![]() |
| Dok. Pribadi |
Sudah hal umum jika di setiap daerah terdapat orang
gila atau orang yang sakit jiwa, termasuk di daerahku. Sambadri yang memiliki
nama asli San-Baderi adalah ikon orang gila paling nyentrik dan unik di desa
kami. Tubuhnya kurus, rambutnya ikal sebahu dan berwarna coklat kekuningan
karena terbakar matahari. Usianya sekitar 60-an tahun waktu itu sehingga kumis dan jenggot tipis
di wajahnya sudah mulai memutih. Sambadri selalu memakai setelan baju
berkancing yang kancingnya hilang beberapa serta celana jeans cutbray
yang sobek di salah satu bagian lututnya. Sejak kecil, aku dan teman-temanku
selalu menjadikan Sambadri sebagai bahan lelucon dengan menjahilinya dan
memberikan bungkus jajan yang berisi batu kerikil atau tanah liat. Baru jika ia
mulai mengamuk, kami akan lari terbirit-birit dan bersembunyi di atas pohon
jambu biji. Kami memang terkenal sebagai bocah laki-laki ingusan yang tak bisa
diam dan berhenti kalau belum kena batunya.
Setiap
hari, Sambadri berjalan mondar-mandir dengan membawa karung besar di pundaknya
dan mengelilingi seisi desa. Malam harinya, ia tidur di posko-posko yang
biasanya didirikan di perempatan jalan. Sudah hampir 20 tahun Sambadri menjadi
gila begitu, sejak ayahku masih muda. Kata Ayahku, sambadri tak punya rumah.
Namun Ia tinggal bersama adik iparnya di desa Kabupaten sebelah dan hanya
kembali ke sana sewaktu-waktu.
Kawan,
coba tebak apa isi karung besar yang selalu ia bawa itu? Sampah plastik! Jika
kau berfikir bahwa sampah plastik itu adalah jenis sampah seperti botol
minuman, kaleng bekas atau kardus yang bisa dijual ke pengepul, kalian salah.
Itu benar-benar sampah plastik dari mulai bungkus permen, bungkus makanan
ringan, segel botol, sampai bungkus bumbu penyedap masakan! Jika kau membuang
sampah plastik sembarangan dan ketahuan Sambadri, tidak main-main, kau akan
dikejar dan dipukul dengan tongkat besi kecil panjang yang biasa ia bawa.
Sambadri mencintai sampah plastik hingga ia
tak akan membiarkan siapapun membuangnya sembarangan. Ia sering mengomel di
belakang rumah kami ketika menemukan kami mencampur sampah plastik dan sampah
organik bekas sayuran atau daun-daun. Maka, dengan sukarela ia akan memisahkan dan
membakarnya. Banyak dari kami yang memanfaatkan Sambadri sebagai tukang bersih pawoan
atau TPA rumah tangga yang biasanya dibuang di belakang rumah dekat pohon
pisang atau di dekat lubang bekas galian kolam kecil. Dan karena pekerjaannya
inilah warga desa biasanya memberikan tanda terima kasih kepadanya berupa
makanan, uang, atau pakaian. Tak ada yang tahu kemana ia membuang sampah-sampah
plastik yang telah ia kumpulkan selama seharian itu. Sungguh, Sambadri sangat
cinta kebersihan. Namun, orang-orang termasuk kami, malah menganggapnya gila.
Pernah
suatu waktu, saat aku masih kelas 3 SMP, sepupuku yang nakal bernama Helmi yang
saat itu masih duduk di bangku kelas 5 SD, muak dengan kelakuan Sambadri dan
nekad untuk mengambil paksa karung yang ia bawa lalu berlari dan melemparkan
isinya ke sungai. Jujur saja, senakal-nakalnya aku dan gengku, kami tidak
pernah berani menyentuh karung bawaan Sambadri sebab membuang sampah
plastik di dekatnya saja sudah diomeli dan dikejar-kejar sambil mengangkat
tongkat besinya.
Sampah-sampah
plastik itu berhamburan ke sungai dan ikut terbawa arus sungai. Sepupuku santai
saja, ia malah menantang sambadri dengan ejekan yang sok pahlawan, tanpa tahu
jika lelaki separuh baya itu sedang murka. Seperti kecepatan harimau menerkam
rusa, Sambadri menarik tangan sepupuku dan menyeretnya ke dalam sungai. Lalu
dengan gerakan agresif seperti orang kesetanan, ia mencengkram rambut sepupuku
dan menenggelamkan wajahnya berkali-kali ke sungai sambil menggumamkan
amarah.
Pemandangan
itu sangat menyeramkan kawan, sampai-sampai teman-teman sepermainan Helmi
mengira anak kecil itu akan mati kehabisan nafas. Helmi terus meronta dalam
genggaman pria tua itu. tapi sambadri tidak memberi ampun. Anak-anak yang
menyaksikan berlari tunggang langgang buru-buru memanggil para orang tua.
“Sambadri
ngamuk!! Helmi mau dibunuh!”
Untungnya,
ayahku yang sedang mengurus tanaman cabai di pematang sawah, buru-buru
menyelamatkan Helmi dari tangan Sambadri. Penduduk lain yang terprovokasi
dengan kawan-kawan Helmi segera berlari sambil meneriaki pria tua itu. Mereka
juga semakin membabi buta kepada Sambadri dan jika saja ayahku tidak ada di
tempat, Sambadri bisa mati dipukuli dan Helmi mati kehabisan nafas. Karena
masih meronta meski dalam genggaman ayahku, pamanku dan para tetangga
memutuskan untuk mengikat Sambadri kuat-kuat. Semua orang menyalahkan dan
mencaci maki Sambadri, kecuali Ayahku yang memang menyaksikan kronologi
kejadian.
Kawan,
aku dilema menyaksikan pemandangan memilukan itu. di satu sisi, aku kasihan dengan
Helmi yang pingsan digendong oleh ibunya. Namun disisi lain, aku juga kasihan
dengan Sambadri yang selalu saja dijahili orang-orang. Aku tidak pernah melihat
sambadri mengamuk sedemikian dahsyat bahkan kepada anak kecil. Dulu, sewaktu
mengamuk, ia hanya sebatas pura-pura berlari dan mengayunkan tongkatnya ke
udara, pura-pura memukuli kami. Ayahku juga bercerita bahwa meski gila,
Sambadri tidak pernah menyakiti orang lain. Yang menjadi pertanyaanku setelah
kejadian itu adalah, kenapa Sambadri begitu mencintai sampah? Kenapa ia sampai
mengamuk sedemikian ganas ketika ada orang yang mengganggu “Sampah” nya? Apa
yang spesial dari sampah plastik yang ia kumpulkan?
Sayang
seribu sayang, Sambadri yang kerap mengomeli anak-anak jorok kurang ajar, tidak
peduli pada masa depan bumi dan masa depan mereka sendiri, kini dikurung di
dalam rumah adik iparnya karena takut peristiwa ia akan membahayakan nyawa
terulang untuk kedua kalinya. Pengurungan itu terjadi tepat sehari setelah
Helmi hampir mati.
Sejak
saat itulah, kami tak pernah menyaksikan kembali kehadiran Sambadri.
Aneh,
kampung kami jadi sunyi. Aku merasakan kesunyian yang mendalam. Tak ada lagi
suara sapaan orang-orang menggoda Sambadri saban siang. Tak ada anak-anak yang
saling bersahutan memanggil Sambadri sebagai bahan hiburan. Tak ada orang yang
membakar sampah rumah tangga di dekat got dan selokan. Sejak hari itu,
aku sudah tak pernah tahu kabarnya lagi, karena di saat bersamaan aku juga
harus pergi ke Pondok Pesantren nun jauh di pulau jawa untuk melanjutkan
studiku.
Setelah merantau dan sekolah di kota,
pertanyaan-pertanyaanku yang kusimpan selama tujuh tahun itu perlahan mulai
terjawab. Kini, aku mulai paham, bahwa sambadri tidak gila, ia justru adalah
penyelamat masa depan dunia!
Isu lingkungan seperti perubahan iklim yang
diakibatkan oleh sampah dan pencemaran lingkunagn semakin parah di muka bumi
ini. Sehingga mau tidak mau memaksa para pecinta lingkungan, terutama dari
kalangan pemuda untuk menggencarkan aksi menyelamatkan bumi. Setelah mengikuti
seminar dan kegiatan lingkungan, aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang
gila paham mengenai sampah dan dampaknya di masa depan? Ditambah lagi, ia
selalu melakukan trash walk –sesuatu yang kini sedang menjadi tren
sosial- padahal orang gila kampung kami sudah melakukannya jauh-jauh hari
sebelum istilah itu populer di kalangan aktivis lingkungan. Jadi, siapa
sebenarnya Sambadri?
Maka
kawan, dengarkan kisah ini
Saat
kuliah, aku mengambil jurusan sosiologi. Aku juga bersyukur karena keaktifan di
organisasi kampus, aku bisa mengenal salah satu dosen hebat bernama Prof.
Hamid. Beliau merupakan dosen senior yang cinta mengajar sehingga meninggalkan
masa pensiunnya demi bisa mengajar kembali. Aku sering datang ke kantor bahkan ke rumah beliau untuk
berkonsultasi mengenai keilmuan dan juga mendatangi beliau untuk bimbingan.
Prof. Hamid adalah dosen yang sangat baik dan ramah, tapi disiplinnya bukan
main. Namun, sekali kita mengambil hatinya, beliau akan menganggap kita seperti
anaknya sendiri. Beliau adalah lelaki berumur 75-an tahun dengan tubuh tinggi besar dan kulit kuning
langsat. Hidung dan matanya sama-sama tajam, memberi kesan ketegasan dalam
sekali lihat.
Suatu
hari, ketika aku mengirim pesan via whatsapp kepada beliau untuk bimbingan,
Prof. Hamid menyarankanku untuk datang ke rumahnya karena beliau baru pulang
dari luar kota. Selesai bimbingan, Prof. Hamid memintaku untuk membuatkan kopi
untuknya, karena sang istri belum kembali dari rumah mertuanya. Aku segera
membuatkannya kopi meski ini pertama kalinya aku masuk ke dalam rumah Prof.
Hamid selain di ruang tamu. Saat aku melewati ruang tengah, kulihat ada sebuah
bingkai foto yang dipajang di dinding dekat pintu pembatas dengan ruang tamu.
Itu adalah foto lama yang menampilkan sepasang pengantin dengan pakaian adat
jawanya dengan Prof. Hamid di sisi pengantin pria dan seorang lelaki di sisi
pengantin wanita. Foto itu sangat menarik perhatianku sehingga setelah menyajikan
kopi di meja Prof. Hamid, aku kembali ke ruang tengah untuk mengamati foto itu
lamat-lamat. Seperti ada sesuatu yang sangat familiar di otakku, namun sulit
diuraikan.
Bingo!
Aku
terperanjat dan segera berlari menghampiri Prof. Hamid. Beliau bertanya padaku
mengapa aku sampai kaget seperti itu.
“Prof…
mohon maaf, kalau saya boleh tahu, siapa orang di foto ini? karena sepertinya
saya sangat familiar…”
Tanpa
menjawab, Prof. Hamid bangkit dan mencondongkan kepala untuk ikut melihat foto
yang kumaksud.
“Oh,
Foto ini…” kata Prof. Hamid dengan air muka yang bersemangat.
“Ini
foto kawan saya sewaktu kuliah dulu, namanya Sam, kenapa? kamu kenal?”
“Sam…
Sam…. Sambadri?” Aku terbata mengucapkan namanya. Meski Sambadri di kampungku
sudah tua, dan Sambadri si mempelai pria ini masih muda, tapi aku yakin mereka
adalah orang yang sama.
Prof.
Hamid terkejut dan segera menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan. “Kamu
kenal orang ini? Iya betul, namanya Sambadri! Tapi bagi saya itu adalah nama yang
cukup langka, tidak semua orang tahu. Tapi bagaimana kamu bisa tahu, Bud? Apa
kamu sekampung dengan dia? Bagaimana keadaan Sam sekarang? Ah.. Kenapa kamu
tidak bilang dari dulu kalau kamu kenal Sam?”
Aku
hanya mengangguk kagum. Namun sebelum aku sempat menjawab, Prof. Hamid mengusap
wajahnya dengan kedua tangannya “Oalah gusti… bertahun-tahun lamanya saya
cari kabar tentang Sam dan baru kali ini saya mendapatkan petunjuk.”
Prof.
Hamid lalu mengajakku untuk duduk kembali di ruang tamu. Ia berkali-kali
menepuk bahuku dengan bersemangat.
“Sambadri
dulu kawan saya di kampus, kawan dekat. Namun setelah menikah dan pindah, saya
tidak mendengar kabarnya lagi. Dia aktivis kampus yang paling semangat diantara
kami. Bagaimana keadaan dia sekarang, Bud?”
Aku
terdiam sebab tak tahu bagaimana cara menjelaskan bahwa Sambadri adalah orang
gila. Tak tahukah Prof. Hamid bahwa sambadri gila? Batinku dalam hati.
“Eh…
anu Prof… Saya terakhir ketemu sambadri sewaktu mau lulus SMP itu,
setelahnya saya mondok di sini sampai kuliah, jadi saya sudah tidak
banyak dengar kabar tentang dia lagi, tapi…”
“Tunggu,
jadi dia tetanggamu atau bagaimana Bud?” tanya Prof. Hamid memotong
pembicaraanku.
“Anu..
maaf sebelumnya Prof… sambadri itu.. eh.. sambadri itu orang gila kampung
kami, Prof.” terbata aku mengatakannya sebab takut Prof. Hamid akan terkejut.
Tapi ternyata dia hanya terdiam dan raut mukanya berubah menjadi sendu.
“Jadi
benar yang dikatakan orang-orang. Sambadri menjadi orang gila…”
Aku
mengangguk. Tapi Prof. Hamid mulai bercerita.
“Saya
ingat sekali dulu… di awal tahun 80-an, saya bertemu Sambadri di kampus. Kami
berada di jurusan dan kelas yang sama. Dia adalah anak yang pintar dan baik,
tapi nakal, berandal, banyak bicara, jorok, dan tidak rapi. Tapi, tipe orang
seperti itu yang biasanya menjadi aktivis kampus, kan Bud?” aku mengangguk saja
menanggapi pertanyaan Prof. Hamid.
“Kami
berkawan baik sekali meskipun kepribadianku dengan Sam sama sekali berbeda.
Tahukah kamu, Bud? Saya sudah lama mendengar kabar bahwa sambadri gila.
Tapi, saya selalu menolak keras kabar tersebut karena saya mengerti Sambadri
tidak gila. Sam memang begitu perangainya. Sam tidak mungkin menjadi gila tanpa
ada penyebabnya.
Tahun
81, masa penerimaan mahasiswa baru di kampus kami, Sam mengenal seorang gadis
yang sangat pintar dan berani, sampai Sam sendiri di-skaknya
mati-matian. Ia adalah gadis Melayu yang cantik, matanya kecil tapi wawasan yang di gambarkan
di sorot mata tersebut seluas samudera. Rambutnya
hitam panjang sebahu yang dikuncir kuda dan terkadang ditutupi selendang halus
transparan. Waktu itu kami duduk di kantin -yang saat itu menjadi tempat
diskusi favorit kami- membicarakan masalah penggunaan plastik yang baru-baru itu
diterapkan di beberapa daerah di Indonesia. Sam tentu saja, mendukung rencana
itu dengan alasan keefisienan dan kemudahan yang akan didapatkan oleh umat
manusia dengan plastik.
‘Penjual
makanan tidak perlu lagi susah-susah mencari daun pisang atau daun waru, dengan
bungkus plastik yang murah, para pedagang akan sangat terbantu. Para konsumen
juga akan dimudahkan karena makananya bisa awet dan aman dibawa kemana-mana.
Pokoknya, akan lebih efisien.’ Kata asm berapi-api di meja kami.
Aku,
dan 4 orang lain dalam geng kami, setuju dengan gagasan Sam. ‘Yang lebih baik
lagi, plastik bisa mencegah penebangan pohon di hutan. Bagaimana bisa? Yaitu
dengan mengganti penggunaan kayu sebagai furniture rumah tangga dengan plastik.
Seperti kursi, meja yang terbuat dari plastik dengan harga yang jauh lebih
murah, sehingga kesejahteraan warga Indonesia juga bisa merata.’
Saya
lihat, di meja sebelah kami, tepat di belakang Sam, juga terdapat segerombolan
gadis yang sedang berbincang, sedang menggosip sepertinya. Begitu mendengar
pidato Sam, yang sebenarnya juga tidak terlalu keras, salah satu gadis
itu membalikkan badan dan menatap geng kami dengan penuh selidik dan saya rasa
juga menampakkan kebencian.
Selesai
berdiskusi dan ketika kami hendak bubar, gadis yang kulihat tadi menghentikan
langkah Sam. ‘Halo kak, bisa bicara sebentar?’ Sam tersenyum dan setuju. Ia
mengira kepopulerannya telah membuat gadis ini terpesona olehnya.
‘Bolehkah
saya ikut?’ Tanya saya.
‘Maaf
kak, saya ingin bicara berdua saja dengan kakak ini.’ Kata si gadis. Aku pun
tertawa dan menggoda Sam lalu berlalu meninggalkan mereka berdua di meja yang
tadi kami tempati. Saya kira, gadis itu dan Sam akan membincang tentang asmara
cinta pada pandangan pertama. Namun, saya salah. Sepulang dari kantin, di kosan
kami, aku mendengar Sam masuk dan membanting pintu dengan keras.
‘Sialan!
Baru kali ini pendapatku ditentang oleh seorang perempuan!’ katanya berapi-api
‘Pendapat yang mana Sam?’ Tanya saya. Rupanya pendapat mengenai plastik tadi
yang ditentang oleh si gadis. Kata Gadis Melayu itu: ‘Saya tidak setuju dengan
pendapat anda yang mengemukakan bahwasanya plastik akan memudahkan hidup banyak
orang. Iya, pada awalnya plastik akan terlihat seperti itu, dan semua orang
akan beralih menggunakan plastik. Tapi, coba anda pikirkan kembali apa yang
akan terjadi di masa depan jika plastik terus diproduksi besar-besaran. Anda
salah jika mengatakan bahwa jika ada plastik, penebangan pohon di hutan akan
berkurang. Karena, persentase penggunaan plastik sebagai pengganti furniture
rumah tangga hanya sekian persen. Selebihnya pohon akan tetap ditebang untuk
memenuhi kebutuhan manusia yang lainnya. Kakak, jika anda menyetujui penggunaan
plastik saat ini dan untuk masa depan, kakak harus bersiap-siap menemui kiamat
bahkan kurang dari seratus tahun dari sekarang.’ Gadis itu berkata dengan nada
yang tegas dan tenang. Seolah-olah seratus persen yakin bahwa prediksinya
paling benar.
Saat
itu saya tercengang sekaligus kagum dengan pemikiran Gadis ini. Bagaimana mungkin
ia bisa memprediksi akibat penggunaan suatu produk hingga 50 tahun ke depan?
Apa yang dilontarkan gadis itu sungguh terdengar mustahil di telinga kami, para
brandal tahun 80-an. Dan sekarang? Terbukti bahwa sampah plastik telah
menguasai dunia kita, Bud. Prediksi gadis itu benar.
Setelah
bercerita demikian, saya tidak bisa menafsirkan apa yang Sam pikirkan, sebab ia
sepertinya sedang gelisah dalam tidurnya. Hanya karena perdebatan masalah
plastik, suasana hatinya jadi semakin berantakan. Esoknya, Sam kembali ke
kampus dan mengajak Gadis itu berdiskusi kembali sekaligus ingin mengatakan
bahwa teori gadis itu tidak mungkin benar. Sayup-sayup saya dengar Sam berkata
begini: ‘Kamu tidak bisa memakai ilmu mimpimu untuk memprediksikan masa depan,
Dik… itu keliru. Lagi pula, bagaimana mungkin plastik bisa menyebabkan kiamat
bagi manusia sedang kita saja masih dalam proses memproduksi plastik itu
sendiri?’
Gadis
itu terdiam. Lalu bangkit dari duduknya dan berkata pelan ‘Terlepas dari benar
atau tidaknya masa depan yang saya perkirakan, ada baiknya jika Kakak
mempersiapkan diri untuk menyelamatkan masa depan Kakak sendiri.’ Lalu berlalu
meninggalkan Sam.
Kami
menghampiri Sam dan menggodanya karena mengira ia telah ditelak dan ditolak
cintanya. Tapi aku tahu, senyum Sam saat itu adalah senyum yang penuh
beban.
‘Aku
masih penasaran dengan anak itu, Ham.’ Kata Sam kepada saya sewaktu kami di
kosan. Setelah itu, kulihat Sam terkadang murung dan seringkali kegirangan
sendiri membaca sebuah surat yang saya sendiri tidak tahu apa isinya. Sampai
dua tahun setelah kami lulus, Sam mengabarkan kepadaku bahwa ia akan menikahi Gadis
itu setelah bersumpah sedia kepada orang tua Si Gadis untuk tidak memboyong anaknya ke Jawa setelah
mereka menikah. Tentu saja itu bukan syarat yang berat buat Sam. Saya terkejut
bukan main mengingat pertemuan mereka dimulai dari ketidakcocokan pendapat
tetapi berujung pada kisah cinta sejati. Saya terkadang tertawa mengenang bahwa
bisa jadi jodoh kita adalah orang yang awalnya paling kita benci.
Gadis
itu bernama Rasimah Kasih Aminuddin, tapi Sam lebih senang memanggilnya Kasih.
Kasih adalah gadis yang berasal dari pedalaman pulau Sumatera, tapi pernikahan
di akhir tahun 80-an itu diadakan di rumah Sam di kota Pekalongan. Setelah
menikah, saya dan Sam masih sempat berkirim surat. Sesekali, ia juga meminta
saya untuk berkunjung ke sana.
Lima
tahun setelah pernikahan itu, Sam mengirimkan surat kepada saya dan
memberitahukan bahwa belahan jiwanya, Kasih telah meninggal dunia karena sakit.
Kabar itu sulit untuk saya percaya karena saya yakin, kematian hanya akan
bertandang pada orang-orang tua seperti saya ini, bukan pada manusia-manusia
muda dengan semanagat menggelora seperti Kasih.
Setelah
surat itu, saya tidak pernah mendapatkan surat lagi dari Sam. Saya sangat
terpukul mendengar kabar itu. Apalagi, Kasih meninggal saat masih mengandung
buah cinta mereka. Namun, sebelum sempat saya mengunjungi Sam, saya sudah
keburu sekolah di Belanda. Ketika saya pulang, surat-surat yang dikirimkan Sam
sudah hilang entah kemana, hingga saat ini saya tidak bisa menemukan Sam. Sudah
ada beberapa kali niatan untuk mengunjungi daerah yang dimaksud, namun
lagi-lagi niat itu batal karena banyaknya kesibukan yang datang silih berganti.
Atau mungkin memang usaha saya untuk menemukannya kurang besar. Saya sangat
menyesal dan merindukan laki-laki itu.” Prof. hamid terdiam lau menghela nafas
dengan berat. Seperti ada sesak yang dalam.
Aku kini mulai memahami hal-hal dari Sambadri
yang sebelumnya tidak kupahami.
Prof.
Hamid kemudian memaksaku untuk mengantarkannya ke rumah Sambadri pekan ini
juga. Bahkan, ia yang akan membiayai transportasiku. Karena terpana oleh cerita
Prof. Hamid, tanpa ba-bi-bu, aku langsung setuju. Sebelum kami berangkat, aku
juga meminta Ayahku untuk mencari tahu rumah adik ipar Sambadri. Sore itu, kami
berangkat ke bandara. Di sepanjang perjalanan, kulihat mata tajam Prof. Hamid
menerawang jauh ke luar jendela, seakan ada sebuah tempat bernama masa lalu di
antara bumbungan awan itu. Beliau juga bercerita bahwa topik yang menyebabkan pertarungan
antara gagasan Sam dan istrinyalah yang telah menjadi ide brilian dan mengantarkan
penelitian Prof. Hamid sampai beliau berhasil menjadi seorang profesor.
Setelah
6 jam perjalanan lewat darat dan udara, kami sampai di rumahku pada pukul 2
dini hari. Keluargaku menyambut hangat kedatangan Prof. Hamid dan sudah
mempersiapkan kamar untuk menginap. Keesokan paginya, setelah subuh, seperti
tak kenal lelah akan jauhnya perjalanan, beliau memaksaku untuk segera
mengantarkannya ke rumah dimana Sambadri kini berada. Aku, Prof. Hamid, dan
ayahku buru-buru ke rumah si keponakan yang ternyata cukup jauh dari desaku,
sekitar dua jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Besar harapanku dan
harapan Prof. Hamid bahwa Sambadri masih hidup dengan sehat.
Ternyata
rumah itu terletak di daerah yang jauh dari keramaian dekat dengan kebun karet
dan kebun sawit yang luas. Itu adalah rumah yang cukup besar, menghadap jalan
lintas Sumatera dengan tembok di cat putih dan atap yang tinggi. Di samping
rumah itu terdapat gubuk kecil berdinding batu kokoh dan memiliki jendela besar
dengan jeruji kecil didalamnya. Gubuk kecil itu dipagari bunga aster dan
marigold yang tumbuh tinggi warna-warni. Ada juga dua bangku panjang dengan
tumpukan karung berisi sampah yang disandarkan pada tempat duduk kayu tersebut.
Aku yakin, di sanalah tempat yang ditinggali Sambadri.
Seorang
laki-laki muda berumur 40-an tahun keluar dari rumah dan menyambut kedatangan
kami dengan hangat. Ia tersenyum ramah dan mempersilahkan kami masuk. Ternyata
laki-laki ini adalah adik kandung Kasih, istri Sambadri. Namanya Pak
Pian.
Prof.
hamid menanyakan banyak hal kepada Pak Pian mengenai Sambadri.
“Ketika
warga desa meminta Kak Sam agar dikurung, saya sebenarnya tidak tega, Pak.
Tapi, saya juga takut jika hal-hal buruk akan terjadi. Maka, saya buatkan rumah
kecil di samping situ. Karena takut Kak Sam akan tertekan dan mentalnya sakit
lebih parah, maka saya sering mengajak kak Sam mengobrol bersama. Dan bersyukur
sekali Pak, meski proses itu lama, tapi lambat laun saya bisa kembali melihat
cahaya di mata kak Sam, ia bisa kembali menjalani hidup dengan normal, meski
kadang-kadang juga sempat linglung.”
Kami
bertiga menghela nafas lega. Aku bersyukur karena Pak Pian adalah seorang
psikolog yang menamatkan studi masternya di luar negeri, ia bisa mengerti
dengan pasti keadaan kakak iparnya dan memperlakukannya dengan baik.
“Sebenarnya,
sudah sebulan lalu Kak Sam sakit sampai sulit meninggalkan tempat tidur Pak.
Biasanya kalau sehat dia setiap pagi jalan-jalan ke sekitar perumahan mencari
sampah, lalu pulang untuk sarapan. Siangnya Kak Sam mengolah sampah-sampah itu
atau membakarnya di bak belakang rumah. Kemarin malah Kak Sam sudah sangat
panas badannya sampai tidak sadarkan diri. Tapi alhamdulillah sepertinya
hari ini beliau sudah baikan lagi Pak, sudah bisa jalan-jalan. Padahal tadi
sudah saya suruh istirahat saja. Sudah berkali-kali saya minta Kak Sam dirawat
atau tinggal di rumah, tapi selalu menolak dan bersikeras tinggal di gubuk
Pak.”
Kelegaan
kembali mengisi rongga dada kami begitu mengetahui Sambadri sudah sehat lagi.
Ketika
sedang asyik mengobrol, terdengar suara langkah kaki yang berat di depan pintu.
Kami menoleh, dan Sambadri muncul di depan pintu dengan penampilan yang kini
rapi. Ia memakai kaos merah berkerah dan celana pendek hitam selutut. Rambut
putihnya dipotong cepak dan wajah yang dulu kukenal kusam, kini cerah dan
bersih meski kulihat bibirnya agak pucat. Beberapa gigi geraham dan dua gigi
taringnya sudah tanggal dan kerutan di wajahnya menegaskan bahwa waktu telah
menggerus usianya.
Sambadri
benar-benar berbeda!Aku sungguh terpana dengan Sambadri yang ini! Sungguh tidak
percaya dengan apa yang sedang kulihat.
“Kok
rame, ada tamu ya…” Kata Sambadri dengan suara pelan. Prof. Hamid segera
bangkit dari kursinya dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Sam…”
bisik Prof. Hamid pelan.
Sambadri
mengangkat kepalanya, seolah sudah kenal lama dengan suara yang memanggilnya
pelan. Prof. Hamid menangis, lalu menghambur ke pelukan Sambadri yang sedang
membawa sampah di keranjang yang ia pegang.
“Kau
kah itu Ham?” tanya Sambadri. Keranjang sampahnya lepas dan ia menepuk bahu
Prof. Hamid yang lebih tinggi darinya berkali-kali. Di hadapan Prof. Hamid,
sambadri terlihat bahagia. Namun, ia di matanya juga terlihat kesedihan dan
kepedihan yang mendalam.
“Kawan
se-kakusku sudah jadi profesor ya.” Prof. Hamid tertawa. Sambadri mengajaknya
duduk di kursi depan teras gubuknya. Mereka terlihat bahagia melepaskan rindu
yang membelenggu selama lebih dari dua dekade tak bertemu. Aku dan ayah kembali
melanjutkan obrolan dengan Pak Pian sembari membiarkan kedua sahabat itu
bersua. Namun, pandanganku tetap tak bisa teralihkan dari luar jendela
menyaksikan dua lelaki baya berbincang dengan penuh sukacita seakan-akan mereka
tak punya hari esok lagi.
Setelah
beberapa saat berbincang, Prof. Hamid melambaikan tangannya padaku, memintaku
untuk ikut bergabung. Aku menghampiri mereka dengan suka cita yang sama. Prof.
Hamid lalu menceritakan kepada Sambadri bahwa karena akulah ia bisa datang
kemari dan menemui sahabatnya.
Tanpa
kuduga, Prof. Hamid mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya pada
Sambadri. Itu adalah foto yang kulihat di ruang tengah beliau. Sambadri meraih
foto itu dengan gemetar. Ia menangis seperti anak kecil begitu mengetahui bahwa
foto pernikahannya dengan Kasih masih ada. Ia meraba wajah Kasih di foto sambil
terisak, lalu mendekap foto itu dalam pelukannya.
Kawan,
ini baru pertama kali dalam hidupku melihat sambadri menangis seperti manusia
normal. Setelah tangis Sambadri mereda, Ia menatap langit dan bercerita…
“Dari
kecil aku tinggal bersama bapakku karena Ibu meninggal kena tipes sewaktu aku
masih bayi. Bapak kemudian menyusul ibu tepat setelah aku lulus SD. Sejak saat
itu, aku dirawat oleh Bibi dan paman. Aku bersyukur karena Bibi dan paman bisa
menyekolahkan aku sampai kuliah, meskipun sebenarnya aku tidak mau
sekolah. Mau jadi kuli bangunan saja. Heh.”
Sambadri
terkekeh, aku hampir tak percaya jika Sambadri adalah orang Pekalongan sebab
logat Pekalongannya hampir tak tersisa. Bahkan, gaya bicara dan bahasa yang ia
gunakan terdengar seperti seorang penyair melayu.
“Tapi
aku tak tahu bagaimana nasib akan memperlakukanku kalau saja aku tidak jadi
kuliah. Hal terbesar yang kusyukuri dalam hidup adalah pertemuanku dengan
Kasih. Tahukah kau Ham? Kasih memiliki firasat mimpi yang tajam, kata orang
jawa Jeru batine. Meski pada awalnya logikaku menyangkal hal itu, mata
dan hatiku tak dapat menyangkal kenyataan yang kulihat tatkala aku menghabiskan
separuh hidup dengan Kasih. Mimpi-mimpi Kasih, semangat dan keceriaannya telah
mengubah hidupku yang tadinya hampa dan datar-datar saja. Keunikan gagasan dan
obsesi serta kepercayaan diri yang ia miliki membuatku jatuh hati.
Setelah
menikah, dan tinggal bersama di tempat tinggalnya, aku bertekad untuk melakukan
apapun demi kebahagiannya. Orang tuanya adalah keluarga terpandang. Mereka juga
memberi kami warisan berupa tanah dan rumah di dekat bukit. Hidup kami bahagia
dalam kedamaian alam. Setiap pagi, sebelum berangkat mengajar dan aku berangkat
kerja di kantor camat, kami berjalan mengelilingi desa untuk mmeunguti
sampah-sampah plastik yang berserakan. Kasih punya cita-cita untuk mendirikan
kawasan bebas plastik. Maka meski para tetangga terkadang melihat kami sebagai
sepasang suami istri yang aneh, Kasih tak peduli. Ia justru dengan
keceriaannya, mengajak orang lain untuk ikut bergerak bersama.
Sudah
empat tahun pernikahan, tapi kami belum dikaruniai keturunan. Sampai suatu hari
di musim kemarau bulan Juli, Kasih muntah-muntah dan perutnya mual. Aku segera
membawanya ke bidan terdekat. Ternyata Kasih hamil. Kami senang bukan
kepalang.
Aku
mengerti bahwa wanita hamil suka meminta hal yang aneh-aneh. Keesokan harinya,
pada hari minggu, Kasih bersikeras untuk ikut denganku ke kebun singkong dekat
sungai di seberang persawahan. Awalnya aku melarang, tapi ia tetap nekat mau
ikut.
Kebun
singkong kami dan persawahan dipisah oleh sungai kecil yang mengalir dari muara
sungai Komering. Ketika aku sedang asik membersihkan ladang, Kasih duduk dan
mengayunkan kedua kakinya diatas sungai yang jernih. Ia sangat menikmati
saat-saat itu.
‘Kak,
semalam aku bermimpi indah.’ Katanya dengan bersemangat.
‘Mimpi
apo kau Dik?’ Tanyaku memperhatikannya sekilas.
‘Aku
bermimpi anak kita sudah lahir, jenis kelaminnya perempuan. Ia cantik niaan.
Kulitnya seputih madu dengan bola mata hitam jernih memesona. Lalu ia
mengajakku bermain di sebuah taman dengan buah-buahan yang lebat tergantung
rendah di pohonnya, sampai aku bisa meraihnya sambil duduk.’ Aku tersenyum dan
menyangka bahwa mimpi itu hanyalah akibat yang ditimbulkan dari kebahagiaannya
setelah mengetahui ia hamil. Ia lalu bergumam sendiri memikirkan nama yang
cocok buat anak kita nanti. Aku menimpalinya dengan tertawa. Hari-hariku
bersama Kasih terasa cerah tapi menyejukkan.
Kasih
lalu melihat sampah plastik yang timbul tenggelam di permukaan sungai dan
melompat untuk mengambilnya. Ia tersenyum dan menunjukkan sampah plastik itu
kepadaku. Ia lalu menyusuri sugai yang tingginya selutut itu untuk mencari
sampah lain. Saat itulah, Kasih merasa sakit dan perih di kakinya. Aku
buru-buru meraih tangannya dan membantunya keluar dari sungai. Darah berceceran
di rumput. Saat kulihat ternyata kaki asih terluka tertusuk kaleng susu di
permukaan sungai ketika ia melompat tadi.
Ia
merintih kesakitan, tapi tetap bersikap ceria seperti biasanya. Kubawa ia
pulang dan ku obati lukanya dengan obat merah lalu menutupnya dengan perban.
Kukira itu adalah luka biasa, jadi aku ndak terpikirkan untuk membawa Kasih ke
bidan atau rumah sakit. Tiga hari setelahnya, Kasih demam dan kakinya
membengkak. Ternyata lukanya cukup dalam dan baru kuketahui masih ada serpihan
kaleng tertinggal di sana, andai aku tahu hal itu lebih awal…
Aku
lalu memanggil bidan setempat dan ia hanya memberikan obat serta tetes luka.
Setelah beberapa hari, Kasih tak kunjung pulih. Denganpanik, aku membawanya ke
Puskesmas. Tapi, tetap tidak ada perubahan. Bahkan, badannya mulai kejang-kejang.
Maka segera kukabari orang tua Kasih. Mereka lalu berinisiatif membawanya ke
rumah sakit di Palembang. ‘Aku baik-baik saja Kak… jangan khawatir.’ Kata
Kasih saat aku menggenggam tangannya. Ia masih saja berpura-pura tegar.
Setelah
lima hari dirawat, dokter berkata bahwa Kasih terkena tetanus dan pengobatannya
sudah terlambat. Tubuhnya semakin melemah, tapi aku terus berharap. Aku yakin
ia pasti bisa pulih seperti semula.
‘Kak,
tolong bantu aku selamatkan masa depan bumi ya… masa depan anak manusia.’ Katanya
pada malam yang tenang saat aku duduk disisi ranjangnya. Aku tidak menjawab,
hanya tersenyum dan menggenggam tangannya lebih erat lagi. Padahal Ham, saat
itu aku ingin menangis, meronta-ronta dalam genggaman jemarinya. Tetapi semua
itu kutahan supaya dia tidak ikut sedih.
Rupanya,
sakit Kasih terlalu berat untuk dokter-dokter dan peralatan medis pada saat
itu. Dan dalam keringnya kemarau, Kasih meninggalkanku untuk selamanya. Hujan
ikut mengantarkan kepergian Kasih seolah
enggan taat pada musim dan takdir yang telah ditentukan Sang Pencipta.”
Sambadri
berhenti bercerita, tapi air matanya tak berhenti mengalir. Semua laki-laki di
tempat itu menitikkan air mata, meski buru-buru menyekaya sebelum ketahuan
laki-laki yang lain.
“Setiap
hari aku merindukan istriku Ham… setiap hari semenjak aku pertama kali
melihatnya. Setiap hari aku datang ke pusaranya tapi hal itu semakin terasa
menyakitkan. Maka, rasa rindu yang hampa membuatku gila dan murka. Setiap hari
setelah kepergiannya, aku membenci sampah! Aku membenci diriku sendiri! Aku
membenci orang-orang yang membuang sampah sembarangan! Sampah telah membunuh
istriku Ham!…” Sambadri tersedu sedan.
Aku
tahu sebenarnya Sambadri berusaha tegar, tapi semakin ia berusaha tegar, aku
semakin pilu melihat lelaki tua itu. Ia menarik nafas panjang dan
menghembuskannya pelan.
“Terimakasih
telah sedikit mengobati rinduku, Ham… sudah berkali-kali aku mencari foto
istriku yang tersisa, namun semuanya telah rusak.” Katanya sambil menepuk paha
Prof. Hamid.
Aku tertegun, mengkontemplasikan takdir mantan orang
gila yang terdengar aneh ini. Sambadri berkata ia baru menyadari mimpi yang
diceritakan istrinya adalah sebuah gambaran dimana Kasih sedang berada di surga
bersama anak mereka yang masih berupa segumpal darah.
Sambadri
kemudian memaksakan diri untuk tersenyum lebar, ia lalu mengangkat wajah
keriputnya dan berkata: “Hanya kamu sendiri yang bisa menyelamatkan masa
depanmu Dik, hidupmu masih dipenuhi gelora semangat dan cinta.”
Aku
menoleh dan mengangguk ketika sambadri mengucapkan kalimat ini dan menatapku.
Sambadri menepuk pundakku dengan bangga, seakan berterimakasih karena telah
menghadirkan sesuatu yang selalu dan amat ia rindukan.
Saat
kami berpamitan pulang, Prof. Hamid meminta untuk diizinkan tinggal semalam
bersama Sambadri di gubuk mungilnya. Pak Pian setuju, meminta mereka untuk
tinggal di dalam rumah, tetapi Sambadri dan Prof. Hamid menolak dengan alasan
ingin mendapatkan privasi. Pak Pian tak bisa menghalangi keinginan dua sahabat
itu.
Aku kembali ke rumah bersama ayahku dengan perasaan
lega yang tak bisa dilukiskan. Ini adalah momen terindah dan paling penting
yang pernah kualami. Aku tersenyum pahit mengingat cinta bisa membuat hidup
seseorang menjadi lebih bermakna, namun kehilangannya juga benar-benar membuat
seseorang hilang akal dan gila.
Pagi harinya, ketika terik matahari musim kemarai
sedang bersiap menyapa dunia, Prof. Hamid meneleponku dan menangis
tersedu-sedu, mengabarkan bahwa Sambadri telah meninggalkan dunia untuk
selama-lamanya. Berita ini seperti gemuruh petir di hari yang cerah. Sungguh,
aku dan ayahku tidak bisa mempercayainya! Baru saja kemarin kami bertemu, Sambadri
terlihat sehat dan bahagia! Ada apa sebenarnya dengan perputaran dunia?! Aku
limbung, tak sanggup mencerna berita
yang Prof. Hamid bawa.
Aku
dan ayahku segera tancap gas. Sepanjang
perjalanan aku tertegun, dadaku terasa sesak, telingaku berdengung. Baru saja
aku mengagumi laki-laki itu, baru saja aku melihat hal-hal baik darinya,
tapi ia sudah keburu dipanggil Yang Mahakuasa. Sesampainya di sana, tubuh
tua Sambadri telah dingin dan ia berbaring dengan khidmat menghadap
Tuhannya.
Prof.
Hamid bercerita pada jam 4 dini hari, beliau membangunkan Pak Pian karena
Sambadri sepertinya sedang mengalami sakaratul maut. Ia berkali kali merintih,
memanggil nama Kasih dan memeluk foto pernikahan mereka erat-erat. Tubunya
panas dan tak henti mengeluarkan keringat. Sambadri menarik nafas panjang
sebelum akhirnya terkulai di atas dipannya dengan wajah yang penuh
kelegaan.
Kawan, hatiku perih seperti ditikam belati. Sambadri
sang penyelamat bumi, tidak punya kuasa untuk menyelamatkan cinta dan masa
depannya sendiri.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







