SANTRI SERBA BISA

https://id.pinterest.com/pin/52424783148314107/

Oleh: Hariski Romadona

Perkembangan ilmu pengetahauan dan
teknologi yang demikian pesat di era globalisasi tentunya akan membawa dampak
terhadap seluruh aspek kehidupan manusia. Dimana semua serba cepat, praktis dan
instan. Dengan perkembangan zaman tersebut, kita dituntut untuk serba bisa dan
tahu akan banyak hal. Kita harus bisa mengikuti atau kita akan disebut dengan
manusia kolot (Ketinggalan zaman). Dan Hampir disemua sektor sudah
mengakami perkembanganya masing-masing.

Begitu pula lembaga pondok pesantren,
kini telah memasukkan pelajaran umum dan pelatihan-pelatihan untuk para santri.
Mereka dilatih untuk dipersiapkan mengahadapi perkembangan zaman yang semakin
maju di masa depan. Dengan begitu, para santri jadi punya skill khusus
di bidangnya masing masing. Mereka jadi akan punya bekal untuk terjun di
masyarakat kelak dan siap bersaing dengan lulusan sekolah umum.

Masyarakat
menyebut anak yang selesai nyantri di pondok pesantren (santri) sebagai
sosok manusia serba bisa. Santri akan dituntut sebagai manusia multitalent. Terutama
dalam masalah keagamaan, misalnya; ceramah, mimpin tahlil, imam sholat rawatib,
harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar keagamaan, dan banyak lagi
yang harus bisa dilakukan oleh seorang santri terkait dengan sosial keagamaan.

Dan
anehnya terkadang seorang santri itu disuruh untuk menyembukan orang sakit.
Padahal di pondok tidak diajarkan ilmu kedokteran. Santri pun akan malu kalau
tidak mencoba menyembuhkan. Biasanya santri cukup dengan mengambil segelas air
dan di asma’ (didoakan) airya dengan bacaan ayat ahkam dan ijazah dari kyainya.
Atas izin Allah SWT terkadang sembuh, mungkin ini yang dinamakan barokah
ilmunya.

Mengapa
sanri menyandang gelar manusia serba bisa? Hal itu dikarena memang ada santri
yang telah membuktikan bahwa santri itu serba bisa. Sebut saja KH. Abdurrahman
Wahid atau lebih sering disebut Gus Dur. Beliau adalah Santri tulen yang
dari kecil sudah hidup di lingkungan pesantren, karena ayah beliau adalah KH.
Wahid Hasyim yang menjadi menteri agama Indonesia pertama dan cucu dari
Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pendiri Pesantren Tebuireng dan NU (Nadlatul
Ulama’).

Gus Dur
lah mungkin yang saat ini menjadi kiblat para santri milenial. Beliau pernah
menjabat sebagai ketua umum PBNU dan merupakan pendiri salah satu partai
politik yakni PKB serta beliau pernah menjabat sebagai orang nomor satu di
Indonesia yakni menjadi Presiden ke -4 RI. Memang Gus Dur tidak hanya seorang
‘alim dalam agama saja, namun beliau juga seorang politikus. Beliau juga seorang
sosialis dan sangat menghormati perbedaan. Sampai-sampai di batu nisan makam
beliau bertuliskan “ Di Sini Berbaring Pejuang Kemanusiaan

Ada
juga KH. Musthofa Bisri, seorang Ulama’ juga sekaligus seorang satrawan. Beliau
adalah pengasuh PP. Roudlotul Tholibin Rembang menggantikan ayahnya KH. Bisri
Musthofa. Beliau selain menjadi seorang Ulama’ beliau aktif membuat puisi, syair-syair
dan melukis. Puisi-puisi beliau sudah banyak terkenal di kalangan masyarakat
Indonesia, semisal Negeri Haha Hihi.

Kedua
sosok tersebut merupakan contoh dari sekian banyak kalangan santri yang
berhasil membuktikan bahwa santri adalah manusia serba bisa. Maka dari itu
sebagai santri milenial harus bisa mengikuti jejak pendahulunya. Santri harus
bersungguh-sungguh dalam belajar di pondok maupun di manapun. Karena yang
dinamakan santri bukan hanya yang mondok saja. Gus Mus pernah ngendikan
(berbicara) “ Santri bukan hanya yang mondok saja, tetapi siapa yang beraklak
santri, maka ia disebut Santri ”.

Santri
milenial tidak boleh minder dengan anak anak yang seolah di umum. Kalau kita
belajar dengan sungguh sungguh maka kita akan bisa menyamainya bahkan kita bisa
lebih unggul. Santri sekarang harus bisa kreatif, maksudnya yaitu selain
mengaji kita juga harus mengasah bakat yang kita miliki. Misalnya yang bakat
menyanyi, dilatih suaranya agar tambah bagus. Mungkin bisa nantinya bikin
konten youtube cover sholawat, viewernya banyak dan dapat uang. Begitu juga
yang bakat ceramah, dilatih retorikanya, cara agar tidak nervous. Siapa
tahu nanti bisa menjadi mubaligh terkenal seperti KH. Zainuddin MZ.

Semua
santri sebenarnya mempunyai bakat masing – masing. Tinggal pada diri sendiri
mau mengasah atau tidak. Seperti pisau yang tiap hari diasah maka akan tajam.
Maka dari itu kita harus meningkatkan semangat belajar dan mengembangkan bakat
yang dimiliki. Tapi ingat selain usaha kita harus berdoa. Istilahnya adanya
usaha horizontal dan vertikal, horizontal itu hubungan dengan manusia (
berguru, belajar dan berlatih) dan vertikal itu hubungan dengan Allah. Usaha
tanpa doa itu sombong dan doa tanpa usaha itu bohong.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp