RUANG KELAS

Oleh : Hilwah Tsaniyah
 

Dua tahun yang lalu tepat di sini, di ruangan kelas yang penuh
dengan sejuta kenangan di dalamnya. Aku di sini untuk sekedar melihat tempat
dimana keluh kesah dan rasa senang itu dirasakan bersama-sama aku sedang
kembali dari tanah rantauan yang nun jauh di sana. Aku berdiri dan
memperhatikan setiap inci dari ruanga ini. Meja dan kursi yang berpasangan dan berjejer
dengan rapi itu telah usang, sama seperti saat terkahir kali aku lulus dan
meninggalkan sekolah ini. Hanya cat dindingnya saja yang telah berubah menjadi
warna kuning yang membuatnya terlihat paling mentereng di antara sawah-sawah
yang baru di tanami padi.
Keadaan kelas ketika jam kosong dan tak ada guru pengganti yang
mengajar yang terekan jelas di otakku, kami menggunakan waktu luang tersebut dengan
ada yang mengobrol bersama teman sebangku bahkan beberapa murid perempuan
membuat kelompok kecil, juga ada yang mengulang pelajaran untuk jam pelajaran
selanjutnya atau hanya sekedar merebahkan kepalanya di meja belajar kemudian
menuju ke alam mimpinya masing-masing.
Sedangkan aku memilih untuk menonton video yutub untuk
menghilangkan penat dari menghitung rumus-rumus yang sejak pagi tadi memenuhi
otak dan pikiranku. Hanya aku murid perempuan yang di tempatkan di bangku
paling belakang dan seorang diri, tempat duduk kami memang sudah diatur oleh
wali kelas dan kebetulan jumlah murid perempuan yang ada di kelas kami
berjumlah ganjil. Namun aku tak pernah mempermasalahkannya, bahkan aku
bersyukur akan hal itu.
Sama seperti Bimo salah satu murid laki-laki yang duduk seorang
diri di bangkunya karena siswa laki-laki yang juga kebetulan  berjumlah ganjil. Namun berebeda denganku dia
duduk di bangku urutan ke dua dari depan, karena semua murid laki-laki yang
hanya berjumlah tujuh itu semua di tempatkan di bagian bangku barisan ke dua
dari depan dan barisan  sisanya di
tempati murid perempuan. Dibanding kelas-kelas yang  murid laki-lakinya jumlahnya mencapai sembilan
atau sebelas orang.
Bimo datang menuju meja belajar ku dengan membawa laptopnya
mengajak ku untuk nonton bersama film yang dia tonton, aku langsung mengiyakan
permintaannya dan meghentikan vidio yang sedang ku tonton juga segera ku
matikan laptop ku. Karena apa yang Bimo tonton sudah pasti film yang seru dan
punya rating yang bagus, dan anak-anak satu kelaspun mengetahui hal itu.
Benar saja tak lama setelah itu anak-anak satu persatu datang menuju tempat
duduk ku untuk menonton bersama film yang di putar oleh Bimo.
Seperti sudah menjadi kebiasaan ketika tidak ada jam pelajaran,
kami berdua aku dan Bimo mengisinya dengan menonton film atau bahkan membahas
mata pelajaran yang belum terselesaikan di tempat duduk ku. Aku merasa kita
semakin dekat dan diam-diam aku menyimpan perasaan kepadanya tapi ku tepis
perasaan itu dan ku buang perasaan itu jauh-jauh. Bimo memang supel dan humoris
karena itu banyak teman-teman di kelas maupun teman-teman seangkatan yang
menyukai kepribadiannya yang supel dan humoris.
Sikapnya terhadapku yang membuat aku juga yakin bahwa dia
menyukaiku seperti beberapa kali kutemui matanya melirik ke arah ku dan kadang
memperhatikanku ketika aku presentasi atau hanya sekedar maju ke depan kelas.
Ia juga sering bercanda yang selalu menyebut namaku untuk bahan leluconnya,
Tapi aku tak pernah marah akan hal itu malah dia membuatku selalu terpaksa  menertawai leluconnya yang agak garing
itu.
Ada salah satu kegiatan kelas dua belas yang sangat menyenangkan
adalah Study Tour. Kami sangat menunggu-nunggu kegiatan ini walaupun
kegiatan ini diadakan di Hari Minggu, dimana hari minggu adalah hari yang tepat
untuk sekedar berleha-leha di atasa kasur karena selama enam hari sebelumnya
sekolah masuk setiap hari. Namun kami tetap merasa senang karena akan banyak moment
yang kami dapat walaupun hanya di dapat oleh jepretan foto. Kegiatan tersebut
hanya berlangsung selama satu hari, kami diarahkan untuk datang pagi-pagi
sekali kemudian berkumpul di lapangan sekolah dan berangkat menggunakan bus-bus
yang telah disediakan oleh sekolah menuju lokasi yang telah ditentukan.
Selesai
sudah perjalanan yang cukup melelahkan itu walaupun hanya selama seharian full,
namun tetap menyenangkan karena dapat berlibur bersama teman-teman sekelas
bahkan satu angkatan, menghirup udara segar yang selama beberapa bulan ini
selalu berkutat dengan latihan-latihan soal UN (Ujian Negara). Keesokan harinya
kami masuk sekolah seperti biasanya hanya mengerjakan latihan-latihan soal UN.
Namun ada yang berbeda dengan Bimo ia jadi diam, tak lagi duduk di tempatku,
tak lagi bergurau denga ku atau bahkan hanya sekedar menyapa ku ketika kita
berpapasan.
Kemudian lamunanku buyar oleh teriakan yang menyebut-nyebut namaku
dari luar kelasm, bergema karena keadaan sekolah yang sepi. Ternyata dia telah
mencari-cari ku sedari tadi, teman-teman yang lain sudah menungguku di lapangan
sedari tadi katanya. Aku pun mengiyakannya dan mengikuti langkahnya sampai
menuju ke lapangan.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp