RAMADHAN SEBAGAI SYAHRUL TARBIYAH

Doc pribadi

Oleh: Syifaul
Fajriyah

 

Sistem
pendidikan di Indonesia dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan dan
perkembangan. Akan tetapi, terdapat satu hal yang masih tetap berdiri yaitu
pendidikan karakter. Mengembangkan pendidikan karakter pada diri bangsa
Indonesia sudah tertanam sejak bangsa ini sepakat untuk memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sepenting itukah pendidikan
karakter? Penting, karena pendidikan karakter sudah menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari upaya pembangunan nasional yang telah tertuang dalam Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005-2025. Oleh karena itulah, pendidikan di
Indonesia tidak akan lepas dari yang namanya pendidikan karakter. Hal ini dapat
dicermati dalam Standar Kompetensi Lulusan yang berlaku disetiap jenjang
pendidikan.

Soekarno atau
yang dikenal dengan Bung Karno bahkan menegaskan bahwasanya kemajuan dan
kejayaan Indonesia itu ada pada pembangunan karakter pada diri bangsa, namun
jika tidak dilakukan Indonesia akan menjadi bangsa kuli. Sayangnya, gambaran sesungguhnya
dari masayarakat Indonesia sendiri masih dikatakan minim karakter, seperti
perilaku budi pekerti yang belum dikatakan luhur, perintah Allah swt. masih
ditinggalkan, dan larangan-Nya pun dijalankan. Padahal sejatinya, karakter itu
nilai-nilai manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
dan lingkungan. Lalu, bagaimana cara untuk mengembangkan pendidikan karakter
pada diri anak? Terdapat banyak cara yang dilakukan, apalagi dibulan Ramadhan
ini.

Ramadhan
dapat menjadi wadah dalam mengembangkan pendidikan karakter pada diri anak.
Jika sikap spiritual sudah tertata dan tertanam pada diri anak, maka
kepribadian yang lain dapat tertata dengan mudah. Kecerdasan spiritual ini lah
yang sangat ditekankan dalam dunia pendidikan. Karena pasalnya, kecerdasan
spiritual pada anak dapat memicu kecerdasan yang lain, seperti kecerdasan
emosional (emotional quotient), kecerdasan memecahkan masalah (adversity
quotient
) dan kecerdasan intelektual (intellectual quotient). Inilah
yang menjadi alasan kenapa kegiatan pembelajaran yang berhubungan dengan
keagamaan lebih berhasil dalam membangun karakter anak. Di bulan Ramadhan,
kecerdasan spiritual yang ditanamkan pada diri anak pun beragam seperti
menjalankan ibadah puasa, pelaksanaan sholat terawih, pembacaan dan penghayatan
kitab suci Al-Qur’an, dan yang lain-lain. 

Sungguh
indahnya ramadhan, yang dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk
menghidupkan kembali nilai-nilai spiritualnya. Yang dapat menjadi sarana untuk
mengupgrade karakter dengan melatih dan membiasakan diri untuk mengenal kembali
kewajibannya sebagai seorang muslim. Puasa ramdhan juga dapat melatih perilaku
berkarakter seperti berlatih kejujuran, kesabaran, keikhlasan, sikap saling
mengasihi antar sesama, serta tidak pantang menyerah. Ketika nilai-nilai yang
luhur tersebut ter-revitalisasi kembali, maka nilai-nilai manusia yang arif dan
bijak dapat mewarnai hari-hari anak, dan nilai-nilai ini dapat membentuk
karakter anak yang shaleh. 

Inilah yang
dapat menjadi solusi dari permasalahan dalam krisis moral bahkan kenakalan
remaja. Sehingga sebutan bangsa kuli dapat terhindari. Pengimplementasian
pendidikan karakter di bulan Ramadhan ini sangat membutuhkan peran orangtua dan
pendidik. Sehingga dibutuhkan kerjasama antara keduanya. Di mana orang tua
sebagai pembimbing, pengawas, dan teladan. Sedangkan guru sebagai pendidik,
fasilitator, tutor, dan evaluator. 

Sejatinya,
orangtua adalah faktor terpenting dalam pengembangan karakter dalam diri anak.
Karena orangtua adalah cerminan diri bagi anak, dan dari merekalah watak serta
kepribadian anak akan terbentuk, yang nantinya akan mempengaruhi masa depan.
Oleh karena itulah, seorang ibu atau bapak seharusnya dapat memiliki kecerdasan
spiritual yang baik. Bukan hanya orangtua, guru pun harus memiliki kecerdasan
spiritual dan pedagogik yang memumpuni. Guru dapat mengkonsepkan berbagai
kegiatan religius di bulan ramdhan sehingga pendidikan karakter pada anak dapat
ter-realisasikan.

 

Referensi:

Samani, Muchlas dan Hariyanto. 2012. Konsep dan
Model Pendidikan Karakter.
Bandung: PT Remaja Roskarya.

Oki Dermawan. Pendidikan Karakter Siswa Melalui
Ibadah Puasa.
Vol. 8, No. 2, Agustus 2013

   Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp