![]() |
| Sumber foto: republika.co.id |
Oleh: Hariski Romadhona S.
Ridho Kyai memanglah harus dicari oleh para santri. Sepintar apapun kita namun kalau Kyai atau Guru kita tidak ridha maka semua itu hanya sia-sia. Karena ridho Allah ada di tangan Kyai selaku Guru kita mondok atau belajar agama. Konklusi itu muncul dari premis bahwa
رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
Bahwasanya ridho Allah terletak pada ridhonya orang tua dan murkanya pun demikian. Sementara ketika kita mondok “ Kyai adalah orang tua (ruh) santri juga”. Maka ridho Allah juga terletak kepada ridho Sang Kyai.
Banyak cerita cerita unik para Kyai Kyai kita dalam menuntut ilmu untuk ngalab barokah dan ridho gurunya. Diantaranya adalah cerita KH. Hasyim Asy’ari ketika masih belajar agama kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Cerita ini al faqir dapatkan ketika masih belajar di ma’had.
Dulu Kyai Hasyim ketika mondok di Bangkalan menjadi abdi ndalem. Pekerjaan beliau setiap harinya adalah ngopeni ndalem[1], mulai dari nyapu, mencuci baju Syaikhona sampai menyiapkan alas tidur Syaikhona Kholil. Singkat cerita, pada waktu itu istri Syaikhona lagi hamil dan tiba tiba ngidam minum kelapa muda yang ada di belakang ndalem. Lalu Syaikhona memanggil Kyai Hasyim untuk mengabulkan permintaan Bu Nyai. Tanpa berfikir Kyai Hasyim langsung sami’na wa atho’na. Kemudian Syaikhona dan Kyai Hasyim ke belakang ndalem dan kemudian Kyai Hasyim memanjat kelapa. Tiba tiba setelah Kyai Hasyim sampai puncak Syaikhona ditimbali santri lain karena ada tamu di ndalem. Kemudian Syaikhona Kholil bergegas untuk menemui tamu tersebut.
Malam harinya kegiatan pondok berjalan seperti biasa. Ba’da sholat isya’ yaitu jadwalnya ngaji kitab bandongan[2]. Seusai Taklim selesai Syaikhona bertanya kepada salah seorang santri “ Cung[3], aku kok tidak lihat Hasyim ngaji, kemana anaknya ?” kemudian santri tersebut menjawab “ tidak tahu Syaikhona, dari sore Hasyim tidak kelihatan”. Kemudian Syaikhona teringat bahwasanya tadi sore Hasyim bersama beliau ke belakang ndalem untuk memetik kelapa muda. Syaikhona kemudian bergegas ke belakang ndalem dan betapa kagetnya beliau kalau Kyai Hasyim masih berada di atas pohon kelapa. “Ya Allah, Hasyim kowe kok sek nk kono ? ayo mudun !”[4]kata Syaikhona kepada Kyai Hasyim. Kemudian Kyai Hasyim menjawab dengan tawadhu’ “ Nggeh Kyai, amergi wau dereng njenengan utus mandap”.[5]
Dari cerita singkat tersebut kita bisa belajar dari ketawadhuan Kyai Hasyim kepada Kyainya yaitu Syaikhona Kholil. Apa yang diperintah Kyainya langsung dilaksanakan tanpa berpikir panjang. Dulu juga diceritakan bahwasanya Kyai Hasyim di Bangkalan ikut ngaji itu pasti telat. Karena memang abdi ndalem jadi harus menyelesaikan pekerjaan ndalem baru ikut ngaji. Dan sering ketika baru duduk ikut ngaji Syaikhona Kholil sudah mengakhirinya dengan mengucap “Wallahu A’lam bi Showab”. Memang dalam hati kecil Mbah Hasyim agak kesal karena tiap baru gabung ngaji Kyai sudah menutupnya. Tetapi Kyai Hasyim tetap istiqomah dan selalu hormat kepada Kyainya. Karena memang yang diharapkan semata mata hanyalah barokah.
Alhasil bisa kita lihat sekarang bahwasanya Kyai Hasyim menjadi Ulama Besar dan merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di Negeri ini. Beliau merupakan Muassis Pondok Pesantren Tebuireng dan Organisasi Masyarakat (Ormas) terbesar yakni Nahdlatul Ulama. Saat akan mendirikan NU Syaikhona kemudian memberikan tongkat dan tasbih kepada Kyai Hasyim lewat Kyai As’ad Syamsul Arifin. Hal tersebut merupakan tidak lain adalah pemberian restu dan dukungan dari Guru kepada muridnya.
Guru guru kita juga sering menyampaikan bahwasanya selain kita harus alim dalam segi keilmuan kita juga harus berakhlaqul karimah. Karena “Al Adabu Fauqal ilmi” adab diatas ilmu. Kita harus hurmat dan taat kepada guru-guru kita agar ilmu yang kita dapatkan, kelak menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah. Seperti yang disampaikan Ustadz Ali Musthofa ingat ingat sampai sekarang ialah “Ridhone Kyai Pangkate Santri”. Walaupun ilmu yang kita pahami sedikit namun Kyai kita ridho maka ilmu itu insya allah alkan bermanfaat. Semoga kita semua mendapat ridho dan keberkahan dari para Masyaikh dan tentunya ridho dari Allah SWT amiin …
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
[1] Merawat ndalem
[2] Kyai baca santri maknani
[3] Panggilan orang madura kepada anak laki laki, Ex : Nak, Le
[4] Ya Allah Hasim, kamu kok masih disitu ? Ayo turun !
[5] Ya Kyai, soalnya tadi belum Kyai suruh untuk turun








