak bersama 5 orang lainnya, namun sayangnya 2 lainnya berhalangan untuk
mengikutinya karena ada suatu urusan lain yang memang tidak bisa ditinggal. Dengan
membawa modal 50.000 untuk 4 menu makanan itu Aku dan partner kelompokku mulai
berbelanja di jam 7 pagi karena ada jadwal lain yang harus aku kerjakan. sesampainya di
penjual sayur, benar dugaanku, bahan masakan sudah banyak yang habis dan sisa bahan
masakan yang harganya lumayan mahal-mahal. Disitu aku dan temanku langsung merasa
kebingunan untuk menentukan menu masakan kali ini. Mau memilih menu yang ini tapi takut
uang nya kurang karena terlalu mahal mau yang satu lagi tapi sudah habis bahannya.
Seiring dengan kita yang tengah dilanda kebingungan itu datang seorang ibu baik hati
dan humoris datang dan membeli kebutuhannya. Tanpa ragupun aku menyapanya karena
tidak mau di cap orang sombong karena tidak mau menyapanya, karena memang kita sudah
lama kenal dan beliau sering sekali membantu.
“Ibuk….”.
“eeh mbak…”
“beli apa mbak?”
“ini buk mau masak-masak”.
“ooh iya iya…”
Tanpa berlama-lama ibuk itu langsung menyodorkan belanjanya ke penjual sayur untuk di
total harganya dan beliau terlihat terburu-buru karena ingin jalan-jalan sembari berolahraga.
“Mak aku ambil ini ya tolong ditotal aja nanti bayarnya, masih mau jalan-jalan, sekalin itu ya
mak punya mbak itu juga nanti saya yang bayar.”
Aku lansung kaget mendengarnya.
“Mbak ambil aja nanti biar saya saja yang bayar.”
“Mboten Usah buk, ini saya sudah bawa uang.” Penolakan halus karena sungkan.
“Ngga papa mbak biar aku dapat pahala, soalnya aku ngga punya pahala…” Ucapan beliau
yang selalu membuatku tertawa karena beliau memang orang yang humoris dan rendah hati,
padahal beliau sudah sangat sering memberi bantuan kepada orang-orang sekitarnya, namun
beliau selalu merasa bahwa beliau masih sangat rendah.
Dengan perasaan yang masih ragu dan sungkan akhirnya kami memilih bahan
masakan yang akan kami masak. Kami memilih kangkung dan kentang pada menu kali ini
karena kami tidak ingin dianggap sebagai santri yang tamak dan aji mumpung karena sudah
dikasi sama beliau. Kami mengambil bahan masakan itu tanpa sepengetahuan beliau karena
beliau sudah terlanjur pergi jalan-jalan. Kami berencana membeli 2 bahan masakan lainnya
dengan membawa uang 50.000 yang masih utuh tadi di lain tempat agar tidak meberatkan
beliau.
Setelah 4 bahan masakan sudah terpenuhi tanpa berlama-lama kita pun memulai
memasak satu persatu bahan masakan yang telah kita beli tadi dan tidak lama kemudian ada
paket datang, paket tersebut berisikan 2 jenis ikan dan 4 balok tempe yang lengkap dengan
bumbu marinasi serta minyaknya. Dan ternyata paket tersebut berasal dari ibuk. Tanpa
berlama lama aku langsung mengkonfirmasi lewat pesan wa.
“Assalamualaikum wr wb Bu ngapunten, ini tadi dapat ikan sama tempe leres dari
njenengan nggih?”
“Waalakumsalam Wr. Wb. Iya mbak, Semoga suka ya mbak.”
Dengan perasaan yang masih sungkan “Ya Allah bu tadi kan belanjaan saya sudah dibayari,
kok masih di kasi ikan?”
“Lha cumak sedikit belanjaannya, Itu yg ada tinggal tadi ikannya…ayame wis habis.”
Ibuk merasa bahwa bahan masakan yang kami beli tadi terlalu sedikit bagi beliau jadi beliau
berinisiatif untuk membelikan kita lauk tambahan untuk meengkapi menu kita kali ini.
Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih dan membalasnya dengan do’a semoga beliau
selalu diberi umur yang panjar, rizki yang melimpah dan berkah agar selalu memberi manfaat
kepada orang sekitarnya. Dan untuk kali ini aku hanyapunya satu doa yaitu
“Ya Allah
Lancarkanlah Rizkiku agar kelak aku bisa membantu orang lain seperti beliau yang telah
membantuku kali ini.”
Kejadian ini mengingatkan ku tentang artinya bersyukur, terus merasa cukup dan
tidak aji mumpung, karena setia rizki yang kita dapatkan pasti sudah ditata dan diatur oleh
Allah termasuk jalan datangnya rizki tersebut entah dengan usaha dan keringat kita sediri
ataupun dengan perantara orang baik yang ada disekitar kita.
Pondok Pesantren Darun Nun







