Sahabat di Bawah Pohon Kenangan

Sahabat di Bawah Pohon Kenangan
OLEH : CHAYDIR ILMA

Di halaman belakang sekolah dasar itu, berdiri sebuah pohon beringin tua yang
rindang. Akar-akarnya besar menjalar ke tanah, memberikan tempat teduh yang
nyaman. Tempat itu menjadi saksi lahirnya persahabatan dua anak kecil bernama
Raka dan Dimas. Sejak kelas satu, mereka duduk sebangku. Raka dikenal
pendiam, sementara Dimas justru cerewet dan penuh ide. Meski berbeda sifat,
mereka cepat akrab. Setiap jam istirahat, keduanya berlari ke bawah beringin. Ada
hari-hari ketika mereka bermain kelereng, petak umpet, atau sekadar berbaring
menatap langit sambil bercerita tentang cita-cita.
“Kalau besar nanti aku mau jadi arsitek,” kata Raka sambil menggambar gedung-
gedung di tanah dengan ranting kecil. “Aku mau jadi penulis. Nanti aku yang menulis
buku tentang gedung-gedung hasil karyamu!” sahut Dimas penuh semangat. Mereka
pun tertawa keras. Di bawah pohon itu, seolah tak ada yang mustahil.

Hari Perpisahan

Namun, waktu berjalan cepat. Ketika mereka naik kelas lima, Dimas mendapat
kabar bahwa ayahnya dipindahtugaskan ke kota lain. Berita itu menghantam Raka
seperti petir di siang bolong. Selama ini, ia selalu punya Dimas di sisinya.
Bagaimana jika tiba-tiba ia harus berjalan sendiri?
Hari perpisahan itu, Raka menunduk saja. Dimas menepuk bahunya. “Jangan sedih,
Rak. Kita masih bisa berkirim surat. Aku janji suatu saat akan balik ke sini.”
Untuk mengabadikan janji, mereka menuliskan pesan kecil di batang pohon beringin
dengan spidol hitam: “Sahabat selamanya – R & D.” Tulisan sederhana itu menjadi
lambang ikatan yang tak terputus.

Jejak Waktu

Tahun berganti. Setelah lulus, Raka melanjutkan sekolah menengah dan akhirnya
kuliah di jurusan arsitektur. Meski sibuk belajar, ia selalu menyempatkan diri
berkunjung ke sekolah dasar lamanya. Pohon beringin tua itu masih kokoh berdiri,
dan setiap kali ia membaca tulisan kecil di batangnya, kenangan bersama Dimas
seolah hidup kembali.
Awalnya, mereka masih saling berkirim surat. Dimas menulis cerita-cerita lucu
tentang sekolah barunya, sedangkan Raka menggambar sketsa gedung dan
mengirimkannya lewat pos. Namun, seiring bertambahnya usia dan kesibukan,
surat-surat itu semakin jarang datang, hingga akhirnya berhenti sama sekali.

Meski begitu, Raka tidak pernah benar-benar melupakan sahabatnya. Ia masih
sering bertanya-tanya: Bagaimana kabar Dimas sekarang? Apakah ia masih
menulis? Apakah ia juga masih mengingat janji kecil di bawah pohon beringin?
Pertemuan Tak Terduga
Suatu sore, setelah bertahun-tahun berlalu, Raka yang kini sudah bekerja sebagai
arsitek muda kembali mengunjungi sekolah dasar lamanya. Hanya sekadar
bernostalgia, melepas rindu pada masa kecil yang indah.
Langkahnya terhenti ketika melihat seseorang berdiri di bawah pohon beringin.
Sosok itu tampak memperhatikan batang pohon dengan wajah penuh kenangan.
Rambutnya agak berantakan, namun senyumnya begitu familiar.
“Rak?” suara itu terdengar ragu tapi hangat. Raka menoleh. Matanya terbelalak.
“Dim?”
Mereka saling menatap sejenak, lalu tertawa, kemudian berpelukan erat. Semua
jarak dan waktu yang memisahkan seolah runtuh begitu saja. “Aku kira kau sudah
lupa janji kita,” kata Raka sambil menunjuk coretan lama di batang pohon. Tulisan itu
masih samar, tapi tetap terbaca.
“Mana mungkin aku lupa? Tulisan itu yang selalu membuatku ingin kembali,” jawab
Dimas dengan mata berkaca-kaca.
Kenangan yang Abadi
Hari itu mereka duduk di bawah pohon beringin, persis seperti dulu. Raka bercerita
tentang pekerjaannya mendesain bangunan, sementara Dimas dengan bangga
mengaku baru saja menerbitkan buku pertamanya. “Kau masih ingat cita-cita kita
waktu kecil?” tanya Dimas.
“Ya, dan ternyata kita benar-benar mewujudkannya,” jawab Raka tersenyum.
Mereka kembali tertawa seperti dua anak kecil yang baru saja menemukan dunia.
Sebelum pulang, Dimas berkata, “Persahabatan itu seperti pohon beringin ini, Rak.
Akar-akarnya kuat menancap di tanah. Meskipun badai datang, pohon ini tetap
kokoh. Begitu juga kita. Waktu bisa memisahkan, tapi tak bisa memudarkan.”
Raka mengangguk pelan. Ia menyadari, persahabatan sejati bukanlah tentang
seberapa sering mereka bertemu, melainkan seberapa dalam mereka saling
mengingat dan menjaga janji. Penutup
Sejak hari itu, mereka berdua berjanji untuk tidak lagi kehilangan kabar. Mereka
saling mendukung, saling menguatkan, dan menjadikan pohon beringin tua itu
sebagai simbol bahwa persahabatan sejati tidak akan pernah pudar, meski diterpa
waktu. Persahabatan Raka dan Dimas adalah bukti bahwa ada hal-hal dalam hidup
yang tak bisa digantikan oleh apa pun: kenangan, janji sederhana, dan ikatan hati
yang tulus. Pohon beringin tua itu

 

Pondok Pesntren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp